Gombalan Maut yang Tak Pernah Lulus Dari Ingatan
Suara bel panjang berbunyi tiga kali. Lembaran kertas ujian akhir kelas 9 resmi berpindah tangan. Lima detik kemudian, kantin sekolah langsung berubah jadi lautan manusia. Di pojok kanan, dekat abang somay, geng Dwi sudah menguasai meja panjang.
Naira datang paling terakhir sambil menggebrak meja.
"Merdeka, Guys! Otak gue yang tadinya cuma seukuran kuaci, sekarang resmi
kosong melompong!"
Gea langsung menjitak kepala Naira pelan. "Bisa diam
kagak, Nai? Ini kita lagi ada agenda krusial. Hari terakhir di SMP, masa
lempeng-lempeng aja? Kagak seru!"
Dwi sedang sibuk berkaca lewat kamera depan HP-nya,
membetulkan jepitan rambutnya yang hits. "Betul kata Gea. Gue harus kasih
kenang-kenangan terindah buat Pak Hans. Biar beliau gagal move on dari murid
paling cakep se-angkatan."
Laura langsung menyenggol lengan Dwi. "Gue juga
kagak mau kalah ya! Pak Budiman harus tahu kalau Laura, si cewek modis kelas
9-B, bakal kangen berat sama dasi motif polkadotnya beliau."
Gea tersenyum licik, mengeluarkan buku nota kecil dari tasnya.
"Nah, karena gue sama Naira adalah mak comblang profesional berlisensi
internasional, kita udah bikin rundown. Namanya: Operasi Cegat Koridor. Lo
berdua tinggal maju, kita yang urus bagian bikin heboh."
"Sikat lah! Kuy, buruan ke gedung guru sebelum
mereka balik duluan!" seru Naira sambil menyambar es teh manis milik Laura
sampai habis, lalu menarik tangan mereka semua untuk berdiri.
Operasi Cegat di Koridor Ruang Guru
Koridor depan ruang guru tampak sepi tapi menegangkan.
Aroma parfum Dwi dan Laura menyengat udara. Gea memantau situasi dari balik
pilar kelas 9-A. Tangannya memberi kode angka dua dan tiga. Artinya: target
mendekat.
"Target on track, Guys! Pak Hans sama Pak Budiman
jalan barengan. Go, go, go!" bisik Gea lewat HT mainan yang dibeli Naira
di abang-abang depan sekolah.
Naira langsung beraksi. Dia sengaja berjalan mundur
sambil pura-pura sibuk main game di HP-nya.
BRAAK!
Naira menabrak tumpukan kardus kosong di dekat mading.
"Aduh! Encok pinggang gue!" teriak Naira sengaja dikeraskan.
Mendengar keributan, Pak Hans dan Pak Budiman langsung
menoleh. Ini umpan matang. Dwi dan Laura langsung maju memotong jalur jalan
kedua guru tersebut. Dwi memasang senyum paling manis, merapikan rambutnya yang
badai.
"Eh, Pak Hans... capek ya Pak habis ngawas ujian?
Sini Dwi bantu bawain berkasnya, atau mau Dwi bantu jagain hatinya aja?"
goda Dwi sambil mengedipkan sebelah mata.
Pak Hans langsung menghentikan langkah. Beliau memijat
pangkal hendaknya, menahan tawa. "Dwi, Dwi. Ujian matematika tadi malam
belajar kagak? Gombalan kamu ini enggak bakal nambah nilai kelulusan, ya."
Di sebelah Dwi, Laura tidak mau kalah. Dia langsung
berdiri di depan Pak Budiman yang sedang memegang map besar. Laura menyodorkan
sebuah kipas angin portable kecil warna pink.
"Pak Budiman, koridor lagi panas banget nih
kayaknya. Tapi tenang, ada Laura yang siap jadi adem-ademan buat Bapak,"
kata Laura dengan nada manja yang dibuat-buat.
Pak Budiman langsung tersenyum geli. "Laura, kamu
ini ada-ada saja. Mending kipasnya buat kamu, muka kamu sudah merah tuh kayak
kepiting rebus gara-gara nahan malu."
Tiba-tiba, Gea dan Naira muncul dari belakang sambil
menyoraki mereka.
"Ciee... gerah ya Pak? Gas terus Wi, Lau! Jangan
kasih kendor!" teriak Naira kompor.
"Pak Hans, Pak Budiman, terima aja lah. Mereka
berdua udah latihan di depan cermin dari jam tujuh pagi tahu!" sahut Gea
membongkar rahasia.
Pak Hans menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum
hangat. "Kalian ini ya, dasar bocah. Ujian sudah kelar, bukannya pulang
malah bikin konser mini di sini. Ya sudah, karena hari ini hari terakhir kalian
sebagai siswa kelas 9, Bapak maafkan keusilan kalian."
Pak Budiman menimpali sambil menepuk pundak mereka
bergantian. "Sukses ya buat SMA nanti. Jangan lupain guru-guru kalian yang
sabar menghadapi kegabutan kalian ini."
Dwi, Laura, Gea, dan Naira saling berpandangan. Rasa usil
mereka mendadak berubah menjadi rasa haru yang hangat di dada.
Pelukan Terakhir di Gerbang Sekolah
Matahari sore mulai condong ke barat, memayungi gerbang
sekolah dengan warna jingga yang hangat. Langkah keempat sahabat itu melambat
begitu mendekati pagar besi yang biasanya mereka lewati dengan terburu-buru
agar tidak dihukum karena terlambat.
Mereka berhenti tepat di bawah papan nama sekolah.
Kehebohan dan tawa pecah yang beberapa jam lalu menggema di koridor ruang guru,
kini mendadak menguap, digantikan oleh keheningan yang asing.
Laura tiba-tiba berhenti dan menatap seragam
putih-birunya yang penuh coretan tanda tangan teman-teman mereka. Matanya mulai
berkaca-kaca. "Eh... kok gue mendadak cengeng ya? Besok-besok kita kagak
bakal dihukum bareng lagi dong kalau telat?"
Dwi yang biasanya paling gengsi, langsung merangkul
pundak Laura erat-erat. "Jangan melow gitu ah, nanti maskara gue luntur.
Tapi beneran deh... tiga tahun ini cepet banget berlalu ya?"
Gea dan Naira ikut merapat, membentuk lingkaran pelukan
yang erat di tengah gerbang sekolah.
Naira berbisik di antara isakan kecilnya, "Nanti di
SMA, kalian jangan lupain mak comblang kalian yang gabut ini ya. Tetep cari gue
kalau butuh strategi."
Gea mempererat pelukan mereka sambil menatap gedung
sekolah untuk terakhir kalinya.
"Masa SMP kita mungkin udah resmi kelar sore ini di
gerbang ini, Guys. Tapi tenang aja, cerita gila kita, gombalan maut kalian ke
Pak Hans dan Pak Budiman, sama semua tawa kita di kantin... bakal tetep tinggal
di sini, abadi, kagak bakal pernah lulus dari ingatan kita."
Mereka berempat melepaskan pelukan, saling menghapus air
mata di pipi masing-masing, lalu berjalan keluar gerbang bersama-sama sambil
bergandengan tangan, siap menyambut masa depan baru yang sudah menunggu di
depan mata. ***

Posting Komentar untuk "Gombalan Maut yang Tak Pernah Lulus Dari Ingatan"