Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menyibak Kabut di Batas Kampung (Bagian Pertama)

Matahari hampir tenggelam di balik Bukit Kesumbo, menyisakan warna jingga yang lamat-lamat memudar. Di dalam ruang kelas serba kayu yang wangi kapur sirih dan minyak kayu putih, Pak Yudi sedang merapikan buku-buku tugas muridnya. Lelaki berusia kepala lima itu mengenakan kemeja batik yang warnanya sudah agak turun, dipadu celana kain hitam yang sedikit longgar.

Ilustrasi gambar (Mode Ai)

Di kampung pelosok ini, semua orang mengenalnya sebagai guru matematika yang penyabar, ramah, dan tak pernah sekalipun meninggikan suara. Jika ada murid yang lambat paham, ia akan dengan telaten mengajarinya selepas jam sekolah tanpa meminta bayaran sepeser pun.

"Pak Yudi, belum pulang?" sapa pak Sabar, penjaga sekolah, yang sedang menyapu koridor luar.

Pak Yudi menoleh, melempar senyum tulus yang membuat kerutan di sudut matanya terlihat jelas. "Sebentar lagi, Pak. Tanggung, tinggal tiga buku lagi yang belum selesai diperiksa. Kasihan anak-anak besok mau lihat hasilnya."

"Jangan kemalaman, Pak. Belakangan ini angin bukit sedang tidak enak. Orang-orang bilang, batas kampung kita sedang agak 'hangat'," bisik Pak Sabar dengan wajah bergidik.

Pak Yudi hanya mengangguk pelan. "Iya, Pak. Terima kasih pengingatnya."

Namun, di balik ketenangannya, Pak Yudi tahu persis apa yang dimaksud oleh Pak Sabar. Sejak tiga hari lalu, ia sudah merasakan getaran energi yang ganjil. Udara malam di kampung itu mendadak pekat, berbau anyir bercampur wewangian bunga kantil yang menusuk hidung. Ada sesosok kiriman dari luar kampung, sebuah entitas hitam bertanduk yang sengaja dilepas untuk merusak ketenteraman warga.

Malamnya, sekitar pukul sebelas, apa yang dikhawatirkan terjadi. Suasana kampung sangat sunyi, hanya ada suara jangkrik yang tiba-tiba bungkam serentak. Pak Yudi yang sedang membaca buku di ruang tamunya mendadak meletakkan kacamatanya. Daun-daun jendela rumahnya bergetar hebat seolah dihantam angin puting beliung, padahal di luar sana tidak ada angin sama sekali.

Dari arah kandang ternak milik warga di ujung kampung, terdengar suara lenguhan sapi yang histeris, disusul jeritan ketakutan beberapa warga.

Tanpa membuang waktu, Pak Yudi melangkah keluar. Ia tidak membawa senjata, tidak juga memakai jubah hitam atau atribut yang mencolok. Ia tetap menjadi Pak Yudi yang sederhana, hanya mengenakan sarung instan dan kaus oblong putih.

Di batas kampung, kabut hitam tebal mengumpul, bergulung-gulung membentuk bayangan raksasa bermata merah menyala. Beberapa ronda malam sudah terkapar pingsan di tanah, napas mereka sesak karena aura gaib yang begitu menekan. Di depan makhluk itu, berdiri seorang dukun hitam asal kampung seberang yang selama ini iri dengan kemakmuran kampung tempat Pak Yudi mengajar.

"Hancurkan tempat ini!" seru si dukun hitam dengan tawa membahana.

Pak Yudi berjalan mendekat dengan langkah yang sangat tenang. Ritme langkahnya konstan, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.

"Sudah malam, Angku Dancin. Sebaiknya Anda pulang dan istirahat," ucap Pak Yudi, suaranya lembut namun anehnya bergema kuat, memotong keheningan malam dan meredam gemuruh gaib di udara.

Si dukun hitam tersentak, menoleh ke arah Pak Yudi. "Siapa kau? Hanya seorang guru sekolah miskin? Jangan ikut campur atau kau akan mati pertama!"

Makhluk hitam raksasa itu meraung, melesat cepat ke arah Pak Yudi dengan kuku-kuku tajam yang siap mencabik.

Pak Yudi tidak menghindar. Ia hanya menghela napas panjang, lalu bersedekap. Di dalam dirinya, mengalir ilmu mistik tingkat tinggi hasil tirakat puluhan tahun di surau tua, sebuah ilmu batin suci yang hanya digunakannya untuk perlindungan, bukan kehancuran.

Saat makhluk itu berjarak satu meter di depannya, Pak Yudi menghentakkan kaki kanannya sekali ke tanah sambil melafazkan satu bait doa perlindungan batin.

Wusss!

Cahaya putih keemasan berputar hebat keluar dari tubuh Pak Yudi, membentuk dinding tameng gaib yang sangat tebal. Makhluk hitam itu menghantam dinding cahaya tersebut dan seketika menjerit kesakitan. Tubuh gaibnya terbakar oleh hawa murni yang terpancar dari ketulusan dan kesucian ilmu Pak Yudi. Hanya dalam hitungan detik, makhluk kiriman itu lebur menjadi abu gaib dan lenyap disapu angin malam.

Si dukun hitam terbatuk darah, dadanya terasa sesak akibat serangan baliknya yang memantul kuat. Ia jatuh berlutut, menatap Pak Yudi dengan tatapan horor. "Ilmu... ilmu apa yang kau miliki? Bagaimana bisa seorang guru biasa..."

Pak Yudi berjalan mendekati dukun yang terduduk lemas itu. Ia mengulurkan tangannya, membantu si dukun untuk berdiri. Tidak ada raut dendam atau kesombongan di wajah sang guru.

"Saya tidak punya ilmu apa-apa, Angku. Saya hanya manusia yang dititipi tugas untuk menjaga anak-anak di kampung ini agar besok pagi mereka bisa belajar dengan tenang," kata Pak Yudi pelan. Ia menyalurkan sedikit energi hangat dari telapak tangannya untuk menyembuhkan luka dalam si dukun. "Pulanglah. Bersihkan hati. Kasihan keluarga di rumah jika kita terus menimbun dendam."

Merasakan ketulusan dan kedahsyatan ilmu yang begitu sejuk, si dukun hitam tertunduk malu. Ia meminta maaf dengan tubuh gemetar, lalu berjalan tertatih-tatih meninggalkan batas kampung, berjanji tidak akan pernah kembali lagi.

Pak Yudi mengembuskan napas lega. Ia kemudian menghampiri para ronda yang pingsan, menyapukan telapak tangannya di atas kening mereka untuk menghilangkan sisa energi negatif hingga mereka mulai melenguh dan terbangun.

Keesokan paginya, matahari terbit dengan begitu cerah. Pak Yudi sudah berdiri di depan gerbang sekolah dengan senyum ramahnya yang biasa. Ia menyalami satu per satu muridnya yang datang dengan ceria. Tidak ada satu pun warga yang tahu bahwa pria berpakaian rapi yang sedang memegang spidol tulis itu, adalah benteng gaib yang baru saja menyelamatkan seluruh kampung mereka tadi malam. Bagi mereka, ia tetaplah Pak Yudi, guru matematika yang pintar dan berhati emas. *** (Bersambung....)

Posting Komentar untuk "Menyibak Kabut di Batas Kampung (Bagian Pertama)"