Melodi Di Luar Batas (Bagian Kelima)
"Kita masuk final!" Teriakan Reno mengguncang ruang basement sore itu. Cowok bertubuh bongsor itu langsung memeluk Leo hingga sang gitaris hampir tercekik, lalu beralih menepuk pundak Devan dengan keras. Di situs resmi Rock Festival 2026, nama The Thenith bertengger di daftar sepuluh besar band yang lolos ke babak final nasional.
"Lirik dan melodi keyboard lo yang bikin kita naik
kelas, El," kata Leo, menatap Anya dengan binar kekaguman yang tidak bisa
disembunyikan.
Anya, yang masih memakai masker dan topi bisbolnya, hanya
bisa tersenyum di balik kain. Jantungnya berdesir aneh. Ada rasa bangga yang
meletup-letup di dadanya, perasaan yang jauh berbeda saat ia menerima piala
juara kelas atau piagam olimpiade. Ini terasa lebih... nyata. Karena ini adalah
sesuatu yang ia ciptakan dari hatinya sendiri.
"Finalnya tiga minggu lagi," Devan membuka
suara, bersandar pada amplifier gitarnya sembari menatap Anya. "Dan babak
final bakal disiarkan live di YouTube festival. Itu artinya, aransemen kita
harus tanpa cela."
Anya tertegun. Disiarkan live di YouTube.
Mendadak, euforia di dada Anya menguap, digantikan oleh
rasa ngeri yang dingin. Jika panggung itu disorot kamera, risiko penyamarannya
terbongkar akan naik seratus persen. Namun, sebelum ia sempat memprotes, Devan
seolah bisa membaca ketakutannya.
"Tenang aja," potong Devan cepat, matanya
menatap Anya dengan sorot meyakinkan. "Gue udah bilang ke panitia. Untuk
konsep panggung, pemain keyboard kita bakal tetep pakai konsep misterius, pakaian
serba hitam dan penutup wajah. Mereka setuju karena itu dianggap sebagai
gimmick panggung yang unik."
Anya mengembuskan napas lega di balik maskernya.
"Oke. Makasih, Dev."
"Sama-sama, Tuan Putri," bisik Devan sangat
pelan, hampir tak terdengar oleh Reno dan Leo yang masih sibuk merayakan
kemenangan mereka di depan layar ponsel.
Malamnya, atmosfer di rumah Anya terasa berkali-kali
lipat lebih mencekam.
Anya baru saja menyelesaikan makan malamnya yang sunyi
bersama Renita. Saat Anya hendak berdiri untuk membawa piring kotornya ke
dapur, suara dingin Renita menghentikan gerakannya.
"Anya. Duduk."
Anya membeku. Nada suara itu bukan sekadar nada teguran
biasa. Itu adalah nada suara Renita saat mendapati malpraktik atau kesalahan
fatal. Anya kembali duduk, meremas jemarinya di bawah meja.
Renita meletakkan sebuah amplop berwarna merah tua ke
atas meja makan. Di depannya, ada selembar kertas tebal berlogo bimbingan
belajar khusus kedokteran tempat Anya bernaung.
"Ini surat peringatan dari kepala cabang institusi
les kamu," kata Renita, suaranya tenang namun menusuk. "Mereka
bilang, dalam dua minggu terakhir, kamu selalu terlambat tiga puluh menit masuk
kelas. Dan yang paling parah... nilai simulasi mingguan Biologi kamu drop ke
angka 85."
Jantung Anya serasa merosot ke perut. Angka 85 bagi anak
lain mungkin sebuah prestasi, tapi bagi Renata, itu adalah aib.
"Kamu ke mana saja setelah jam pulang sekolah,
Anya?" Renita menatap putrinya dengan mata yang menyipit curiga. "Ibu
tahu jadwal pulang SMA Pelita Kasih adalah pukul dua siang. Tapi kamu baru
sampai di tempat les jam empat sore. Dua jam itu kamu ke mana?"
"Anya... Anya belajar di perpustakaan sekolah dulu,
Bu. Nyari referensi tambahan," bohong Anya, suaranya bergetar halus.
"Jangan bohong!" Renata menggebrak meja,
membuat sendok dan garpu berdenting keras. "Ibu sudah telepon pihak
perpustakaan sore tadi. Petugas bilang kamu bahkan sudah jarang terlihat di
sana sejak minggu lalu!"
Anya menunduk dalam-dalam. Air mata mulai menggenang di
pelupis matanya, menahan sesak yang luar biasa di dadanya.
"Ibu tidak pernah membesarkan seorang pembohong,
Anya. Ibu melakukan semua ini agar kamu punya masa depan yang terjamin! Menjadi
dokter itu terhormat, tidak seperti... musisi jalanan atau orang-orang kalah di
luar sana!" Renita berdiri, menatap Anya dengan kekecewaan yang mendalam.
"Mulai besok, supir pribadi Ibu yang akan jemput kamu tepat di depan
gerbang sekolah jam dua siang. Tidak ada alasan lagi."
Renita berjalan pergi meninggalkan ruang makan,
menyisakan Anya yang terpaku dalam kesunyian yang mencekik.
Keesokan harinya, Anya berjalan gontai menuju ruang
basement dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. Sekolah sudah sepi karena
jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore, Anya terpaksa mengelabui supir
ibunya hari ini dengan alasan ada rapat OSIS darurat, namun taktik ini tidak
akan bisa ia gunakan lagi besok.
Di dalam basement, hanya ada Devan yang sedang menyetem
senar gitarnya. Reno dan Leo belum datang.
"Dev," panggil Anya dengan suara serak. Ia
melepas topi dan maskernya, menampilkan mata yang sembap dan wajah yang pucat.
Devan langsung meletakkan gitarnya begitu melihat kondisi
Anya. Ia melangkah maju, dahinya berkerut cemas. "Lo kenapa? Nyokap lo
tahu?"
"Hampir," bisik Anya, air matanya pertahanan
akhirnya runtuh juga. "Mulai besok gue dikawal supir. Gue nggak bisa
latihan lagi, Dev. Nilai gue turun, dan nyokap gue udah curiga. Gue... gue rasa
gue harus berhenti sekarang."
Anya menyerahkan sebuah flashdisk dari saku roknya.
"Ini... ini aransemen lagu penuh untuk babak final. Gue udah selesaiin
semuanya semalam. Kalian bisa pakai backing track keyboard atau nyari pemain
pengganti. Maaf... gue nggak bisa terusin ini."
Devan menatap flashdisk di tangan Anya, lalu beralih
menatap wajah gadis di depannya yang tampak begitu hancur oleh ekspektasi orang
tuanya sendiri. Ada dorongan kuat di dalam diri Devan untuk egois dan menahan
Anya demi band-nya, tapi melihat air mata Anya, ego itu lenyap.
Devan mengambil flashdisk itu, namun ia juga menggenggam
jemari Anya yang dingin.
"Gue nggak akan maksa lo kalau ini bikin hidup lo
kayak di neraka, Anya," kata Devan pelan, sepasang matanya menatap
lekat-lekat. "Tapi gue mau tanya satu hal sama lo. Jawab yang jujur."
Anya menatap Devan lewat sisa air matanya.
"Apa?"
"Waktu lo mainin lagu itu di atas tuts keyboard...
apa lo ngerasa tertekan?" tanya Devan. "Atau... lo ngerasa
hidup?"
Pertanyaan Devan menghantam dada Anya dengan telak.
Skenario hidupnya telah diatur rapi oleh sang ibu, namun hanya di ruangan
basement berdebu inilah ia benar-benar merasa memiliki kendali atas hidupnya
sendiri.
Sebelum Anya sempat menjawab, ponsel di dalam tas Anya
berdering keras. Nama Ibu kembali berkedip di layar, memotong satu-satunya
momen kejujuran yang hampir Anya ungkapkan.
Melodi Di Luar Batas Bagian Keempat
Anya kini berada di persimpangan jalan terbesar dalam hidupnya. *** (Bersambung....)
.png)
Posting Komentar untuk "Melodi Di Luar Batas (Bagian Kelima) "