Andika berdiri terpaku di depan pintu yang tertutup rapat. Tangannya terangkat, ragu sejenak, sebelum akhirnya mengetuk pelan. Detak jantungnya baru sedikit melandai saat daun pintu terkuak. Namun, kelegaan itu hanya bertahan sedetik. Rahma, wanita yang dicarinya, berdiri di sana dengan gurat permusuhan yang nyata. Tatapannya dingin, seakan kehadiran Andika adalah gangguan yang tak diinginkan.
"Buat apa Abang datang lagi?" suara Rahma datar,
namun menusuk.
Ia menyandarkan kepala di bingkai pintu, memalingkan
wajah seolah menatap Andika adalah beban yang berat. Andika menelan ludah.
Kerongkongannya mendadak terasa kelat dan kering.
"Abang ingin menjelaskan soal kegaduhan di media
sosial itu, Rahma. Semuanya tidak seperti yang kamu lihat," ujar Andika,
mencoba tetap tenang meski hatinya bergemuruh.
"Tidak perlu," tukas Rahma cepat. Suaranya
meninggi satu oktav. "Aku tidak butuh penjelasan karena aku sudah mengerti
semuanya!"
"Kamu salah paham..."
"Salah paham? Tidak, Bang!" Rahma memintas
tajam.
Andika terdiam. Ia menatap wajah Rahma yang tertutup
amarah, menyadari bahwa kebenaran yang ia bawa seolah mental di hadapan tembok
keras hati wanita itu. Dengan sisa harapan, ia menangkupkan kedua telapak
tangannya di depan dada.
"Rahma, beri aku satu kesempatan saja.
Tolong..."
"Kesempatan apa lagi? Semuanya sudah jelas. Aku
kecewa, Bang. Aku tidak bisa percaya lagi padamu. Maaf, aku ingin
istirahat," tutup Rahma dingin sembari membanting pintu.
Duar! Suara pintu yang menutup itu terasa seperti palu
yang menghantam dada Andika. Ia menarik napas panjang, mengusap rambutnya
dengan frustrasi. Dengan bahu lunglai, ia melangkah menuju motornya yang
terparkir di sudut halaman.
Andika memacu motornya meninggalkan pekarangan itu dengan
pikiran yang kacau. Jalanan desa yang rusak dan berlubang memaksanya
meliuk-liuk mencari celah yang rata. Pikirannya masih tertinggal di balik pintu
rumah Rahma, hingga ia abai pada kaca spion.
Braakkk! Praaaakkkk!
Senggolan keras dari arah belakang menghantam sisi
motornya. Sebuah motor lain melaju kencang saat Andika mencoba menghindari
lubang ke arah tengah. Tubuh Andika terpental, melayang sejenak sebelum
mendarat keras di atas rumput di pinggir jalan. Motornya sendiri terperosok ke
dalam selokan kering dengan suara besi yang beradu.
Suasana hening sesaat, sebelum kerumunan warga mulai
berdatangan.
Andika mencoba duduk. Rasa panas dan perih menjalar hebat
dari lutut dan sikunya. Ia meringis, melihat celana jinsnya sobek bersimbah
darah. Aspal telah menggerus kulitnya hingga menyisakan linu yang menusuk
tulang.
"Ayo, Pak, ke Puskesmas. Lukanya cukup dalam
itu," ujar seorang warga dengan nada khawatir.
"Iya, Pak. Mari naik ke mobil saya," timpal
seorang sopir pickup yang kebetulan berhenti.
"Tidak usah... saya tidak apa-apa," sahut
Andika lirih, meski keringat dingin mulai membasahi keningnya.
"Jangan keras kepala, Pak. Kalau infeksi bisa
bahaya," desak warga lainnya.
Andika akhirnya pasrah. Ia dibopong naik ke bak pickup.
Di sepanjang jalan menuju Puskesmas, ia hanya bisa menatap langit, meratapi
nasibnya yang seolah jatuh tertimpa tangga.
Di ruang IGD, aroma antiseptik menyeruak. Petugas medis
baru saja selesai membersihkan luka-luka Andika ketika ia mencoba duduk tegak.
"Terima kasih sudah menolong saya," ucap Andika
kepada para pemuda yang mengantarnya.
"Sama-sama, Pak," jawab salah satu pemuda. Ia
menatap Andika lekat-lekat. "Bapak tidak ingat saya?"
Andika mengerutkan kening, mencoba menggali ingatan di
kepalanya yang masih agak pening. Ia menggeleng pelan.
"Saya Jumadi, murid Bapak dulu di SMP."
Senyum tipis muncul di wajah pucat Andika. "Oh...
Madi. Terima kasih banyak ya, Madi."
Setelah rombongan Jumadi pamit, Andika bermaksud meminta
izin pulang. Namun, sebuah bayangan muncul di ambang pintu. Sosok itu berdiri
mematung dengan mata yang berkaca-kaca.
"Abang... kenapa bisa jadi begini?"
Andika tersentak. "Rahma?"
Wanita itu melangkah mendekat. Wajah masam yang tadi ia
perlihatkan kini berganti dengan raut kecemasan dan rasa bersalah yang dalam.
Kabar kecelakaan itu rupanya sampai ke telinganya tak lama setelah Andika pergi
dari rumahnya.
"Terima kasih kamu mau datang menjenguk," gumam
Andika tulus.
Rahma menunduk, tak sanggup menatap mata Andika.
"Aku minta maaf, Bang. Ini semua gara-gara aku... Kalau saja tadi aku
tidak mengusirmu..."
"Sudahlah, Rahma. Lupakan saja. Ini sudah
takdirku," potong Andika lembut.
Keheningan menyelimuti mereka. Luka di kaki Andika
mungkin akan sembuh dalam hitungan hari, namun ia tahu, luka di hati Rahma membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk pulih. Rahma berpamitan
dengan suara bergetar, meninggalkan Andika yang kini menatap langit-langit ruang
IGD dengan perasaan yang jauh lebih tenang dari sebelumnya.***
(Bersambung)