-->

Di Ujung Senja - Mantan Murid (Bagian Kedua)

Ringkasan cerita bagian 1 : Pak Supri sedang istirahat menjelang sore di bangku emperan di depan rumah ketika sebuah mobil Avanza berhenti. Pemilik mobil adalah tamu pak Supri yang tidak diduga. Siapakah tamu pak Supri yang tidak diduga itu? Simak kelanjutan ceritanya di Bagian Kedua berikut ini! 

Ilustrasi gambar (Mode Ai)

Pintu mobil Avanza warna hitam itu terbuka. Sang sopir yang berpostur tubuh tinggi dan berkulit putih itu membuka rayben-nya, turun dari mobil kemudian melangkah pasti dan membuka pintu pagar bambu dan masuk pekarangan. 

"Assalamualaikum, bapak...." ujar sang sopir dengan wajah ceria dan mengangguk hormat.

"Waalaikum salam..." sahut pak Supri ragu-ragu.

Sang sopir menyalami lelaki tua itu sambil mencium tangannya. Layaknya seorang anak kepada orangtua atau murid kepada gurunya. Tanpa disuruh, sang sopir duduk di samping lelaki tua itu.

"Bagaimana kabar bapak?"

"Alhamdulillah, bapak baik-baik saja. Hm..., ini siapa ya?" tanya pak Supri semakin penasaran. Sang sopir tersenyum. Lalu berkata,

"Coba bapak lihat dan perhatikan saya baik-baik..."

Pak Supri memperhatikan wajah sang sopir yang sedang tersenyum ramah kepadanya. Kemudian mengamati pakaian pria muda itu dengan seksama. Sepertinya ia bukan orang sembarangan. Menilik postur tubuh dan kostumnya paling tidak ia seorang polisi yang tidak sedang bertugas dan berpakaian biasa.

"Sungguh, bapak tidak mengenalmu, nak...," ujar pak Supri seraya geleng-geleng kepala.

"Saya Alfian…, murid bapak sewaktu SMP di Ranah Batu dulu..." aku sang sopir kemudian.

Alfian? Pak Supri coba mengingat-ingat kemasa lalu ketika ia masih aktif di SMP Ranah Batu. Tiba-tiba pak Supri manggut-manggut sambil mengingat-ingat muridnya yang bernama Alfian!

"Masyaallah...! Kamu... Alfian, yang dulu begitu rajin dalam organisasi Osis di smp...?" seru pak Supri tiba-tiba mana kela teringat salah seorang muridnya yang bernama Alfian.

"Benar, pak... Wah, luar biasa, meskipun sudah pensiun ternyata ingatan bapak masih kuat dan masih bisa mengingat mantan muridnya." Alfian memuji.

"Kamu semakin pintar saja memuji, Alfian," timpal pak Supri menepuk-nepuk bahu Alfian.

Alfian terdiam sejenak, teringat ketika masih belajar IPA bersama pak Supri. Gurunya itu asik, tegas dan penuh humor. Tapi kalau sudah marah karena ada teman yang main-main, semua murid di kelas jadi takut.

"Lho, pak... Saya tidak diajak masuk ke rumah bapak?" ujar Alfian tiba-tiba.

"Tapi..., rumah bapak tidak memiliki kursi. Hanya duduk beralaskan tikar pandan, Alfian..." tukas pak Supri.

"Ah, bapak santai aja kali, jangan begitu dong, pak..." potong Alfian. "Bukankah dulu bapak selalu bercerita di kelas tentang hubungan hukum Fisika dengan keikhlasan dan menerima  kenyataan hidup ini apa adanya...?"

Pak Supri manggut-manggut.

"Ya..., kalau begitu, mari kita masuk..." ajak pak Supri kemudian.

"Syakinah...! Ayo kesini...!" seru Alfian, memanggil seseorang perempuan yang masih berada di dalam mobil.

Seorang perempuan cantik turun dari mobil seraya membuka rayben hitamnya. Ia membawa sesuatu di tangannya.

"Istrimu...?" Pak Supri setengah berbisik.

"Iya, pak..." Alfian balas berbisik.

Simak juga :

Di Ujung Senja : Tamu Tak Diduga (Bagian Kesatu)

Syakinah, istrinya Alfian menyalami pak Supri sambil mencium punggung tangannya. Lalu pak Supri menaiki tangga rumah diikuti Alfian dan istrinya. *** (Bersambung...)