-->

Titik Didih yang Terjaga

Suara gemericik air dari wastafel laboratorium menjadi musik latar yang setia menemani siang itu. Hendra sedang merapikan beberapa preparat sel bawang merah yang baru saja digunakan kelas 8A. Di sudut lain, Isyana sedang sibuk mencatat inventaris bahan kimia di buku besar.

Ilustrasi gambar (Ai Mode)

Mereka bertugas di sekolah ini cukup lama. Meja mereka berhadapan di ruang guru dan jadwal laboratorium mereka seringkali berdekatan.

"Bapak Hendra, asam klorida kita hampir habis. Mau pesan bareng minggu depan?" tanya Isyana tanpa menoleh, jemarinya lincah menulis.

Hendra yang usianya terpaut jauh dengan juniornya berhenti sejenak, memandang punggung Isyana yang terbalut seragam batik cokelat. "Boleh, Is. Nanti daftarnya kasih ke aku saja, biar aku yang urus ke bendahara."

Isyana menoleh, memberikan senyum tipis, senyum yang sama sejak tujuh tahun lalu. Isyana meletakkan botol mikroskop, gerakannya melambat. Ia menatap pantulan dirinya di kaca lemari alat.

"Bapak Hen, pernah tidak merasa... kita ini seperti hukum Newton ketiga?" tanya Isyana tiba-tiba.

Hendra menghentikan aktivitasnya mencuci tabung reaksi. Ia menoleh perlahan. "Aksi dan reaksi? Maksudmu, gimana?"

"Iya," Isyana berbalik badan, menyandarkan punggungnya pada meja laboratorium yang dingin. "Setiap ada gaya yang kita berikan, selalu ada gaya lawan yang besarnya sama tapi arahnya berlawanan. Seolah-olah, setiap kali aku ingin melangkah maju untuk mengatakan sesuatu yang jujur pada bapak, ada kekuatan lain yang mendorongku untuk tetap diam dan berbalik arah."

Hendra tertegun. Ia meletakkan tabung reaksi itu dengan hati-hati. "Is, dalam sains, keseimbangan itu penting. Jika gaya itu tidak berlawanan, sistemnya akan runtuh. Hidup kita... sudah menjadi sistem yang stabil."

"Tapi stabil bukan berarti bahagia sepenuhnya, kan?" Isyana menatap mata Hendra, ada genangan tipis yang ia tahan. "Kadang aku lelah menjadi guru IPA yang harus selalu logis. Aku ingin sekali-sekali menjadi guru sastra yang bisa bilang bahwa aku merindukan momen diklat di Padang itu tanpa merasa berdosa."

Hendra mendekat dua langkah, namun tetap menjaga jarak satu meter di antara mereka. "Aku ingat setiap detailnya, Is. Tapi kita bukan lagi dua atom bebas. Kita sudah terikat dalam molekul yang lebih besar. Ada anak-anak kita masing-masing yang menjadi elektron pelindungnya. Cinta kita itu seperti energi kinetik yang diubah menjadi energi potensial. Dia tidak hilang, Is. Dia hanya tersimpan."

Tiba-tiba, pintu laboratorium berderit. Ibu Ratna, guru BK, berdiri di sana dengan mata yang menyapu sisa-sisa suasana yang "berat" di udara.

"Masih betah di sini, Pak, Bu?" tanya Bu Ratna dengan nada menyelidik. "Hati-hati, laboratorium ini kurang ventilasi. Kalau terlalu lama menghirup udara yang sama, bisa-bisa kalian kehilangan kesadaran akan realita. Di sekolah ini, dinding pun punya mata."

Kalimat itu telak menghantam keduanya. Isyana dengan cepat merapikan tasnya, sementara Hendra hanya bisa mengangguk kaku.

Gerbang Sekolah, Sore Hari

Mereka berjalan menuju gerbang dalam diam. Di seberang jalan, sebuah mobil perak sudah menunggu, suami Isyana melambaikan tangan dengan ramah. Isyana berhenti tepat di ambang gerbang besi. Ia menoleh ke arah Hendra untuk terakhir kalinya hari itu.

"Besok... kita masih guru IPA yang sama, kan?" bisik Isyana.

Hendra mengangguk pelan. "Iya. Masih dua garis paralel yang saling menemani, tanpa pernah berani untuk berpotongan."

Isyana menyentuh lengan kemeja Hendra sekejap, sebuah kontak singkat yang terasa seperti sengatan listrik, sebelum akhirnya melangkah masuk ke mobil suaminya. Hendra berdiri mematung, melihat mobil itu menjauh dan menghilang di belokan jalan.

Hendra menyadari bahwa mereka adalah dua buku yang tersusun rapi di rak yang sama, namun berada di bab yang berbeda. Cinta mereka bukanlah sebuah ledakan besar yang menciptakan semesta baru. Cinta itu hanyalah sebuah partikel kecil yang melayang tenang dalam ruang hampa; tidak terlihat, tidak terdengar, namun memiliki massa yang cukup berat untuk membuat hatinya tetap menetap di sana.

Sore itu, Hendra pulang dengan sebuah kepastian: bahwa ada jenis kebahagiaan yang tidak berasal dari memiliki, melainkan dari menjaga rahasia agar tetap menjadi rahasia, demi kedamaian rumah-rumah yang telah mereka bangun di atas fondasi yang berbeda. *** TAMAT