Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mantan Pacar

Gerimis tipis membasahi halaman sebuah es-em-pe di desa yang menjadi tempatku mengabdi sebagai guru IPA. Sore itu, lingkungan sekolah sudah sepi. Hanya ada aku yang sedang menyelesaikan nilai rapor, dan Wirna, guru bahasa Inggris sekaligus mantan pacarku semasa kuliah, yang masih membereskan buku di meja seberang.

Ilustrasi gambar (Mode Ai)

Hubungan kami profesional. Masa lalu sudah selesai sejak Wirna memilih menikah dengan pilihan orang tuanya, seorang pria lokal bernama Deka.

Namun, sore itu ketenangan kami pecah saat pintu ruang guru didobrak kasar.

Deka berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan mata merah. Ia tidak datang untuk menjemput istrinya dengan ramah, melainkan membawa kecemburuan buta yang sudah lama ia pendam.

"Ooh, jadi begini kelakuan kalian kalau sekolah sudah sepi?" teriak Deka, suaranya menggema di koridor kosong.

Wirna terlonjak, wajahnya langsung pucat. "Mas Deka! Jaga bicaramu, kami cuma bekerja!"

"Bekerja atau mengenang masa lalu?" Deka melangkah maju, menunjuk mukaku dengan telunjuknya. "Kamu, guru yang sok tahu, jangan pikir aku tidak tahu riwayatmu dengan istriku. Berhenti mendekati Wirna, atau kuselesaikan kamu di luar sekolah!"

Aku berdiri dari kursi, berusaha tetap tenang meski jantungku berdegup kencang. Sebagai sesama pendidik di desa yang menjunjung tinggi norma, keributan seperti ini bisa menghancurkan reputasi kami.

"Pak Deka, tolong tenang," kataku dengan nada rendah, menjaga wibawa. 

"Kami di sini murni karena pekerjaan. Ruangan ini terbuka, dan tidak ada hal menyimpang yang terjadi. Tolong hormati tempat ini."

"Halah, jangan menceramahiku soal kehormatan!" Deka naik pitam, bersiap merangsek maju untuk mencengkeram kerah bajuku.

Sebelum keadaan memburuk, Wirna dengan berani berdiri di antara kami. Ia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca namun penuh amarah.

"Cukup, Mas! Kalau kamu tidak bisa membedakan urusan profesional dan pikiran kotor batinmu, silakan keluar. Jangan buat aku malu di depan murid-murid besok pagi!"

Ketegasan Wirna dan tatapan mataku yang tidak gentar rupanya membuat nyali Deka sedikit surut. Ia sadar, jika ia memukul seorang PNS di area sekolah, hukumannya tidak akan mudah.

Dengan mendengus kasar, Deka mundur satu langkah. "Pulang sekarang, Wirna!" geramnya, lalu berbalik dan melangkah pergi menembus hujan.

Wirna menghela napas panjang, bahunya merosot lemas. Ia menatapku dengan tatapan penuh permohonan maaf sebelum akhirnya menyusul suaminya.

Aku kembali duduk di kursiku, memandang ke luar jendela. Sengketa sore itu memang mereda, namun aku tahu, mengajar di sekolah desa ini tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini. ***

Posting Komentar untuk "Mantan Pacar "