Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Melodi Di Luar Batas (Bagian Ketiga)

Aroma ruangan semi-basement itu adalah kombinasi antara debu, kayu lembap, dan keringat. Sangat kontras dengan kamar Anya yang selalu wangi aroma terapi lavender.

Ilustrasi gambar (Mode Ai)

Anya berdiri kaku di ambang pintu, meremas tali tas ranselnya kuat-kuat. Di wajahnya bertengger sebuah masker kain hitam besar dan topi bisbol milik Devan yang sengaja ditarik rendah hingga menutupi dahi.

"Dev, lo serius bawa cewek ini?" Reno berteriak dari balik set drumnya, stik drumnya menunjuk lurus ke arah Anya. "Dan kenapa dia dandan kayak buronan interpol begini?"

"Gue bilang dia pemalu, Ren. Yang penting liriknya dapet, kan?" Devan berjalan santai, melempar tasnya ke sofa usang lalu mengambil gitar listriknya. "Kenalin, namanya... Thenit Kecil. Panggil aja El."

Anya memutar bola matanya di balik masker. Nama samaran yang sangat tidak kreatif, Devan.

Leo, sang gitaris, berjalan mendekati Anya dengan dahi berkerut. Ia memperhatikan postur tubuh Anya yang mungil dan seragamnya yang terlalu rapi untuk ukuran anak band. "Dia anak sekolah kita, Dev? Angkatan berapa? Kok gue kayak pernah lihat..."

"Nggak usah banyak tanya, Leo," potong Devan tegas, badannya sengaja bergeser menghalangi pandangan Leo dari Anya. "Dia cuma mau bantuin kita kalau identitasnya aman. Sekarang, mending kita coba aransemen bait pertama yang kemarin gue kasih."

Devan menoleh ke arah Anya, lalu mengedikkan dagunya ke sudut ruangan. Di sana, sebuah keyboard tua merek Yamaha yang layarnya sudah agak retak berdiri berdebu.

Anya melangkah mendekati instrumen itu dengan ragu. Selama ini, ia hanya terbiasa memainkan piano klasik Steinway & Sons milik ibunya di ruang tengah yang sunyi. Menghadapi keyboard listrik tua di ruangan yang berisik seperti ini membuatnya merasa asing.

"Nih," Devan menyodorkan selembar kertas coretan chord gitar. "Gue mainin intro-nya dulu, lo masuk di chord G setelah ketukan keempat. Paham?"

Anya membaca kertas itu sekilas. Struktur chord-nya sederhana, namun memiliki progresi yang unik. "Oke," jawab Anya, suaranya sengaja dibuat sedikit serak agar tidak dikenali.

Reno mulai mengetuk stik drumnya. Satu, dua, tiga, empat.

Devan memetik gitarnya. Bunyi distorsi rock yang menghentak langsung memenuhi ruangan kecil itu, membuat dada Anya bergetar karena volumenya yang keras. Di detik pertama, Anya sempat panik. Musik ini terlalu bising. Musik ini bukan dunianya.

Namun, tepat di ketukan keempat, jemari Anya bergerak secara otomatis. Ia menekan tuts-tuts keyboard, mengisi celah di antara distorsi gitar Devan dengan melodi minor yang puitis dan mengalir.

Leo langsung menegakkan tubuhnya. Reno merubah ketukannya menjadi lebih dinamis.

Saat Devan mulai menyanyikan lirik yang Anya tulis di buku catatan birunya, sesuatu di dalam diri Anya mendadak meledak.

Aku bernapas, tapi tak pernah merasa hidup...

Lepaskan sayap emas ini, biarkan aku jatuh ke bumi...

Suara Devan yang serak dan bertenaga memberikan "jiwa" yang baru pada kata-kata kesepian Anya. Untuk pertama kalinya, Anya merasa kata-katanya tidak lagi terkunci di dalam buku. Kata-kata itu kini terbang, berteriak, dan hidup di udara bebas. Tanpa sadar, Anya memejamkan mata, membiarkan jemarinya menari lebih liar di atas tuts hitam-putih.

Ketika lagu berakhir, ruangan itu mendadak hening. Hanya terdengar napas Devan yang memburu di depan mikrofon.

"Gila..." Leo bergumam memecah keheningan. "Ini baru namanya musik. Permainan keyboard lo... lo bukan amatiran, El."

Reno menatap Anya dengan pandangan hormat yang baru. "Gue tarik kata-kata gue tadi. Terserah lo mau pakai topeng seumur hidup, yang penting lo tetap di band ini sampai festival selesai."

Anya menurunkan tangannya dari keyboard. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena sensasi adrenalin yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia menatap Devan, dan dari balik helai rambutnya yang berantakan, Devan sedang menatapnya dengan senyum tipis yang penuh kemenangan.

Gue berhasil buat lo keluar dari cangkang lo, Tuan Putri, tatapan Devan seolah berkata demikian.

Pukul lima sore, setelah latihan selesai dan Reno serta Leo pulang lebih dulu, ruangan basement kembali sepi. Tersisa Anya yang sudah melepas maskernya karena gerah, dan Devan yang sedang merapikan kabel gitar.

"Janji lo," tagih Anya, berdiri di samping meja usang. "Kalkulus."

Devan terkekeh, lalu mengambil buku catatan biru Anya dari tasnya dan meletakkannya di meja. Di atas buku itu, ia menaruh selembar kertas kosong dan sebuah pulpen.

"Duduk," perintah Devan.

Anya duduk di kursi kayu yang agak goyang. Devan menarik kursi lain, duduk sangat dekat di sebelahnya hingga Anya bisa mencium aroma samar kopi dan parfum murah dari cowok itu.

"Soal simulasi lo yang salah kemarin tentang turunan fungsi implisit, kan?" Devan mengambil pulpen, lalu menuliskan sebuah persamaan rumit dengan sangat cepat.

Anya memperhatikan dengan dahi berkerut. "Guru les gue bilang harus pakai rumus rantai panjang tiga halaman."

"Itu cara orang bodoh yang punya banyak waktu," kata Devan tenang. "Lihat sini. Lo tinggal turunin variabel X terhadap Y secara terpisah, gunain trik substitusi silang ini, dan... selesai. Berapa detik?"

Anya terbelalak menatap jawaban akhir di kertas. Hasilnya persis sama dengan kunci jawaban simulasi yang membuatnya pusing berhari-hari, namun Devan menyelesaikannya hanya dalam tiga baris coretan.

Anya menatap Devan dengan pandangan tidak percaya. "Lo... lo kenapa bisa sepinter ini tapi milih buat dicap berandalan sekolah?"

Devan menghentikan gerakan pulpennya. Matanya menatap kertas kosong di depan mereka, dan untuk sesaat, binar sinis di matanya meredup, digantikan oleh keletihan yang mendalam.

"Karena di dunia nyata, Anya... nilai seratus di kertas nggak bisa dipakai buat bayar tagihan rumah sakit," jawab Devan pelan, suaranya terdengar begitu sunyi.

Hubungan mereka kini mulai bergeser dari sekadar ancaman menjadi saling membutuhkan dan memahami rahasia satu sama lain. *** (Bersambung.....)

Posting Komentar untuk "Melodi Di Luar Batas (Bagian Ketiga)"