Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menyibak Kabut di Batas Kampung (Bagian Kedua)

Bel sekolah berbunyi pertanda pelajaran pertama akan dimulai. Murid-murid kelas 9.A segera duduk rapi di bangku kayu mereka. Pak Yudi masuk dengan langkah tenang, membawa sebuah spidol tulis dan penggaris kayu panjang. Wajahnya segar, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru saja bertarung dengan makhluk gaib hingga dini hari.

Ilustrasi gambar Mode Ai)

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Pak Yudi, suaranya renyah dan meneduhkan.

"Selamat pagi, Pak Guru!" jawab anak-anak serempak.

Pak Yudi berbalik ke whiteboard, menuliskan sebuah angka besar: 0 (Nol). Ia lalu menoleh kembali ke arah murid-muridnya sambil tersenyum.

"Doni," panggil Pak Yudi lembut kepada seorang murid laki-laki di baris depan yang bajunya agak lusuh. "Kalau kamu punya uang nol rupiah, lalu Bapak tambah nol rupiah lagi, jumlahnya jadi berapa?"

Doni menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tetap nol, Pak."

"Betul. Kalau nolnya Bapak kalikan dengan angka satu juta, hasilnya berapa, Siti?"

Siti, murid perempuan berambut kepang, menjawab dengan yakin, "Tetap nol, Pak Yudi!"

Pak Yudi mengangguk bangga. "Hebat. Angka nol itu unik. Dia tidak punya nilai sendirian, tapi kalau diletakkan di belakang angka lain, dia bisa membuat angka itu jadi raksasa. Angka 1 kalau ditemani tiga angka nol di belakangnya, jadi seribu. Ditambah nol lagi, jadi sepuluh ribu. Betul?"

"Betul, Pak!" sahut anak-anak mulai tertarik.

Pak Yudi meletakkan spidol tulisnya, lalu berjalan ke tengah kelas. Ia menatap murid-muridnya satu per satu dengan pandangan mata yang sangat dalam namun hangat, tatapan seorang guru sekaligus pelindung spiritual mereka.

"Manusia itu seperti angka nol, anak-anak. Di hadapan Tuhan, kita ini bukan apa-apa. Kosong. Tidak punya daya," ujar Pak Yudi, nadanya merendah, sarat akan filosofi spiritual yang biasa ia renungkan saat tirakat malam. "Tapi, kalau diri kita yang 'kosong' ini mau ditempatkan di belakang kebaikan, diletakkan di belakang kepentingan orang banyak, maka hidup kita akan menjadi sangat bernilai bagi sesama."

Doni mengangkat tangannya dengan ragu. "Pak... kalau angka nolnya diletakkan di depan angka lain bagaimana? Seperti nol koma satu?"

Pak Yudi tersenyum lebar, menghargai kekritisan muridnya. "Pertanyaan bagus, Doni. Kalau nol diletakkan di depan dan diberi koma, nilainya justru mengecil. Itu sama seperti manusia yang menaruh ego, kesombongan, dan rasa 'paling tahu' di depan matanya. Bukannya membawa manfaat, sifat itu justru memperkecil nilai kemanusiaannya di mata orang lain. Paham maksud Bapak?"

Anak-anak terdiam sesaat, meresapi kalimat sederhana namun sarat makna tersebut. Mereka mengangguk pelan, mulai memahami pelajaran hidup yang diselipkan sang guru di balik rumus matematika.

Tiba-tiba, dari arah luar jendela, angin gunung berembus agak kencang hingga membuat daun jendela berderit. Angin itu membawa sisa-sisa hawa dingin yang ganjil, sisa energi negatif dari sengketa gaib semalam.

Beberapa murid tampak merinding dan menoleh ke luar jendela dengan cemas. Namun, Pak Yudi tetap tenang. Ia menghela napas pendek, lalu melangkah santai mendekati jendela kelas. Sambil pura-pura membetulkan slot kancing jendela, tangan kirinya bergerak membentuk isyarat lingkaran gaib tak terlihat di udara, menyapu bersih sisa hawa negatif yang mencoba masuk ke ruang kelas. Seketika, udara di dalam kelas kembali menjadi hangat dan nyaman.

"Nah, sekarang buka buku latihan halaman empat puluh dua," ucap Pak Yudi mengalihkan perhatian murid-muridnya kembali ke papan tulis. "Kita akan belajar bagaimana membagi angka-angka besar agar semua mendapatkan bagian yang adil. Sama seperti cara kita berbagi kebahagiaan di kampung ini."

Anak-anak pun segera membuka buku mereka dengan semangat, larut dalam suasana belajar yang begitu damai di bawah bimbingan sang guru misterius. *** (Bersambung....)

Posting Komentar untuk "Menyibak Kabut di Batas Kampung (Bagian Kedua)"