Ketukan di Pintu Kenangan
Tuk! Tuk! Tuk! Suara ketukan di pintu kamar kost itu memecah lamunan Maman. Ia bangkit dari tempat tidur, menebak dalam hati bahwa sang pemilik kost pasti membawa kabar.
"Ada tamu, Pak Guru..." seru suara dari balik
pintu. Benar saja, itu suara Bu Halimah.
"Iya, Bu. Sebentar," sahut Maman lembut sembari
merapikan kemejanya yang sedikit kusut.
Di ruang tamu, suasana seketika terasa berbeda. Seorang
wanita muda dengan paras teduh duduk menanti, ditemani dua anak kecil yang tampak
tenang di sisinya. Begitu melihat Maman, wanita itu bangkit dengan raut segan.
"Maaf, Pak Guru... saya mengganggu waktu istirahat
siang Bapak," ucapnya tulus, tersirat rasa bersalah di matanya.
Maman tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana.
"Oh, sama sekali tidak, Bu. Saya hanya sedang bersantai setelah pulang
sekolah tadi." Sebuah dusta kecil yang manis agar tamunya merasa nyaman.
"Terima kasih. Begini, Pak Guru, kedatangan saya
kesini untuk menyampaikan terima kasih secara langsung," lanjut wanita
itu.
Maman mengernyit heran. "Terima kasih untuk apa,
Bu?"
"Sherina, adik saya. Tadi saat pembagian rapor, dia
diumumkan sebagai juara umum. Pak Guru adalah wali kelasnya, bukan?"
Maman mengangguk, kini ia paham. "Betul, saya wali
kelas Sherina. Tapi prestasi itu murni karena Sherina memang siswi yang cerdas
dan gigih. Ia sangat pantas mendapatkannya."
Setelah beberapa saat berbincang hangat, wanita itu
pamit. Namun, setelah punggungnya menghilang di balik pagar, Maman terpaku di
kursinya. Ia menepuk jidatnya sendiri. "Aduh, siapa namanya? Aku sampai
lupa bertanya," gumamnya kesal pada diri sendiri.
Kembali ke kamar, bayangan wajah wanita itu enggan pergi.
Ada pesona yang dewasa dan tenang dalam raut wajahnya. "Pantas saja
Sherina cantik, kakaknya pun menawan. Bahkan ada keanggunan yang berbeda meski
ia sudah beranak dua," batin Maman sambil tersenyum kecil, heran mengapa
jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya.
Namun, senyum itu perlahan pudar saat realita menyergap.
Bayang-bayang masa lalu yang pahit kembali menyelinap. Dua tahun lalu, di bawah
lampu ruang tamu yang redup, Yaumi, istrinya, mengucapkan kalimat yang
menghancurkan dunianya.
"Sebaiknya kita berpisah, Bang. Aku tidak sanggup
lagi hidup dalam kekurangan seperti ini."
Maman ingat betapa kelu lidahnya saat itu. Ia sudah
banting tulang, mencari sampingan di luar jam mengajarnya sebagai guru honorer,
namun hasilnya tetap tak mampu membendung ambisi Yaumi.
"Abang juga tidak ingin kamu menderita,
tapi..."
"Tapi buktinya mana?" potong Yaumi dingin.
Kenangan itu terasa seperti sembilu. Maman menghela napas
panjang. Di usianya yang berkepala empat, menjadi duda bukanlah pilihan. Ingin
rasanya ia mencari pengganti, namun rendah diri selalu menghantuinya. Siapa
yang sudi bersanding dengan guru honorer sepertiku?
Beberapa minggu berlalu. Suasana riuh pasar malam menjadi
latar pertemuan yang tak disangka. Di pojok sebuah kafe sederhana, Maman
menangkap sosok yang tak asing.
"Hai... kakaknya Sherina, ya?" sapa Maman
dengan nada ragu namun penuh harap.
Wanita itu menoleh, wajahnya cerah seketika. "Iya,
Pak Guru!"
Maman memberanikan diri duduk di seberangnya setelah
dipersilakan. "Lho, ayahnya anak-anak tidak ikut?" tanya Maman
spontan.
Raut wajah wanita itu meredup sejenak. "Sudah
meninggal, Pak Guru..." jawabnya pelan, ada nada rindu yang terselip di
sana.
Maman merasa tak enak hati. "Oh, maafkan saya. Saya
tidak bermaksud membuka luka lama."
"Tidak apa-apa, Pak Guru. "...Bapak sendiri,
mengapa tidak mengajak istri ke mari?" tanya Karina. Suaranya halus,
selembut kepakan sayap kupu-kupu, namun mampu menggetarkan relung hati Maman.
Maman melepas napas panjang, seolah sedang melepaskan
debu-debu masa lalu yang selama dua tahun ini menyesakkan dadanya. "Kami
sudah tidak searah, Karina. Hidup memutuskan untuk menggariskan jalan yang
berbeda bagi kami. Berpisah hidup," jawab Maman datar, namun ada nada
getir yang tak mampu ia sembunyikan.
Karina tertegun. Ia menangkap gurat kesepian yang sama
dengan yang selalu ia lihat di cermin setiap pagi. Sebuah kesunyian yang hanya
dipahami oleh mereka yang dipaksa berdiri tegak saat pilar dunianya runtuh.
"Lalu, dengan nama apa aku harus menyapa?"
tanya Maman, mencoba menjaring kembali kesadaran yang mulai hanyut oleh pesona
wanita di hadapannya.
"Cukup Karina," jawabnya pelan, matanya
berbinar seperti pantulan rembulan di permukaan telaga yang tenang. "Hanya
Karina."
Maman tersenyum, sebuah senyuman yang sudah lama tidak
mampir ke wajahnya. "Dan bagiku, lepaskanlah gelar Pak Guru itu. Panggil
saja aku Uda Maman."
Seketika, keriuhan pasar malam di sekeliling mereka
seakan memudar menjadi latar yang buram. Suara gelak tawa orang-orang dan derit
komidi putar menjelma menjadi melodi sayu yang menjauh. Di bawah temaram lampu
warna-warni yang berpijar seperti taburan bintang rendah, waktu seolah berhenti
berdetak.
Mereka saling menyelami mata satu sama lain. Di mata
Karina, Maman tidak lagi melihat dirinya sebagai lelaki yang terbuang karena
angka-angka yang kurang di dalam saku. Ia menemukan sebuah dermaga yang teduh.
Sementara di mata Maman, Karina melihat sebuah keberanian baru untuk kembali
percaya pada fajar, setelah sekian lama ia terpenjara dalam pekatnya malam.
Tak ada kata yang terucap, namun batin mereka sedang
menenun percakapan. Angin malam yang berembus pelan menjadi kurir bagi dua
rahasia yang saling bertaut, bahwa di titik temu antara duka seorang duda dan
janda ini, sebuah tunas harapan baru sedang mencoba menyembul dari tanah yang
sempat gersang.
Malam itu, pasar malam bukan lagi sekadar tempat hiburan,
melainkan saksi bisu di mana dua luka mulai menjahit dirinya sendiri menjadi
satu keutuhan yang baru.
Maman terdiam, membiarkan senyum Karina meresap hingga ke
palung hatinya yang paling sunyi. Di antara aroma harum arum manis dan suara
riuh yang menjauh, ia menyadari satu hal: kemiskinan mungkin pernah merenggut
masa lalunya, namun ia tak akan membiarkan rasa takut merenggut kemungkinan
masa depannya.
"Terima kasih sudah ada di sini malam ini,
Karina," bisik Maman lirih, hampir tenggelam oleh desau angin.
Karina hanya mengangguk kecil, menyelipkan helai rambut
di balik telinganya dengan gerakan yang begitu anggun. Tatapannya seolah
berkata bahwa ia pun merasakan debar yang sama, sebuah undangan untuk melangkah
keluar dari bayang-bayang duka.
Malam semakin larut, namun cahaya di sudut kafe itu
justru terasa semakin terang bagi keduanya. Mereka tidak tahu ke mana arah
percakapan ini akan bermuara, atau apakah nasib akan benar-benar menyatukan dua
garis yang sempat patah ini. Namun bagi Maman, cukup malam ini saja ia tahu
bahwa ia tidak lagi berjalan sendirian di bawah langit yang sama.
Di arena pasar malam itu, sebuah lembaran baru telah
terbuka, ditulis dengan tinta keberanian dan disampul oleh doa-doa yang mulai
berani dipanjatkan kembali. Biarlah waktu yang menjadi saksi, bagaimana dua
jiwa yang terluka ini belajar untuk kembali menari bersama hujan.
Maman menyesap kopinya yang mulai mendingin, namun
hatinya justru terasa menghangat. Sebelum keramaian benar-benar membawa mereka
kembali ke dunia masing-masing, ia memberanikan diri menatap Karina sekali
lagi.
"Karina," panggilnya lembut.
Wanita itu mendongak, matanya yang teduh kini memancarkan
binar yang berbeda. "Iya, Uda?"
"Terima kasih karena tidak bertanya tentang apa yang
kurang dari hidupku. Terima kasih karena sudah melihatku sebagai pria, bukan
hanya sebagai guru yang berjalan di antara angka-angka."
Karina tersenyum, sebuah senyum yang kali ini menyentuh
hingga ke matanya. Ia menyentuh pinggiran cangkirnya dengan jemari yang tenang.
"Uda," ucapnya pelan namun mantap,
"Bukankah hidup ini memang tentang menemukan seseorang yang bisa melihat
cukup di dalam segala kekurangan kita? Esok, jika anak-anak ingin melihat pasar
malam lagi, apakah Uda keberatan jika kursi di depan saya ini kembali diisi
oleh orang yang sama?"
Maman tertegun. Kalimat itu bukan sekadar pertanyaan,
melainkan sebuah kunci yang membuka pintu yang selama dua tahun ini terkunci
rapat. Ia mengangguk perlahan, sebuah janji tanpa suara yang terpatri di antara
mereka.
"Aku akan di sini, Karina. Menunggumu di titik yang
sama."
Malam itu, saat mereka beranjak pergi meninggalkan aroma
pasar malam, langkah Maman terasa lebih ringan. Ia tak lagi melihat dirinya
sebagai seorang duda kesepian yang ditinggal pergi karena materi. Di bawah
langit yang luas, ia menyadari bahwa meski satu pintu telah tertutup dengan
dentum kepedihan, Tuhan selalu menyisakan jendela kecil untuk membiarkan cahaya
baru masuk.
Satu per satu lampu pasar malam mulai dipadamkan, namun
di hati Maman dan Karina, sebuah cahaya baru baru saja dinyalakan—dan kali ini,
mereka tak akan membiarkannya padam oleh badai mana pun.***

Posting Komentar untuk "Ketukan di Pintu Kenangan"