Ringkasan cerita bagian 1 : Pak Supri sedang istirahat menjelang sore di bangku emperan di depan rumah ketika sebuah mobil Avanza berhenti. Pemilik mobil adalah tamu pak Supri yang tidak diduga. Siapakah tamu pak Supri yang tidak diduga itu? Simak kelanjutan ceritanya di Bagian Kedua berikut ini!
Pintu mobil Avanza warna hitam itu terbuka. Sang sopir yang berpostur tubuh tinggi dan berkulit putih itu membuka rayben-nya, turun dari mobil kemudian melangkah pasti dan membuka pintu pagar bambu dan masuk pekarangan.
"Assalamualaikum,
bapak...." ujar sang sopir dengan wajah ceria dan mengangguk hormat.
"Waalaikum salam..."
sahut pak Supri ragu-ragu.
Sang sopir menyalami lelaki
tua itu sambil mencium tangannya. Layaknya seorang anak kepada orangtua atau
murid kepada gurunya. Tanpa disuruh, sang sopir duduk di samping lelaki tua
itu.
"Bagaimana kabar
bapak?"
"Alhamdulillah, bapak
baik-baik saja. Hm..., ini siapa ya?" tanya pak Supri semakin penasaran.
Sang sopir tersenyum. Lalu berkata,
"Coba bapak lihat dan
perhatikan saya baik-baik..."
Pak Supri memperhatikan
wajah sang sopir yang sedang tersenyum ramah kepadanya. Kemudian mengamati
pakaian pria muda itu dengan seksama. Sepertinya ia bukan orang sembarangan.
Menilik postur tubuh dan kostumnya paling tidak ia seorang polisi yang tidak
sedang bertugas dan berpakaian biasa.
"Sungguh, bapak tidak mengenalmu, nak...,"
ujar pak Supri seraya geleng-geleng kepala.
"Saya Alfian…, murid
bapak sewaktu SMP di Ranah Batu dulu..." aku sang sopir kemudian.
Alfian? Pak Supri coba
mengingat-ingat kemasa lalu ketika ia masih aktif di SMP Ranah Batu. Tiba-tiba
pak Supri manggut-manggut sambil mengingat-ingat muridnya yang bernama Alfian!
"Masyaallah...! Kamu...
Alfian, yang dulu begitu rajin dalam organisasi Osis di smp...?" seru pak
Supri tiba-tiba mana kela teringat salah seorang muridnya yang bernama Alfian.
"Benar, pak... Wah, luar biasa, meskipun sudah pensiun ternyata ingatan bapak masih kuat dan masih bisa mengingat mantan muridnya." Alfian memuji.
"Kamu semakin pintar
saja memuji, Alfian," timpal pak Supri menepuk-nepuk bahu Alfian.
Alfian terdiam sejenak, teringat ketika masih belajar IPA bersama pak Supri. Gurunya itu asik, tegas dan penuh humor. Tapi kalau sudah marah karena ada teman yang main-main, semua murid di kelas jadi takut.
"Lho, pak... Saya tidak
diajak masuk ke rumah bapak?" ujar Alfian tiba-tiba.
"Tapi..., rumah bapak
tidak memiliki kursi. Hanya duduk beralaskan tikar pandan, Alfian..." tukas pak Supri.
"Ah, bapak santai aja kali, jangan
begitu dong, pak..." potong Alfian. "Bukankah dulu bapak selalu
bercerita di kelas tentang hubungan hukum Fisika dengan keikhlasan dan menerima kenyataan hidup ini apa adanya...?"
Pak Supri manggut-manggut.
"Ya..., kalau begitu,
mari kita masuk..." ajak pak Supri kemudian.
"Syakinah...! Ayo
kesini...!" seru Alfian, memanggil seseorang perempuan yang masih berada di dalam
mobil.
Seorang perempuan cantik
turun dari mobil seraya membuka rayben hitamnya. Ia membawa sesuatu di tangannya.
"Istrimu...?" Pak
Supri setengah berbisik.
"Iya, pak..."
Alfian balas berbisik.
Di Ujung Senja : Tamu Tak Diduga (Bagian Kesatu)
Syakinah, istrinya Alfian
menyalami pak Supri sambil mencium punggung tangannya. Lalu pak Supri menaiki tangga rumah diikuti Alfian dan istrinya. *** (Bersambung...)
.png)