Ringkasan cerita sebelumnya : Andika mencoba menemui Rahma untuk mengklarifikasi kesalahpahaman terkait kegaduhan di media sosial, namun Rahma menolaknya dengan dingin dan mengusirnya. Dalam keadaan pikiran yang kacau setelah penolakan tersebut, Andika mengalami kecelakaan motor saat perjalanan pulang hingga harus dilarikan ke Puskesmas oleh warga. Kabar kecelakaan itu sampai ke telinga Rahma, yang kemudian datang menjenguk ke IGD dengan perasaan bersalah dan penuh kecemasan. Rahma meminta maaf atas sikap kerasnya dan membuat suasana di antara mereka menjadi lebih tenang meski luka di hati Rahma belum sepenuhnya pulih. Bagaimana kisah selanjutnya? Ikuti Cerber Masih Ada Kata Maaf Untukmu Bagian Kedua berikut ini!
*****
Andika mengerang lirih saat kelopak matanya terbuka. Langit-langit putih Puskesmas yang putih menyambutnya dengan aroma karbol yang menusuk. Sekujur tubuhnya terasa seperti dihantam godam; kaku dan remuk. Perban yang membalut tangan dan lututnya berdenyut hebat, mengirimkan sinyal perih setiap kali ia mencoba menggeser posisi.
Masih Ada Kata Maaf Untukmu-Luka Di Aspal, Luka Di Hati (Bagian Pertama)
Ia terdampar di sini.
Sendirian. Pasca-kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.
Rasa lapar mulai melilit
lambung, namun ada batu besar yang mengganjal di kerongkongan setiap kali ia
ingin memanggil bantuan. Gengsi dan rasa sepi berkelindan menjadi satu.
"Buk... apa saya sudah
boleh pulang?" tanya Andika parau saat seorang perawat melintas.
Langkah perawat itu
terhenti. "Sebaiknya Bapak bersabar. Observasi dokter belum selesai,
takutnya ada benturan dalam yang belum terdeteksi," jawabnya tegas.
Andika membuang muka,
menatap jendela yang mulai temaram. "Baiklah, Buk."
Ada rasa ngilu yang lebih
hebat dari sekadar luka fisik di hatinya: rasa diabaikan. Tak ada satu pun
keluarganya yang muncul. Namun, ia tak bisa menyalahkan siapa pun. Ia sendiri
yang memilih bungkam.
"Percuma,"
bisiknya pada keheningan. "Mereka semua jauh di rantau. Di daerah ini, aku
memang bukan siapa-siapa."
Perawat itu menatapnya iba.
"Maaf, Pak... kenapa keluarga tidak ada yang mendampingi? Apa tidak
sebaiknya saya bantu hubungi?"
Andika menggeleng pelan.
"Anak-anak saya jauh, Buk. Biarlah mereka tenang di sana."
"Istri Bapak?"
Tenggorokan Andika tercekat.
"Kami sudah lama berpisah. Entah di mana dia sekarang..."
"Lalu... perempuan yang
tadi membezuk Bapak? Yang membawa anak kecil itu? Bukan keluarga?"
"Hanya teman, Buk.
Teman biasa," sahut Andika cepat, seolah ingin mengubur kenyataan yang
menyesakkan.
Perawat itu berlalu, namun
keheningan tak bertahan lama....
"Assalamualaikum..."
Suara itu lembut, namun
sanggup menggetarkan rongga dada Andika. Ia menoleh dan mendapati Rahma berdiri
di ambang pintu, menjinjing sebuah rantang.
"Waalaikumsalam...
Rahma? Kamu kembali?"
"Abang pasti lapar. Ini
aku bawakan nasi dan lauk," ujar Rahma datar. Tak ada senyum, namun
tangannya cekatan membuka rantang di atas meja kecil.
"Tak usah repot-repot,
Rahma. Aku tidak enak hati..."
"Makan saja, Bang.
Jangan banyak bicara," potong Rahma. Suaranya teduh, namun ada ketegasan
yang tak bisa dibantah.
Andika berusaha bangkit,
menahan ringisan di bibirnya. Saat ia mulai menyuap, Rahma hanya berdiri
mematung. Matanya menatap Andika dengan campuran antara iba dan luka yang masih
basah. Melihat Andika makan dengan lahap, ego Rahma perlahan meluruh menjadi
rasa kasihan yang dalam.
"Alhamdulillah...
terima kasih, Rahma. Kamu baik sekali," ucap Andika tulus setelah
menandaskan isinya.
Rahma hanya mengangguk
kecil. Tanpa menunggu piring kering, ia segera membereskan rantangnya dan
berpamitan. Andika terpaku menatap punggung Rahma yang menjauh, lalu menghilang
di balik pintu UGD. Ada dinding transparan yang kini membatasi mereka.
Andika meraih ponselnya yang
retak. Ia tahu penyebab dinding itu. Matanya terpaku pada video duet lipsync
lagu dangdut romantis yang ia unggah tiga hari lalu. Di sana, seorang
wanita "Bu Guru" yang ia kenal di dunia maya-tampak begitu mempesona.
Kulitnya putih bersih, riasannya tebal namun elegan, dan senyumnya begitu
menggoda di depan kamera. Sangat kontras dengan Rahma yang hanya wanita
sederhana dengan wajah polos tanpa polesan.
"Gara-gara video konyol
ini..." gumam Andika pahit. Ia sadar, video itu telah membakar hati Rahma.
Dengan satu ketukan tegas,
Andika memilih opsi Hapus. Video itu lenyap.
"Semoga ini cukup untuk
menebus salahku, Rahma," harapnya.
Namun, tepat saat ia hendak
mematikan layar, sebuah notifikasi muncul. Pesan pribadi (DM) dari si Bu Guru
Cantik.
"Mas Andika,
dengar-dengar kamu kecelakaan ya? Aku lagi di depan Puskesmasmu sekarang. Boleh
aku mampir sebentar?"
Darah Andika mendesir hebat.
Jantungnya berpacu liar. Ia menoleh ke arah pintu UGD, berharap Rahma
benar-benar sudah pulang. Jika kedua wanita ini bertemu di bangsal yang sempit
ini, kecelakaan tadi pagi tidak akan ada apa-apanya dibanding badai yang akan
terjadi.*** (Bersambung...)