Di
atas meja makan dapur, sebuah jam weker tua menunjukkan pukul 16:45. Pak Ardi
sedang mengikat sebuah koper tua dengan tali rafia agar tidak terbuka.
Bu Ardi berdiri di ruang tengah dengan tangan bersedekap.
Wajahnya dingin. Di sudut lain, Sari dan Reza tertunduk lesu, air mata mengalir
di pipi Sari, tapi tak satu pun berani bicara.
"Sudah semua? Jangan sampai ada barang ibuku yang
kamu bawa keluar dari sini." bentak bu Ardi dengan nada tajam.
Pak Ardi menoleh pelan, tersenyum tipis. Tidak ada amarah
di wajahnya.
"Hanya baju lama dan beberapa buku, Bu. Tidak ada
yang berharga."
"Ingat, jam lima tepat. Lewat dari itu, koper ini
saya lempar ke parit."
Pak Ardi melihat kalender di dinding ruang makan yang
dilingkari merah: 5 Mei. Hari ini!
Langit berwarna jingga pekat. Pak Ardi mengangkat
kopernya. Sari melangkah maju, ingin memeluk ayahnya, namun tatapan tajam
ibunya menghentikan langkahnya.
"Jaga diri kalian. Ayah tidak jauh. Ayah hanya
ingin… bernapas sebentar." Pak Ardi berbisik kecil pada anak-anaknya.
Tepat saat lonceng jam di ruang tamu berdentang lima
kali, Pak Ardi keluar rumah melewati pintu dapur.
Tiba-tiba Sari (17) berlari mengejar, memegang lengan
jaket ayahnya yang sudah kusam. Reza (14) mengikuti di belakang, matanya merah
menahan tangis. Di ambang pintu dapur, Bu Ardi masih mengawasi seperti sipir
penjara.
"Yah... kenapa harus sekarang? Ini tanggal lima,
hari ulang tahun Sari, Yah. Kenapa Ibu setega ini?" suara sari agak
bergetar.
Pak Ardi berhenti, ia berlutut agar sejajar dengan tinggi
anaknya. Ia mengusap tetesan air mata di pipi Sari dengan ibu jarinya yang
kasar.
"Sari, ingat apa yang Ayah ajarkan tentang angka
lima? Itu simbol keseimbangan. Mungkin hari ini, Tuhan mau Ayah mencari
keseimbangan itu. Bukan karena Ibu tega, tapi karena Ayah sudah selesai belajar
di sini."
"Tapi Ayah mau tidur di mana? Di sekolah tempat Ayah
Mengajar? Itu kan hanya bangunan ruang kelas yang kosong dan tidak terpakai,
Yah. Banyak debu, tidak ada kasur..."
Pak Ardi beralih menatap Reza, menepuk bahu putranya itu
dengan kuat, sebuah tepukan yang meminta Reza untuk menjadi laki-laki yang
tangguh.
"Reza, rumah itu bukan tentang kasur yang empuk atau
lantai marmer. Rumah itu di mana hati kita merasa tenang. Di sana... Ayah akan
punya 'istana' paling tenang di dunia. Kalian jangan sedih. Kalian tahu kan,
setiap sore jam lima, Ayah selalu sesak napas di dalam rumah ini?"
Sari dan Reza terdiam. Mereka sering melihat ayah mereka
hanya menunduk saat dimaki, atau duduk melamun di teras belakang untuk
menghindari pertengkaran.
"Sekarang, napas Ayah sudah mulai terasa ringan.
Jaga Ibu kalian. Jangan lawan dia dengan amarah, lawanlah dengan kesabaran,
seperti yang Ayah lakukan selama ini."
Namun tiba-tiba terdengar teriakan.
"Ardi! Kurang dua menit lagi! Cepat pergi!"
Pak Ardi berdiri, mengecup kening kedua anaknya
bergantian.
"Pergilah masuk. Jangan lihat Ayah sampai pagar
tertutup. Anggap saja Ayah sedang pergi piknik ke tempat yang sangat
damai." Ujar Pak Ardi menghibur.
Pak Ardi membalikkan badan. Langkahnya mantap menuju
motor butut yang diparkir di depan rumah. Tepat saat jarum jam menunjuk angka
17:00, ia menyalakan motor dan pergi tanpa menoleh ke belakang.
Bunyi yang meletup-letup dari knalpot motor menandakan
akhir dari masa baktinya di rumah yang tak pernah menganggapnya ada.
*****
Debu halus beterbangan di antara sisa-sisa cahaya
matahari yang masuk lewat jendela yang pecah sebagian. Pak Ardi meletakkan
kopernya di atas meja guru yang kusam.
Ia duduk di kursi kayu yang berderit. Sunyi. Hanya suara
jangkrik mulai bersahutan. Pak Ardi menarik napas panjang, napas paling dalam
yang pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.
"Tanggal lima, bulan lima, jam lima… Akhirnya."
ujar pak Ardi pada diri sendiri, pelan.
Ia tidak menangis. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat.
Ia memandangi papan tulis yang kosong. Baginya, papan tulis itu bukan simbol
kemiskinan, melainkan lembaran baru yang bersih.
Beban di pundaknya yang selama ini terasa berat karena
cacian mertua dan dominasi istrinya, seolah luruh bersama debu di ruangan itu.
Ruang kelas yang dingin dan kosong ini, entah bagaimana, terasa lebih hangat
daripada rumah megah yang baru saja ia tinggalkan.
"Malam ini, aku bisa tidur tanpa harus takut salah
bicara."
Ia merebahkan kepalanya di atas meja, menatap senja yang
perlahan hilang, merasa sangat lega. Merasa bebas.
*****
Malam jatuh dengan cepat. Pak Ardi menyalakan sebuah
lilin kecil yang ia letakkan di atas tutup kaleng biskuit bekas. Cahayanya
bergoyang, menciptakan bayangan panjang di papan tulis yang penuh coretan kapur
samar dari masa lalu.
Pak Ardi menggelar selembar kain sarung di atas lantai
semen yang dingin. Ia mengeluarkan sebuah roti bungkus dan botol air mineral
dari tasnya.
Pak Ardi tersenyum kecil
"Menu makan malam paling mewah dalam sepuluh tahun
terakhir."
Ia mengunyah rotinya perlahan. Tidak ada suara teriakan
yang menyuruhnya mencuci piring, tidak ada sindiran tentang penghasilannya yang
kecil, dan tidak ada pandangan merendahkan dari mertua. Hanya ada suara angin
yang masuk melalui celah ventilasi.
Tiba-tiba, ponsel tuanya bergetar. Sebuah pesan singkat
masuk dari Sari.
"Yah, Ibu mengunci diri di kamar. Rumah terasa
sangat sepi tanpa suara langkah Ayah. Sari sudah simpan makanan di tas Reza,
besok pagi sebelum sekolah kami akan mampir ke sana. Ayah baik-baik saja
kan?"
Pak Ardi mengetik balasan dengan jari yang sedikit
gemetar, bukan karena sedih, tapi karena rasa haru yang asing.
Pak Ardi mengetik
"Ayah baik-baik saja, Nak. Ayah sedang melihat
bintang dari jendela kelas. Tidurlah, besok kalian harus sekolah. Di sini... Ayah
akhirnya bisa mendengar suara hati Ayah sendiri."
Ia meletakkan ponselnya. Pak Ardi berbaring dengan
berbantalkan koper tuanya. Lantai semen itu keras dan dingin, namun bagi Pak
Ardi, itu jauh lebih nyaman daripada tempat tidur empuk di rumah istrinya yang
terasa seperti bara api.
Ia menatap langit-langit ruang kelas. Matanya perlahan terpejam. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Pak Ardi tidak perlu minum obat tidur. Di ruang kelas yang tak terpakai itu, di malam tanggal 5 bulan 5, ia menemukan kembali kemerdekaannya. ***
