"Maaf, izin koreksi, Bapak..." sela Alfian lembut, memotong sapaan kaku mantan gurunya. Ia meraih tangan Pak Supri, menggenggamnya dengan takzim. "Jangan panggil saya 'Pak' atau 'Pak Kapolres'. Di rumah ini, di hadapan Bapak, saya tetaplah Alfian. Murid nakal yang dulu sering Bapak bimbing."
Mata tua Pak Supri berkaca-kaca, ada binar haru yang
tertahan di balik kacamata tebalnya. Ia tersipu, merasa dihargai dengan begitu
tulus. "Oh ya? Maafkan Bapak, Nak Alfian. Rasanya lidah ini masih canggung mengetahui kamu jadi kepala polisi," ujarnya lirih, lalu meralat
pertanyaannya. "Lalu, bagaimana kisahnya kamu bisa tahu Bapak ada di
pelosok Dusun Malenggang ini?"
Alfian tersenyum, tatapannya menerawang ke masa lalu.
"Begitu saya ditugaskan di kabupaten ini, ingatan saya langsung tertuju
pada Bapak. Saya ingat betul, dulu di SMP, Bapak sering bercerita tentang
keindahan tanah kelahiran Bapak di Saelo ini."
Ia melanjutkan ceritanya dengan nada yang lebih hangat,
"Saat libur lebaran kemarin, saya pulang ke kampung saya ke Ranah Batu dan menyempatkan
mampir ke rumah Bapak di sana. Tapi, saya hanya bertemu Ibu dan anak-anak. Kata
mereka, Bapak memilih kembali ke kampung halaman ini untuk menikmati masa tua.
Kebetulan sekali, salah satu anggota saya ada yang berasal dari dusun Malenggang ini.
Begitu dia menyebut nama Bapak, saya langsung tahu bahwa itu adalah guru yang
saya cari."
Pak Supri menghela napas panjang, sebuah senyum getir
menghiasi wajahnya yang mulai keriput. "Betul, Alfian... Setelah memasuki
masa pensiun, Bapak merasa ingin pulang ke akar, kembali ke kampung halaman saya ini. Dan... yah, beginilah keadaan
Bapak sekarang. Jauh dari hiruk-pikuk, hanya ditemani sunyi."
"Tapi, Bapak baik-baik saja, bukan? Maksud saya...
secara kesehatan?" tanya Alfian dengan nada penuh kekhawatiran yang jujur.
"Alhamdulillah... Tuhan masih memberi nafas dan
kekuatan untuk sekadar berkebun kecil-kecilan," jawab Pak Supri tenang.
"Apakah Bapak masih menulis seperti dulu?"
Mendengar pertanyaan itu, wajah Pak Supri mendadak cerah.
"Masih, Alfian. Gadget android untuk berkarya di internet adalah teman bicara Bapak saat sepi
melanda."
"Wah, luar biasa, Bapak... Semangat Bapak tidak
pernah padam," puji Alfian tulus. Istri Alfian yang sedari tadi menyimak,
ikut mengangguk kagum melihat dedikasi sang guru.
"Ya, mungkin karena sudah menjadi napas sejak dulu,
Alfian... Menulis membuat Bapak merasa tetap 'ada'," jawab beliau bijak.
Suasana hening sejenak, penuh dengan rasa hormat yang
memenuhi ruangan sederhana itu. Alfian melirik arlojinya, lalu menatap Pak
Supri dengan berat hati. "Hm, sepertinya saya dan istri harus pamit dulu,
Bapak. Kebetulan setelah ini ada agenda dinas yang tidak bisa saya
tinggalkan."
"Tentu, tentu... Tugas negara tetap yang
utama," Pak Supri mengangguk maklum.
Alfian dan istrinya bangkit serentak. Dengan gerakan yang
penuh penghormatan, Alfian membungkuk dalam dan mencium punggung tangan
gurunya, sebuah gestur yang menunjukkan bahwa pangkat setinggi apa pun tak akan
melampaui jasa seorang pendidik.
Pak Supri mengiringi langkah mereka hingga ke pintu pagar
kayu yang sudah mulai lapuk. Saat mobil dinas itu mulai bergerak perlahan,
Alfian menurunkan kaca jendela. Ia memberikan hormat komando yang paling tegak,
bukan sebagai atasan kepada bawahan, melainkan sebagai seorang murid yang memberikan
salam terakhir bagi pahlawannya.
Di Ujung Senja : Kabar Gembira (Bagian Ketiga)
Di bawah semburat jingga ujung senja, Pak Supri berdiri
mematung, membalas hormat itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Air matanya
jatuh juga. Ia melihat mobil itu menjauh, membawa pergi salah satu 'karya
terbaik' yang pernah ia tulis dalam sejarah hidupnya sebagai seorang guru.***
(Bersambung)
