Misteri Di Balik Banjir Batang Tampo
Gerimis tipis membungkus Taruko, Nagari Taluak. Malam itu, udara terasa sangat pekat. Sutan berdiri di tepi Sungai Batang Tampo, menatap air yang berhulu di Gunung Sago. Warnanya sudah berubah menjadi cokelat pekat, bergulung-gulung membawa ranting mati.
"Jangan terlalu dekat ke tebing itu, Sutan,"
sesosok suara parau mengejutkannya.
Mak Buyung, sesepuh kampung, berdiri di sampingnya.
Matanya yang rabun menatap lurus ke arah kegelapan hulu sungai.
"Airnya naik cepat sekali, Mak," jawab Sutan cemas.
"Hujan di atas pasti deras sekali."
Mak Buyung menggeleng perlahan, mempererat pegangan pada
tongkat kayu ruyung miliknya. "Ini bukan hujan biasa. Batang Tampo ini sedang
menagih janji. Saudara kita sudah lupa dengan pantangan sungai ini."
Sutan mengernyitkan dahi. "Pantangan air dengan
berbuat kejahatan, Mak? Bukankah itu hanya cerita lama untuk menakut-nakuti
pedagang kayu?"
"Sutan," suara Mak Buyung merendah, berat dan
bergetar. "Hulu Sago itu bukan punya kita. Di situ tempat bermukimnya
Umang-Umang, si panjaga rimba. Sebelu negeri ini ada, sudah ada sumpah: selama
batang kayu di hulu tidak ditebang, salama itu pula air memberi kehidupan….”
Tiba-tiba, percakapan mereka terputus. Di antara deru
air, terdengar suara asing. Tok... tok... tok... Bunyi ketukan ritmis yang
konstan mendengung dari arah hulu, menggetarkan dada. Bersamaan dengan itu,
aroma anyir darah yang pekat menusuk hidung, mengalahkan bau tanah basah.
"Astagfirullah... itu tanda-tandanya," bisik
Mak Buyung, wajah tuanya mendadak pucat pasi. "Dia sudah jelas berjalan
turun! Sutan, kembalilah ke rumah! Panggil semua orang, pecahkan tongtong! Lari
ke tempat yang lebih tinggi, jauhi Air Batang Tampo!"
Sutan berlari membelah kegelapan menuju rumahnya di
bantaran sungai. Di dalam rumah, sang ibu sedang panik mengemas barang ke dalam
tas plastik.
"Ibu! Cepat, Ibu! Kita mesti naik ke tempat yang
lebih tinggi sekarang juga!" teriak Sutan terengah-engah.
"Ada apa, Sutan? Mengapa harus seperti itu?" tanya
Ibunya dengan tangan gemetar.
"Batang Tampo akan mengamuk, Ibu! Mak Buyung barusan
mangatakannya, Umang-Umang hulu Sago sedang turun!"
Ibunya langsung lemas, terduduk di lantai kayu. "Ya
Allah... sumpah itu terjadi sebelum hutang lunas. Tebang kayu, tebang nyawa..."
Tepat pukul sebelas malam, listrik padam total. Kegelapan
pekat menyelimuti Taruko. Suara ketukan misterius dari sungai mendadak
berhenti. Keheningan mencekam itu pecah seketika oleh suara gemuruh dahsyat
dari arah gunung. Suaranya menyerupai rontokan ribuan batu raksasa bercampur
raungan gaib yang memekakkan telinga.
"Galodo! Galodo! Naik ke bukit!" teriakan warga
bersahutan di luar, beradu dengan suara histeris anak-anak.
Sutan menyentak tangan ibunya, memaksa perempuan tua itu
berdiri dan berlari keluar. Di luar rumah, air setinggi lutut berkepang lumpur
sudah mengalir deras menghantam kaki-kaki rumah panggung.
Saat Sutan menoleh ke arah aliran Batang Tampo,
jantungnya seakan berhenti berdetak. Di atas gelombang air hitam yang membawa
material kayu-kayu gelondongan besar, ia melihat sesosok bayangan hitam legam
setinggi pohon kelapa. Wujudnya menyerupai manusia purba berbulu lebat, namun
wajahnya rata dengan sepasang mata merah menyala sebesar talam. Tangan kirinya
yang panjang menjuntai ke air, menyeret sisa-sisa akar pohon beringin raksasa
yang tercabut dari hulu.
Setiap kali makhluk itu menghentak kakinya ke dasar
sungai, gelombang air setinggi rumah melompat ke daratan, menghantam dan
melumatkan apa saja. Sutan menyaksikan rumah kayu tetangganya hancur
berkeping-keping dalam sekali hantaman arus yang dibawa makhluk tersebut.
Dengan sisa tenaga, Sutan membimbing ibunya mendaki jalan
setapak perbukitan yang terjal. Di belakang mereka, separuh dari Nagari Taluak
tenggelam dalam lautan lumpur hitam yang pekat.
Esok paginya, kabut tipis menyelimuti kehancuran Taruko.
Sutan turun ke area jembatan yang telah putus total untuk mencari kabar. Di
antara hamparan lumpur dan puing bangunan, ia tertegun.
Ia menemukan tongkat kayu ruyung milik Mak Buyung
tertancap kokoh di tengah bekas aliran air. Di ujung tongkat itu, terikat
sehelai kain sarung usang milik sang sesepuh yang berlumuran darah segar. Mak
Buyung sendiri tidak pernah ditemukan, jasadnya menyatu dengan bumi yang ia
bela.
Kini, setiap kali awan hitam
menggantung di puncak Gunung Sago dan hujan mulai membasahi Taluak, warga
Taruko tidak lagi bisa tidur nyenyak. Mereka semua terdiam di dalam rumah,
memasang telinga dengan cemas, takut jika suara tok... tok... tok... dari dasar
Batang Tampo kembali terdengar menagih sisa utang perusakan alam yang belum
lunas. *** Tamat (Cerita
Pendek ini hanya fiktif belaka!)

Posting Komentar untuk "Misteri Di Balik Banjir Batang Tampo"