Matahari
siang menembus kaca jendela yang berdebu. Pak Toro sedang
berdiri di depan papan tulis yang penuh dengan rumus fotosintesis. Ia
memutar-mutar spidol di tangannya, matanya tertuju pada Dewi yang sedang melamun menatap pohon kamboja di
luar.
"Dewi... Dwi Purnomo? Kamu sedang melakukan proses
fotosintesis juga ya? Kok diam saja dari tadi?" ujar Pak Toro dengan nada
menggoda.
Teman-teman sekelas bersorak "Cieee!" riuh.
Dewi tersentak, wajahnya tidak memerah, hanya ada sedikit kerutan di dahi
karena terganggu.
"Ayo, maju. Bapak ingin tahu, apakah otak kamu
sedang di-reboot atau memang kabelnya ada yang putus. Tuliskan urutan reaksi
terang di sini." suruh pak Toro tegas.
Dewi berdiri tanpa suara. Saat ia maju ke depan, Pak Toro
sengaja bergeser sedikit lebih dekat dari biasanya. Ia mencium aroma sabun cuci
batangan yang murah dari seragam Dewi yang sedikit menguning. Dewi menulis
dengan cepat, tangannya tampak kasar, ada bekas luka gores di dekat jempolnya.
"Tulisannya bagus. Persis seperti orangnya, rapi
tapi dingin." Pak Toro berbisik pelan.
Dewi berhenti menulis sejenak, melirik Pak Toro melalui
sudut matanya, lalu meletakkan spidol di meja guru dan kembali ke kursinya
tanpa sepatah kata pun.
*****
Sore harinya sekolah mulai sepi. Pak Toro melihat Dewi
sedang membereskan buku-buku di pojok perpustakaan. Ia mendekat, pura-pura
mencari referensi.
"Masih di sini, Wi? Rajin sekali. Mau Bapak
bantu?" sapa Pak Toro pelan.
"Saya kerja sampingan di sini, Pak. Supaya dapat
potongan iuran komite." Balas Dewi tanpa menoleh.
Pak Toro tertegun. Ia duduk di kursi kayu yang berderit.
"Kenapa tidak pernah cerita? Bapak ini bukan cuma
guru IPA, Bapak ini teman."
Dewi berhenti bekerja, menatap Pak Toro dengan sorotan
tajam.
"Teman tidak menggoda orang di depan kelas untuk
jadi bahan tertawaan, Pak."
Suasana mendadak kaku. Pak Toro merasa tertampar.
Keinginannya untuk bercanda runtuh seketika.
"Maaf Dewi… Bapak... Bapak cuma ingin kamu bicara.
Kamu terlalu diam." suara Pak Toro terdengar gugup.
"Saya diam karena saya capek, Pak. Ibu sudah
meninggal dua tahun lalu. Bapak saya sakit sakitan. Saya punya dua adik yang
harus saya suapi sebelum saya berangkat sekolah. Di sekolah, saya cuma ingin
istirahat dari pikiran itu semua. Tapi Bapak malah selalu memanggil-manggil
saya seperti mainan." suara Dewi mulai gemetar.
*****
Pak Toro mengikuti Dewi pulang dengan motor tuanya dari
kejauhan. Ia melihat Dewi berhenti di sebuah warung kecil, membeli dua bungkus
mi instan dan sebungkus plastik berisi beras.
Pak Toro mempercepat motornya dan berhenti di samping
Dewi.
"Naiklah. Bapak antar sampai depan rumah."
Kali ini Dewi tidak menolak. Di atas motor, Dewi memegang
pinggiran jaket Pak Toro dengan ragu.
"Maafkan Bapak soal di kelas tadi, Wi. Bapak tidak
tahu."
Dewi menyandarkan kepalanya sebentar ke punggung Pak Toro
yang lebar. "Tidak apa-apa, Pak. Setidaknya di kelas, nama saya dipanggil.
Di rumah, saya cuma dipanggil 'kak' untuk dimintai makan."
Kalimat itu membuat Pak Toro merasa dadanya sesak. Ia
merasakan kesepian yang sama, meski penyebabnya berbeda. Ia duda yang
kehilangan arah, dan Dewi adalah anak yang kehilangan masa kecil.
*****
Rumah itu kecil dan redup. Dua adiknya berlarian keluar
tanpa alas kaki. Pak Toro merogoh kantongnya, mengeluarkan sisa uang di
dompetnya, beberapa lembar lima puluh ribuan dan menyelipkannya ke tangan Dewi.
"Jangan, Pak. Ini terlalu banyak."
Pak Toro memegang tangan Dewi yang kasar.
"Anggap saja ini upah karena sudah mengajari Bapak
cara menjadi manusia yang lebih peka. Besok di kelas, Bapak tidak akan menggoda
lagi. Bapak janji."
Dewi menatap uang itu, lalu menatap Pak Toro. Untuk
pertama kalinya, ia memberikan senyum yang benar-benar sampai ke matanya, senyum
yang membuat Pak Toro merasa sepuluh tahun lebih muda sekaligus merasa sangat
bersalah karena menginginkan lebih dari sekadar senyum itu.
Dewi tersenyum manis.
"Jangan berhenti menggoda saya, Pak. Saya butuh
alasan untuk tetap merasa seperti anak sekolah."
Dewi masuk ke rumahnya. Pak Toro mematung di atas
motornya, menatap pintu yang tertutup rapat, sementara lampu jalanan yang
remang-remang mulai menyala satu per satu.
*****
Suasana ruang guru sibuk dengan suara printer dan denting
sendok teh. Pak Toro sedang mengoreksi esai di mejanya saat Bu Ratna, guru BK
yang dikenal tajam, duduk di hadapannya sambil membawa laporan absensi.
"Pak Toro, saya perhatikan akhir-akhir ini Bapak
sering sekali memanggil Dewi Purnomo ke ruang guru. Ada masalah dengan nilai
IPA-nya?"
Pak Toro terhenti, tangannya sedikit gemetar memegang
pulpen merah.
Pak Toro berusaha tenang
"Oh, itu... dia butuh bimbingan tambahan, Bu. Anak
itu potensial, tapi fokusnya sering terbagi karena masalah keluarga."
Bu Ratna menyipitkan mata.
"Hati-hati, Pak. Beberapa anak mulai bergosip.
Mereka bilang Bapak sering memberikan 'uang saku' tambahan. Kita harus menjaga
batas, apalagi Bapak tinggal sendiri."
Pak Toro hanya tersenyum kaku, namun keringat dingin
mulai membasahi tengkuknya.
*****
Pak Toro bertemu Dewi di balik gudang olahraga untuk
memberikan bungkusan nasi dan obat untuk ayah Dewi. Suasana terasa sangat
tegang.
"Wi, kita harus lebih hati-hati. Bu Ratna mulai
bertanya-tanya. Mungkin setelah ini Bapak tidak bisa sering-sering mengantarmu
pulang." ujar Pak Toro pelan.
Matanya Dewi berkaca-kaca.
"Kenapa, Pak? Apa Bapak malu karena saya miskin?
Atau karena saya cuma murid Bapak?"
"Bukan begitu, Wi... Bapak hanya tidak ingin kamu
dikeluarkan. Masa depanmu masih panjang, sedangkan Bapak... Bapak sudah di
penghujung jalan." tukas Pak Toro cepat.
Dewi tiba-tiba menggenggam tangan Pak Toro dengan erat.
Sebuah tindakan nekat yang melampaui batas guru dan murid.
"Cuma Bapak yang peduli kalau saya belum makan. Cuma
Bapak yang tahu kalau tangan saya kasar karena mencuci. Saya tidak peduli apa
kata mereka!" Nada suara Dewi terdengar optimis.
Tepat saat itu, terdengar suara langkah kaki mendekat dan
bunyi klik dari kamera ponsel dari balik tembok.
*****
Suasana mencekam. Kepala Sekolah duduk di balik meja
besar. Di depannya, Pak Toro tertunduk lesu, sementara Dewi berdiri di pojok
ruangan dengan wajah pucat dan tangan mengepal. Di atas meja, terdapat sebuah
foto buram hasil jepretan kamera ponsel yang menunjukkan Dewi sedang
menggenggam erat tangan Pak Toro di belakang gudang.
"Pak Toro, Anda guru senior. Guru teladan. Bagaimana
Anda menjelaskan foto ini? Dan laporan bahwa Anda sering memberi uang kepada
siswi ini?"
"Saya hanya mencoba membantu seorang anak piatu yang
kelaparan, Pak. Tidak lebih." jawab Pak Toro dengan suara berat dan serak.
"Membantu ada prosedurnya! Bukan dengan pertemuan
sembunyi-sembunyi yang mengarah pada... affair. Ini mencoreng nama baik
sekolah." sergah Pak Joni, sang kepala sekolah.
Dewi tiba-tiba melangkah maju, memotong pembicaraan.
"Jangan salahkan Pak Toro! Dia satu-satunya orang
yang memperlakukan saya seperti manusia di sekolah ini! Kalau kalian mau
menghukum, hukum saya saja! Keluarkan saya!" teriak Dewi tiba-tiba.
Dewi mulai terisak hebat. Pak Toro berdiri, ingin
mendekat untuk menenangkan, namun ia sadar, setiap langkahnya mendekati Dewi
sekarang akan menjadi paku terakhir di peti mati kariernya.
*****
Pak Toro keluar membawa kardus berisi barang-barangnya.
Ia telah memutuskan untuk mengundurkan diri (pensiun dini) demi meredam skandal
agar Dewi tidak dikeluarkan dari sekolah.
Di kejauhan, di balik pagar, Dewi berdiri menatapnya.
Tidak ada kata-kata. Tidak ada sentuhan.
Pak Toro memakai helmnya, menyalakan motor, dan melewati
Dewi begitu saja. Namun, di bawah lampu jalan yang mulai berkedip, Pak Toro
sengaja menjatuhkan sebuah amplop cokelat.
Dewi memungutnya. Di dalamnya terdapat buku catatan IPA
milik Pak Toro yang berisi rumus-rumus, namun di halaman belakang tertulis
sebuah pesan:
"Belajarlah yang rajin. Tekanan (P) dalam IPA
mungkin berat, tapi kamu adalah zat padat yang paling kuat yang pernah Bapak
temui. Maafkan Bapak yang tidak bisa menjadi pahlawanmu lebih lama lagi."
Dewi memeluk buku itu erat-erat sambil melihat lampu
belakang motor Pak Toro yang perlahan menghilang di telan kegelapan malam.
*****
Sepuluh tahun kemudian.
Suasana tenang, hanya terdengar suara gesekan kertas.
Seorang pria tua dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya duduk di kursi
pojok dekat jendela. Itu Pak Toro. Ia memakai kacamata tebal, sedang kesulitan
membaca label pada rak buku Sains.
Tangannya sedikit gemetar saat mencoba meraih sebuah buku
tebal di rak yang agak tinggi. Tiba-tiba, sebuah tangan yang halus namun kokoh
mengambilkan buku itu untuknya.
"Hukum Termodinamika? Sepertinya Bapak lebih butuh
buku tentang cara beristirahat yang baik." ujar seorang wanita dengan
tiba-tiba.
Pak Toro menoleh perlahan. Di hadapannya berdiri seorang
wanita muda berumur 25 tahun, berpakaian rapi dengan kemeja putih dan blazer,
tampak sangat profesional namun dengan binar mata yang sangat ia kenal.
"Dewi...?" Suara
Pak Toro parau.
Dewi tersenyum manis, matanya berkaca-kaca. "Dwi
Purnomo, Pak. Murid Bapak yang paling nakal karena selalu diam di kelas."
*****
Mereka duduk di bangku taman. Dewi mengeluarkan sebuah
buku catatan IPA yang sudah sangat usang, buku yang diberikan Pak Toro sepuluh
tahun lalu.
"Berkat buku ini, saya masuk jurusan Pendidikan IPA.
Sekarang saya mengajar di sekolah pinggiran, Pak. Menangani anak-anak yang
'diam' seperti saya dulu."
Pak Toro menatap buku itu, lalu menatap Dewi. Ada rasa
bangga yang luar biasa di wajah tuanya yang penuh keriput.
"Bapak selalu takut... kehadiran Bapak dulu justru
merusak masa depanmu, Wi."
Dewi menggeleng pelan, menggenggam tangan Pak Toro yang
kini terasa rapuh. Lalu ia berkata :
"Bapak tidak merusak apa pun. Bapak adalah orang
pertama yang memberi saya 'tekanan' untuk tidak menyerah pada hidup. Tanpa
bantuan Bapak, dan semua uang saku yang diam-diam Bapak selipkan di tas saya
dulu, saya tidak akan ada di sini."
Dewi merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah foto. Foto
kedua adiknya yang kini sudah berseragam SMA, tampak sehat dan ceria.
"Mereka titip salam untuk 'Kakek Guru' yang dulu
sering mengantar kakaknya pulang."
Pak Toro tertawa kecil, tawa yang sudah lama tidak terdengar.
Air mata haru jatuh di pipinya. Ia menyadari bahwa cinta yang dulu dianggap
salah oleh dunia, telah bertransformasi menjadi sebuah pengabdian yang
membuahkan hasil indah.
"Ayo pulang, Pak. Saya sudah beli mobil sendiri
sekarang. Bapak tidak perlu lagi naik motor tua yang berisik itu. Saya yang
antar Bapak pulang... selamanya."
Dewi membantu Pak Toro berdiri. Mereka berjalan
beriringan menuju parkiran, seorang guru yang telah selesai menunaikan
tugasnya, dan seorang murid yang kini menjadi pahlawan bagi gurunya. Matahari
terbenam memberikan cahaya emas yang hangat, menutup luka masa lalu dengan
harapan baru. *** Tamat
