Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menyibak Kabut di Batas Kampung (Bagian Ketiga)

Saat jam istirahat tiba, ruang kelas kosong. Pak Yudi duduk di kursi mejanya, memandangi sebuah tasbih kayu cendana tua yang selalu ia simpan di dalam saku kemejanya. Tasbih itu adalah peninggalan dari mendiang kakek buyutnya, sekaligus saksi bisu asal-usul ilmu batin yang ia miliki.

Ilustrasi gabar (Mode Ai)

Dua puluh tahun lalu, Yudi muda bukanlah seorang guru, melainkan seorang pemuda yang haus akan ketenangan jiwa. Ia menghabiskan waktu tujuh tahun bertirakat di sebuah surau tua yang runtuh di puncak Bukit Kesumbo. Di sana, di bawah bimbingan seorang ulama sepuh yang juga ahli batin, Yudi tidak diajarkan mantra untuk menyakiti atau menguasai orang lain.

Ia diajarkan ilmu Hakikat Diri, ilmu mengenal diri dan pencipta. Tirakatnya diisi dengan puasa mutih, berzikir ribuan kali di tengah malam yang membeku, dan melatih kepekaan rasa hingga ia mampu mendengar bisikan angin dan membaca pergeseran energi alam.

Pancaran cahaya putih keemasan yang ia gunakan semalam adalah buah dari kesucian niatnya: ilmu mistik pertahanan yang hanya aktif jika digerakkan oleh rasa cinta dan kewajiban melindungi sesama. Bagi Yudi, ilmu gaib bukanlah untuk kesaktian, melainkan bentuk khidmat atau pelayanan kepada manusia.

Lamunan Pak Yudi buyar ketika pintu kelas digebrak dengan keras. Pak Sabar masuk dengan wajah pucat pasi.

"Pak Yudi! Tolong, Pak! Doni... Doni kesurupan di pinggir rimba dekat lapangan!" teriak Pak Sabar panik.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, Pak Yudi langsung berlari menuju pembatas kampung. Di sana, beberapa guru dan warga sudah berkumpul, tidak berani mendekat.

Doni, murid laki-laki yang tadi bertanya di kelas 9.A, kini sedang merangkak di tanah dengan posisi tubuh yang aneh. Matanya memutih seluruhnya, urat-urat di lehernya menegang hitam, dan dari mulut kecilnya keluar suara geraman berat seperti macan tua. Di tangannya, Doni menggenggam erat sebuah batu hitam berbentuk runcing yang diselimuti lendir merah darah.

"Doni tidak sengaja menendang pohon tua di sana saat mengambil bola, Pak. Lalu dia memungut batu itu dan langsung jadi seperti ini!" bisik seorang warga dengan gemetar.

Pak Yudi mempertajam pandangan batinnya. Jantungnya berdesir. Ini bukan sekadar kesurupan jin hutan biasa. Di dalam tubuh Doni, sedang mengalir energi kutukan kuno yang disebut palasik rimbo. Sisa-sisa ilmu hitam milik dukun Angku Dancin yang lebur semalam ternyata tidak hilang sepenuhnya; energi dendam yang tersisa meresap ke dalam batu keramat itu dan kini sengaja mengunci jiwa Doni sebagai sarana balas dendam. Jika energi itu dipaksa keluar dengan kekerasan, raga Doni yang masih anak-anak bisa hancur.

"Semua mundur! Jangan ada yang mendekat dalam radius lima meter!" perintah Pak Yudi. Suaranya tidak lagi lembut, melainkan tegas dan penuh wibawa yang membuat warga patuh tanpa bantahan.

Doni, atau makhluk yang merasukinya, menatap Pak Yudi. Ia melompat setinggi dua meter, menerjang ke arah sang guru dengan kuku-kuku jari yang mendadak memanjang.

Pak Yudi melangkah maju, menjatuhkan tangan kanannya ke tanah. “Mukasuik ambo mandinginkan dunia...” (Niat saya mendinginkan dunia), bisik Pak Yudi dalam hati, merapalkan inti ilmu batin surau tua.

Wusss!

Gelombang energi dingin seputih salju keluar dari telapak tangan Pak Yudi, menjalar di atas rumput dan langsung mengikat kaki Doni saat bocah itu mendarat. Gerakan Doni terkunci sejenak. Ia melolong kesakitan karena hawa suci Pak Yudi mulai membakar energi kutukan di tubuhnya.

Namun, kutukan Palasik Rimbo itu melawan. Batu hitam di tangan Doni memancarkan asap merah pekat yang membentuk cakar raksasa, langsung mencengkeram dada Pak Yudi. Pak Yudi terbatuk, merasakan dadanya sesak dan panas luar biasa. Darah segar menetes dari sudut bibirnya. Warga memekik ketakutan.

"Kau akan mati bersama bocah ini, Yudi!" geram suara gaib dari mulut Doni.

Pak Yudi menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan. Ia tersenyum tipis, menatap Doni dengan tatapan penuh kasih sayang seorang guru. "Doni adalah muridku. Tugas guru adalah melindunginya, bahkan jika harus menukar nyawaku sendiri."

Sambil menahan perih di dadanya, Pak Yudi merogoh tasbih cendana dari sakunya, lalu melilitkannya di kepalan tangan kanannya. Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh sisa energi tirakat tujuh tahunnya ke ujung jari telunjuk.

Dengan satu gerakan cepat dan presisi, Pak Yudi melesat maju menembus cakar asap merah, lalu menempelkan jari telunjuknya tepat di dahi Doni, tepat di titik simpul gaib sang makhluk. *** (Bersambung...)

Posting Komentar untuk "Menyibak Kabut di Batas Kampung (Bagian Ketiga)"