Rumah gadang berukir motif pucuak rabuang di pinggir jalan Nagari Tigo Jangko Lintau Buo itu tampak lebih sibuk dari biasanya. Pak Syamsul, seorang guru yang mendekati masa pensiun, mondar-mandir merapikan bantal kursi. Hari ini, putri keduanya yang merantau ke Jakarta pulang membawa cucu pertamanya, Haris, yang berumur lima tahun.
“Uda, jangan terlalu cemas. Haris itu anak kota, dia
pasti senang di sini,” hibur istrinya, buk Lasmini sembari mengaduk Gulai Sipasin dan menyusun Kue Mangkuak yang masih hangat di atas
meja. Aroma santan dan gula aren menyerbak, aroma khas dapur keluarga di rumah bergonjong
itu.
Tak lama, sebuah mobil berhenti. Haris turun dengan
pakaian bermerek dan tablet di tangan. Begitu melihat Pak Syamsul, Haris
berlari kecil dan berteriak, “Opa! Opa Syamsul…!”
Pak Syamsul mematung. Senyumnya sedikit getir. Opa?
Sebutan itu terasa asing di telinganya. Seperti ada dinding kaca yang
menghalangi keakraban mereka di tanah ulayat ini.
Malam harinya, di bawah pendar lampu ruang tengah yang
hangat, Pak Syamsul memangku Haris. Di luar, suara jangkrik bersahutan dengan deru
bunyi kendaraan yang lewat di jalan raya.
“Haris, tahu tidak? Di Lintau ini, kakek-kakek seperti
saya punya panggilan khusus.”
Haris mendongak, matanya bulat penasaran. “Apa itu, Opa?”
“Panggil saya Ayek Apa,” ujar Pak Syamsul lembut. “Ayek
itu artinya kakek, dan Apa itu panggilan singkat dari Papa. Di sini, kita
menyatukan keduanya. Panggilan itu punya 'darah' Lintau di dalamnya. Itu tanda
Haris adalah keturunan orang sini.”
Haris mencoba meniru, “A-yek A-pa?”
Pak Syamsul tertawa lebar. “Iya, begitu. Coba panggil
lagi.”
Namun, keesokan harinya, Haris kembali memanggil
"Opa" karena sudah terbiasa. Anak Pak Syamsul hanya berkomentar,
“Sudahlah papa, yang penting Haris sayang Papa. Zaman sekarang kan memang begitu
panggilannya.” Pak Syamsul hanya diam, menatap hamparan kebun karet di belakang
rumah dengan perasaan sedikit sesak.
Kejadian itu berlanjut hingga Hari Pakan (hari pasar) tiba. Pak Syamsul membawa cucunya Haris ke
Pasar Balai Jumat. Suasana sangat ramai. Kakek dan cucunya itu mencoba
menerobos masuk ke dalam los pakaian. Penjual barang obralan kelontong berteriak,
aroma sate asli Lintau menyengat dan ibu-ibu hilir mudik membawa keranjang
belanja.
Saat Pak Syamsul sibuk menawar pakaian anak, Haris terpesona
melihat penjual mainan anak-anak. Tanpa sadar, pegangan tangan Haris terlepas.
Ia mengikuti kerumunan orang yang hendak keluar los pakaian.
Beberapa menit kemudian, Haris sadar ia sendirian di
tengah riuhnya pasar. Ia mulai gemetar. “Opa! Opa!” teriaknya.
Beberapa orang menoleh, tapi mereka bingung. Di pasar
itu, banyak orang tua, tapi tak satu pun merasa dirinya dipanggil
"Opa". Sebutan itu terlalu "Jakarta", terlalu asing bagi
telinga para petani yang terbiasa dengan panggilan Etek, Mamak, atau Ayek. Haris
semakin ketakutan. Air matanya mulai jatuh.
Di tengah kepanikan, Haris teringat bisikan kakeknya
semalam. Sesuatu tentang "panggilan yang punya darah". Ia menarik
napas dalam-dalam dan berteriak sekuat tenaga, suara khas anak kecil yang
melengking membelah kebisingan pasar.
“Ayek Apaaaaa! Ayek Apaaaaa!”
Seketika, suasana di sekitarnya agak tenang. Seorang pria
tua yang sedang memikul sekarung beras tersentak. Pak Syamsul yang sedang panik
mencari langsung mengenali suara itu. Bukan "Opa", tapi "Ayek
Apa". Panggilan itu seperti sinyal radio yang langsung nyambung ke
hatinya.
“Haris! Di siko, Nak! Ayek di siko!” (Haris! Di sini,
Nak! Ayek di sini!)
Pak Syamsul berlari, menerobos tumpukan sayur dan
kerumunan orang. Ia menemukan Haris duduk sesenggukan di depan kios kain. Pak
Syamsul langsung mendekapnya erat.
“Ayek Apa... Aris takuik (takut)...” isak Haris, lidahnya
mulai mencoba bahasa baru yang ia dengar dari kakeknya.
Orang-orang di sekitar tersenyum lega. Seorang ibu
kenalan pak Syamsul berceletuk, “Cucu Pak Guru, yo? Pandai inyo ma-imbau. Ayek
Apa, nampak bonagh daghaah Lintaunyo. Biar jauh merantau, jangan lupa sebutan
asal.” (Cucu Pak Guru, ya? Pandai dia memanggil. Ayek Apa, kelihatan sekali
darah Lintaunya...)
Semenjak hari itu, Haris tak pernah lagi memanggil
"Opa". Di Jakarta pun, saat melakukan panggilan video, suara Haris
akan terdengar nyaring, “Ayek Apa, Haris kangen!”
Cukup Mata yang Berbicara
Pak Syamsul selalu tersenyum setiap kali mendengarnya.
Baginya, panggilan itu bukan sekadar nama, melainkan cara cucunya menemukan
jalan pulang ke akarnya, sejauh apa pun ia merantau nanti.*** (Selesai)
Glosarium
Ayek Apa: Panggilan khas cucu kepada kakek di sebuah keluarga di Lintau IX Koto. Ayek berarti kakek, dan Apa adalah panggilan singkat/akrab
untuk Ayah (Papa). Penggabungan ini menunjukkan kedekatan emosional yang
mendalam.
Lintau IX Koto: Sebuah wilayah kecamatan di Kabupaten
Tanah Datar, Sumatera Barat, yang dikenal memiliki dialek dan tradisi tutur
yang sedikit berbeda dari wilayah Minangkabau lainnya.
Nagari: Pembagian wilayah administratif setingkat desa di
Sumatera Barat yang berbasis pada kesatuan masyarakat hukum adat.
Pucuak Rabuang: Motif ukiran khas Minangkabau berbentuk
pucuk rebung (tunas bambu) yang melambangkan pertumbuhan, kekuatan, dan
kegunaan hidup bagi orang banyak.
Gulai Sipasin: Masakan khas dari Lintau berbahan dasar
sejenis siput sawah yang dimasak dengan kuah santan kuning yang gurih.
Kue Mangkuak: Jajanan tradisional berbahan dasar tepung
beras dan gula aren (saka), biasanya dikukus dalam mangkuk kecil.
Hari Pakan: Hari pasar mingguan. Di daerah Minangkabau
yang jauh dari kota, pasar biasanya hanya buka di hari-hari tertentu (misal:
Pakan Kamis, Pakan Jumat).
Lamo denai idak mandongagh: "Sudah lama saya tidak
mendengar." (Dialek lokal).
Mambuek hati taibo: Secara harfiah berarti "membuat
hati sampai/tersentuh", menggambarkan perasaan rindu atau haru yang
mendalam.
