-->

Di Ujung Senja : Kabar Gembira (Bagian Ketiga)

Ringkasan cerita bagian kedua : Pak Supri sedang istirahat menjelang sore di bangku emperan di depan rumah ketika sebuah mobil Avanza berhenti. Pemilik mobil adalah tamu pak Supri yang tidak diduga. Siapakah tamu pak Supri yang tidak diduga itu? Simak kelanjutan ceritanya pada Bagian Ketiga berikut ini! 

*****

"Mari, silakan naik ke rumah bapak yang sederhana ini..." ujar Pak Supri mempersilahkan Alfian dan istrinya, Nadya. Meski terlihat mewah dengan penampilannya, Nadya tampak tidak canggung sama sekali melangkah naik ke rumah panggung itu.

Gambar ilustrasi (Ai Mode)

"Duh, maaf ya, rumah bapak tidak punya kursi tamu. Terpaksa duduk bersila di tikar pandan ini, Nak Nadya," ucap Pak Supri dengan nada sedikit risih, merasa tidak enak hati menjamu tamu penting di lantai.

"Tidak apa-apa, Pak... Saya sudah biasa kok. Justru duduk begini terasa lebih akrab," sahut Nadya lembut seraya duduk bersimpuh dengan sopan.

Sambil menunggu istrinya berbincang, Alfian meletakkan buah tangan yang mereka bawa di sudut ruangan, dekat galon air minum. Dengan cekatan, ia membuka kardus air mineral di bawah meja, mengambil tiga botol, lalu menyajikannya di atas tikar dengan pipet penyedot. Ia tampak sangat ringan tangan, seolah sedang berada di rumah orang tuanya sendiri.

Interior rumah panggung itu memang sangat bersahaja. Tidak ada sekat kamar. Di satu pojok, hanya ada tempat tidur kecil, lemari pakaian plastik, serta sebuah meja dan kursi kayu tua yang tertata rapi. Di pojok lainnya, hanya ada meja makan kecil dan galon air. Semuanya bersih, mencerminkan kepribadian pemiliknya yang disiplin.

Tak lama setelah Alfian duduk bersila, ponsel di saku celananya berdering. "Maaf ya, Pak, saya angkat telepon ini sebentar," pamit Alfian hormat. Pak Supri mengangguk kecil.

"...Ya, begini saja, satu jam lagi saya sampai di lokasi. Tolong sampaikan pada panitia, saya pasti hadir di acara tersebut. Paham?" tegas Alfian dengan nada bicara yang berwibawa sebelum menutup telepon.

Pak Supri hanya terdiam, namun rasa penasarannya semakin membuncah melihat wibawa muridnya itu.

"Kamu kerja di mana sekarang, Al? Sepertinya tanggung jawabmu besar sekali," tanya Pak Supri, tak mampu lagi menyembunyikan keingintahuannya.

Alfian tersenyum takzim. "Berkat didikan dan ilmu yang Bapak ajarkan dulu, alhamdulillah, saya sekarang jadi polisi, Pak."

"Alhamdulillah, Pak Supri... Mas Alfian sekarang bertugas sebagai Kapolres di Kabupaten Saelok ini, di kampung halaman Bapak sendiri," timpal Nadya dengan wajah bangga namun tetap rendah hati.

Mata Pak Supri membelalak. Tubuhnya bergetar sesaat karena rasa haru. "Masya Allah...! Kamu... kamu sekarang jadi Kapolres, Alfian? Bapak tidak menyangka murid bapak sehebat ini sekarang..." seru Pak Supri dengan suara parau menahan tangis bangga.

"Siapa dulu gurunya, Pak Supri? Hehe..." canda Alfian mencoba mencairkan suasana haru.

Simak kembali :

Di Ujung Senja - Mantan Murid (Bagian Kedua)

Namun, satu pertanyaan masih mengganjal di hati Pak Supri. "Lantas, dari mana Pak Kapolres bisa tahu kalau bapak tinggal di Dusun Malenggang ini? Padahal bapak sudah lama sekali pensiun dan memilih menyepi di sini..." ***  (Bersambung ke Bagian Keempat)