Tekadku sudah bulat: begitu sampai di Puncak, aku akan istirahat total! Empat hari terakhir benar-benar menguras energi. Bayangkan saja, dua hari habis di atas bus menempuh perjalanan darat yang panjang, disusul dua hari berikutnya menerjang hiruk-pikuk Jakarta.
Macet dan keramaian di musim liburan ternyata punya cara sendiri untuk membuat raga rontok. Padahal, agenda utama kami para rekan sejawat guru adalah Rapat Anggota Tahunan Koperasi.
Rapat itu baru digelar malam ketiga setelah kami lelah
berwisata seharian, dan baru tuntas saat dini hari. Meski melelahkan, setidaknya
ada rasa lega karena keputusan rapat berakhir memuaskan.
Hari keempat, usai mengunjungi Taman Mini Indonesia
Indah, rombongan akhirnya bertolak ke Puncak. Kami tiba pukul delapan malam di
sebuah hotel di kawasan Ciloto, Cipanas.
Aku mendapatkan kamar nomor 211 di lantai dua. Begitu pintu tertutup, aku langsung membasuh diri. Air hangat menyentuh kulit, membuat badan terasa sedikit lebih segar. Aku segera mengenakan kaos lengan panjang dan kaos kaki tebal untuk menghalau dinginnya udara pegunungan yang mulai menggigit.
Sambil menunggu air mendidih untuk menyeduh minuman hangat,
kunyalakan televisi sekadar untuk memecah sunyi dengan suara sinetron yang
sedang tayang.
Kamarku cukup luas dan tertata rapi. Namun, pandanganku
justru terpaku pada pintu di bagian belakang. Aku melangkah, memutar kunci, dan
membukanya karena penasaran.
Seketika, aku tertegun.
Di balik pintu itu, hamparan lampu perumahan penduduk di
lereng Puncak berkelap-kelip seperti taburan bintang yang jatuh ke bumi. Indah
sekali. Udara dingin yang kontras dengan cuaca di daerah asalku menyapu wajah,
membuatku refleks mengeratkan pakaian.
Aku tersenyum sendiri. Tiba-tiba, rencana untuk segera
tidur hilang entah ke mana. Hatiku mendadak ringan, dan beban hidup yang
belakangan ini terasa menyesakkan pundak seolah menguap begitu saja.
Benar kata kutipan bijak yang sering kulihat di media
sosial: Sendiri itu terkadang lebih baik.
Ya, di kesunyian Kamar 211 ini, aku menemukannya.
Alih-alih memejamkan mata, tanganku justru gatal ingin menulis. Aku ingin
mengabadikan setiap jengkal perjalanan ini, tentang letihnya bus, macetnya
Jakarta, hingga damainya Ciloto malam ini.
Malam ini, hanya ini yang sanggup kutuangkan. Semoga esok
hari membawa makna yang lebih dalam, agar aku bisa terus merangkai kisah
perjalanan ini hingga usai.***
