Hawa dingin mulai menusuk tulang saat bus pariwisata itu merayap pelan, terjebak dalam arus lalu lintas yang menjemukan antara Bogor dan Puncak. Di dalam kabin, Ariadi menyandarkan seluruh lelahnya pada jok bus. Ia membenahi letak bantal kecil di tengkuknya, lalu menarik selimut oranye hingga menutupi separuh badan. Rasa hangat mulai menjalar, memberikan sedikit rasa nyaman di tengah perjalanan panjang ini.
Ariadi tak acuh pada keriuhan di dalam bus. Dentuman
sound system yang memutar lagu karaoke hingga suara rekan-rekannya yang asyik
mendendangkan lagu Minang yang tengah tren, seolah hanya lewat di telinganya.
Dalam temaram lampu bus yang meredup, rasa kantuk mulai menyapa. Ia menutupi
wajahnya dengan ujung selimut, namun bukannya terlelap, pikirannya justru
melayang jauh..., melintasi selat Sunda, kembali ke tanah Sumatera.
Kenangan itu berputar, pada sebuah malam sebelum
keberangkatan rombongan kerja ini ke Cianjur….
Tuk... tuk... tuk...
Ketukan di pintu rumah memecah keheningan malam. Ariadi
yang sedang enggan beranjak, baru tersentak saat sebuah suara lembut mencari
namanya. "Ada Pak Ariadi, Bu?"
Langkah kakinya membawa Ariadi ke ruang depan. Begitu
pintu terbuka, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. "Aisyah?"
gumamnya tak percaya.
"Pak, ini berkas tadi siang," ujar Aisyah
dengan suara gemetar. Ia menyerahkan seberkas laporan dengan gestur yang kikuk.
"Masya Allah, Aisyah... hujan-hujan begini? Kenapa
tidak besok saja?" Ariadi mencoba menutupi kegugupannya sendiri.
"Besok saya ada keperluan lain, Pak. Saya permisi
dulu," jawab Aisyah singkat.
Pandangan Ariadi beralih ke halaman. Di sana, seorang
pria sudah menunggu di atas motor di bawah rintik hujan. Suami Aisyah.
"Oh, Pak Eko. Mari, mampir dulu," ajak Ariadi basa-basi.
"Terima kasih, Pak, langsung saja," sahut suami
Aisyah. Aisyah pun naik ke boncengan, duduk menyamping dengan anggun namun
menyimpan kegelisahan. Sesaat sebelum motor melaju menghilang di tikungan,
Aisyah melirik ke arahnya. Tatapan itu... membuat jantung Ariadi berdesir
hebat. Ia tak habis pikir, Aisyah senekat itu datang malam-malam, bahkan
diantar suaminya sendiri….
"Pak Ariadi, nyanyi lagi yuk! Kita duet!"
Seruan Aisyah melalui mikrofon membuyarkan lamunan itu.
Ariadi menyingkap selimut dari wajahnya. Di lorong bus, Aisyah sudah berdiri
menatapnya, menyodorkan mikrofon dengan senyum yang sulit diartikan. Setelah
satu lagu pop Minang mereka bawakan dengan apik, bus akhirnya berhenti di
pelataran sebuah hotel di Puncak Ciloto.
Malam kian larut di Cianjur. Setelah membereskan barang,
Ariadi duduk terdiam di kursi kamar, ditemani kepulan uap dari secangkir kopi
hitam. Ia sendirian; dua rekan sekamarnya entah masih di mana. Keheningan itu
pecah oleh ketukan pelan di pintu.
Tuk, tuk, tuk...
Ariadi membuka pintu dan kembali terpaku.
"Assalamualaikum..." sapa Aisyah nyaris berbisik.
"Waalaikumussalam. Aisyah? Ada apa?" tanya
Ariadi, berusaha merendahkan suara agar tidak memicu desas-desus di lorong yang
bersebelahan dengan kamar ibu-ibu rombongan lain.
"Maaf, apa saya mengganggu?"
"Tidak, tidak. Saya hanya kaget. Belum tidur?"
"Belum... Temani saya keluar sebentar, yuk?"
Ariadi ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk. Mereka
berjalan menuju taman belakang hotel yang sepi. Ariadi mengambil posisi duduk
dengan jarak yang cukup aman di sisi kanan Aisyah, menjaga agar tidak ada mata
yang memandang aneh.
"Aisyah..." Ariadi memulai, namun suaranya
tercekat. Ia menunduk, memandangi ujung sepatunya.
"Pak Ariadi mau bicara apa?" desak Aisyah
lembut.
"Hm... apakah kamu pernah... memimpikan aku dalam
tidurmu?" tanya Ariadi dengan sangat hati-hati.
Aisyah terdiam cukup lama, lalu mengangguk pelan.
"Iya, pernah."
"Aku pun begitu. Sering sekali. Aku tidak tahu
mengapa," aku Ariadi jujur.
"Mungkin benar kata orang, mimpi itu hanya kembang
tidur, Pak."
"Mungkin. Tapi bermimpi tentang kita terasa tidak
wajar, Aisyah. Aku memimpikan wanita yang sudah bersuami."
"Jangan terlalu dipikirkan, Pak..." sahut
Aisyah. Ia melirik pria di sampingnya, seorang pria yang usianya terpaut jauh
darinya.
Ariadi menarik napas panjang. "Sebenarnya, aku sudah
lama menyimpan simpati padamu. Tapi aku terlalu takut untuk
mengatakannya."
"Pak... tolong jangan diteruskan. Aku takut
mendengarnya," potong Aisyah cepat. Matanya menatap lampu taman yang
berpijar redup. "Ini berbahaya bagi kita berdua."
"Iya, aku paham," Ariadi manggut-manggut lesu.
"Mari kita jalani saja hidup seperti biasa, Pak.
Termasuk malam ini. Pak Ariadi pasti mengerti mengapa aku minta ditemani ke
sini," lanjut Aisyah pelan namun tajam.
Ariadi kembali terdiam, meresapi setiap kata itu.
"Ya, kamu benar. Kita jalani saja. Biarlah rahasia hati ini tetap terkunci
rapat, tanpa perlu ada yang tahu."
"Di kantor pun, kita harus tetap menjaga jarak yang
sama," tambah Aisyah.
Udara dini hari kian menggigit saat mereka akhirnya
bangkit dan meninggalkan taman menuju kamar masing-masing. Tak perlu ada
pernyataan cinta yang menggebu atau genggaman tangan yang erat. Biarlah cinta
itu tersimpan di palung hati yang terdalam. Cukup mata yang berbicara, sebab
bahasa mata adalah dialek paling jujur bagi sebuah rasa yang tak mungkin
bersatu.***
