Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Melodi Di Luar Batas (Bagian Keempat)

"Kalian udah dengar belum? The Thenith  punya personel baru."

"Serius? Siapa? Bukannya Gavin udah pindah?"

"Nggak ada yang tahu. Katanya cewek, tiap latihan selalu pakai masker sama topi. Kemarin anak-anak futsal nggak sengaja dengar mereka latihan dari luar basement, dan permainan keyboard-nya gila banget!"

Ilustrasi gambar (Mode Ai)

Anya mempercepat langkah kakinya di koridor lantai dua, memeluk buku cetak Kimia tebalnya erat-erat seolah benda itu bisa melindunginya dari gosip yang berseliweran. Telinganya terasa panas. Baru satu minggu ia bergabung dalam pelarian rahasia ini, dan namanya, atau lebih tepatnya, sosok misteriusnya, sudah menjadi buah bibir di seantero SMA Pelita Kasih.

"Anya!"

Langkah Anya terhenti saat sebuah tepukan mendarat di pundaknya. Ia berbalik dan mendapati Citra, teman sebangkunya yang merupakan ketua seksi mading sekolah, menatapnya dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu.

"Eh, Cit. Kenapa?" Anya berusaha tersenyum senormal mungkin.

"Lo kan sering belajar di perpustakaan lantai bawah yang deket jendela arah basement, lo pernah lihat nggak cewek misterius yang lagi diomongin anak-anak? Gue pengin banget dapet liputannya buat mading minggu ini," kata Citra antusias.

Jantung Anya berdegup dua kali lebih cepat. "Ngg... nggak pernah, Cit. Gue kalau udah belajar biasanya pakai earphone dan fokus ke soal. Nggak merhatiin sekitar."

"Yah, sayang banget." Citra mendesah kecewa. "Padahal kepo banget. Oh ya, lo pulang jam berapa nanti? Mau ke kantin bareng?"

"Gue langsung pulang, Cit. Ada simulasi mandiri yang harus gue kejar," bohong Anya, rasa bersalah sedikit menyengat hatinya.

"Oh, oke deh. Semangat ya, Juara Umum!" Citra melambaikan tangan lalu berjalan menjauh.

Anya mengembuskan napas lega yang panjang. Ia melirik jam tangan digitalnya. Pukul dua siang. Bel pulang akan berbunyi dalam waktu lima belas menit lagi, dan itu berarti jam dinding di kepalanya akan mulai berputar melawan waktu.

"Anya, fokus. Ketukan lo melambat di baris kedua," tegur Devan dari balik mikrofon.

Di dalam ruang basement yang remang, Anya menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan jarum jam yang terus bergerak di benaknya. Di atas keyboard, jemarinya mulai terasa kaku.

"Maaf," bisik Anya dari balik masker hitamnya. "Bisa kita ulang dari verse dua?"

Reno menurunkan stik drumnya dengan helaan napas pendek. "El, lo oke? Hari ini lo kayak nggak ada di sini. Pikiran lo ke mana-mana."

"Gue oke. Cuma agak capek," jawab Anya.

Sebenarnya, Anya tidak oke. Sesi latihan yang biasanya selesai pukul 16.30 kini molor karena mereka sedang mematangkan aransemen akhir untuk dikirim ke panitia kurasi Rock Festival 2026 besok pagi. Ini adalah tenggat waktu krusial. Namun, di sisi lain, batas aman Anya untuk sampai di rumah adalah pukul 17.15 sebelum ibunya pulang dari rumah sakit.

"Oke, sekali lagi dari verse dua. Setelah ini kita selesai," putus Devan, matanya menatap Anya dengan pandangan menyelidik yang tajam.

Mereka memainkan bagian akhir lagu itu dengan intensitas penuh. Melodi keyboard Anya bersahut-sahutan dengan raungan gitar Leo, ditutup dengan gebukan drum Reno yang menggelegar. Begitu chord terakhir memudar, Anya langsung mematikan sakelar keyboard tanpa menunggu komentar dari yang lain.

"Gue harus pergi," kata Anya terburu-buru, menyambar tas ranselnya dan memakai topinya lebih rendah.

"Eh, El! Kita belum evaluasi," ucapan Leo terputus karena Anya sudah melesat keluar pintu basement seperti dikejar setan.

Devan meletakkan gitarnya di stan. "Kalian rapikan alat-alat. Gue cabut duluan," katanya pendek, lalu berlari menyusul Anya.

Anya berjalan setengah berlari menuju gerbang belakang sekolah. Napasnya memburu, dan dadanya terasa sesak karena panik. Ia merogoh saku roknya untuk memeriksa ponsel, dan jantungnya hampir copot saat melihat tiga panggilan tak terjawab dari Ibu.

"Anya!"

Sebuah tangan mencengkeram lengan atasnya, membuat Anya tersentak dan berbalik. Devan berdiri di sana, napasnya sedikit memburu setelah mengejarnya.

"Lepasin, Dev! Gue harus pulang sekarang!" Anya mencoba menyentak tangannya, namun genggaman Devan kokoh tapi tidak menyakiti.

"Lo kenapa panik banget? Ada apa?" tanya Devan, suaranya melembut, kehilangan nada sinis yang biasanya selalu ada.

"Nyokap gue, Dev! Dia udah telepon tiga kali. Kalau sampai gue nggak ada di rumah saat dia sampai, dia bakal interogasi gue, dia bakal tahu gue bohong, dan semua ini..." Anya menunjuk dirinya sendiri, "...semua kegilaan ini bakal berakhir! Buku gue nggak akan pernah balik!"

Devan terdiam melihat sudut mata Anya yang mulai digenangi air mata tiruan dari rasa frustrasi yang menumpuk. Sisi rapuh dari sang Juara Umum terpampang jelas di depannya.

Tanpa sepatah kata pun, Devan melepas cengkeramannya, lalu menarik kunci motor dari saku celananya. "Ikut gue."

"Apa? Nggak mau, gue mau naik ojek online aja"

"Ojek online butuh waktu sepuluh menit buat dateng ke sini, dan jalan depan lagi macet total karena perbaikan jalan," potong Devan cepat, menunjuk ke arah jalan raya di luar gerbang. "Motor gue bisa selap-selip lewat gang tikus. Kalau lo mau sampai rumah dalam waktu lima belas menit, naik."

Anya menatap motor matik hitam Devan yang agak lecet di beberapa bagian, lalu beralih menatap mata Devan yang memancarkan keyakinan. Tidak ada waktu untuk berdebat. Anya naik ke boncengan motor Devan, memegang pinggiran besi belakang motor dengan erat.

"Pegangan yang kuat, Tuan Putri. Kita bakal ngebut," kata Devan.

Motor Devan membelah jalanan kota yang mulai padat, melesat masuk ke gang-gang sempit yang hanya muat satu kendaraan. Di atas motor, di antara embusan angin sore, Anya memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, rasa takutnya perlahan terkikis oleh perasaan bebas yang asing namun melegakan.

Tepat pukul 17.10, motor Devan berhenti sekitar lima puluh meter dari gerbang rumah megah berpagar hitam milik keluarga Anya.

Anya turun dari motor, buru-buru melepas topi dan masker milik Devan, lalu menyerahkannya kembali. "Makasih, Dev."

"Anya," panggil Devan sebelum gadis itu melangkah pergi.

Anya menoleh.

"Lagu kita lolos kurasi awal. Besok pengumumannya," kata Devan dengan senyum tipis. "Satu langkah lagi menuju final. Jangan menyerah sekarang."

Anya tertegun, lalu sebuah senyuman tulus, bukan topeng, terukir di wajahnya untuk pertama kali di depan Devan. "Gue nggak akan menyerah."

Namun, senyum Anya langsung lenyap ketika ia berbalik dan melihat mobil sedan hitam milik ibunya baru saja berbelok masuk ke ujung jalan komersial menuju rumah mereka. Ibunya sudah pulang. *** (Bersambung…)

Posting Komentar untuk "Melodi Di Luar Batas (Bagian Keempat)"