Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Duo Guru

Knalpot motor bebek lansiran tahun 90-an milik Pak Herman selalu menjadi melodi pembuka hari di gang senggang itu. Suaranya brebet-brebet-brebet tersendat, batuk-batuk kecil membelah kabut pagi yang masih enggan beranjak. Bunyi purba itu kontras sekali dengan deru halus, nyaris tak terdengar, dari motor matic keluaran terbaru yang sedang dipanaskan oleh Widarti di sebelahnya.
Ilustrasi duo guru (Mode Ai)

"Pa, ganti olinya dong. Suaranya sudah seperti batuk orang tua," goda Widarti sambil mengklik tali helm bogo di dagunya.

Pak Herman, lelaki berusia 59 tahun dengan rambut yang belum memutih seluruhnya, hanya terkekeh. Telapak tangannya yang kasar menyapu jok kulit motornya yang mulai retak-retak.

"Biarkan saja, Di. Ini motor jimat. Tanpa besi tua yang batuk-batuk ini, kamu, kakak-kakak dan adikmu tidak akan pernah ada yang bisa menginjakkan kaki di gedung universitas," sahut Pak Herman dengan binar mata yang selalu hangat.

Widarti terdiam. 

Senyumnya tertahan di sudut bibir. Kalimat itu adalah potongan sejarah yang berulang, namun setiap kali mendengarnya, ada sekat tak kasat mata yang menghimpit dadanya oleh rasa haru.

Rumah mereka berdiri kokoh namun sepi. Sebuah bangunan besar berasitektur lawas dengan empat kamar tidur. Kini, dua di antaranya menjelma menjadi ruang hampa yang hanya dihuni oleh debu dan kenangan.

Anak-anak Pak Herman telah terbang tinggi mengejar takdir di kota-kota besar; Jakarta, Yogyakarta, bahkan ada yang menyeberang lautan hingga ke Shizuoka, Jepang. Hanya Widarti, putri keempat itu yang menggenggam ijazah Sarjana Pendidikan, yang memilih melipat egonya demi menemani sang ayah menghabiskan sisa usia di rumah besar ini.

Tepat pukul 06.30 WIB, pagar besi berderit. Kedua motor itu keluar beriringan. Namun, begitu menyentuh aspal jalan raya, sepasang ban itu harus berkhianat pada arah. Pak Herman berbelok ke kiri, menuju SMP Negeri di pusat nagari. Ia adalah seorang PNS senior, abdi negara yang dihormati meski tidak memiliki selembar pun gelar sarjana di belakang namanya. Ia diangkat lewat jalur pengabdian masa lalu, sebuah bukti nyata bahwa dedikasi tidak melulu butuh selembar kertas legalitas.

Sementara Widarti berbelok ke kanan. Ia memacu motor matic-nya sejauh dua belas kilometer menuju sebuah SD Negeri di kecamatan yang berbeda dengan tempat tinggalnya. Kontras itu menampar wajahnya setiap hari: ia adalah seorang sarjana pendidikan dengan predikat cumlaude, namun statusnya di sekolah itu hanyalah guru honorer dengan upah rapel yang nilainya sering kali tak cukup untuk membeli ban motor baru.

Sore hari selalu memisahkan waktu kepulangan mereka. Pukul setengah lima sore, sunyi rumah sudah dipeluk oleh Pak Herman. Sebagai guru SMP di nagari yang tak jauh dari rumah, jam kerjanya teratur. Ia akan menyeduh kopi panas, lalu duduk di beranda, menatap kosong pada halaman yang sempit.

Widarti baru akan mengetuk pintu setengah jam kemudian. Beban sebagai guru kelas tingkat rendah memaksanya menantang senja yang temaram.

Sore itu, Widarti pulang dengan sisa lelah yang menggelayut di pundak. Namun sebelum melangkah ke dalam rumah, sebuah motor hitam berhenti di depan pagar. Itu tombak hati Widarti, Alga, kekasihnya yang bekerja sebagai guru SMA. Widarti menghampirinya di pembatas pagar.

"Kamu terlambat lagi pulang hari ini, Di," ucap Alga, menatap jilbab kekasihnya yang sedikit kusut.

"Sampai kapan mau begini? Kamu sarjana, tapi gajimu habis buat bensin jalan ke pinggiran kabupaten. Kenapa tidak terima saja tawaran papaku untuk masuk ke bank? Masa depan kita butuh kepastian, Di. Aku tidak mau nanti setelah kita menikah, kamu masih harus pontang-panting jadi honorer."

Widarti menarik napas dalam, memandang mata Alga dengan ketegasan yang lembut. "Alga, menjadi guru bukan cuma soal angka di slip gaji. Ini soal janji yang aku buat pada diriku sendiri, dan pada Papa. Papa mendidik lima anak sampai jadi sarjana dengan keringat yang berdarah-darah. Aku tidak akan meninggalkan dunia ini hanya karena materi. Kalau kamu mencintaiku, kamu harus bisa menerima bahwa hidupku adalah tentang ruang kelas dan anak-anak itu. Dan yang paling penting, aku tidak bisa meninggalkan Papa sendirian di rumah besar ini."

Alga mendesah kalah, menggenggam jemari Widarti sekilas sebelum akhirnya berpamitan. Konflik batin itu membekas di hati Widarti sepanjang langkahnya menuju teras rumah, di mana Pak Herman sudah menunggu dengan segelas air hangat.

Malamnya, setelah aroma magrib luruh, mereka duduk di ruang tengah. Di dinding kayu jati itu, terpajang lima potret anak-anak Pak Herman yang tersenyum memakai toga hitam. Tepat di tengahnya, foto sang ibu tersenyum anggun. Wanita yang telah meninggalkannya lima tahun lalu itu seolah ikut menyaksikan keberhasilan suaminya menundukkan badai kehidupan.

Widarti menatap lurus pada sang ayah yang sedang memijat kakinya sendiri yang mulai sering linu. Rasa bersalah dan kasih sayang yang membuncah menyingkirkan keraguan akibat obrolannya dengan Bram tadi sore. Ia menggeser duduknya, merapatkan tubuh pada lengan kokoh yang kini mulai ringkih itu.

"Papa," panggil Widarti. Suaranya memecah keheningan malam yang pekat.

Pak Herman menoleh, menatap anak keempatnya.

"Papa, hiduplah dengan tenang tanpa memikir perempuan calon istri. Kami tak akan membiarkan papa menderita lagi," ujar Widarti. Kalimat itu meluncur seperti sumpah setia, bergetar namun sarat akan ketetapan hati.

Pak Herman tertegun. Jemarinya yang sedang memijat kaki langsung berhenti. Ruangan itu mendadak kehilangan suaranya, menyisakan detak jam dinding yang terasa kian lambat. Pak Herman sangat memahami makna di balik untaian kalimat itu. Itu bukan sebuah restu yang dikebiri oleh keegoisan anak, melainkan sebuah pelukan pelindung yang ingin memastikan dirinya tidak lagi terluka.

Kelima anak Pak Herman merekam dengan sangat baik bagaimana ayah mereka hancur secara fisik saat ibu mereka pergi meninggalkannya, dan bagaimana ia merangkak sendirian membiayai kuliah lima orang anak sekaligus dalam satu waktu. 

Mereka ingat betul saat Pak Herman rela menarik ojek motor bututnya di malam hari setelah siangnya mengajar, pulang dengan baju basah kuyup oleh hujan dan keringat. Mereka ingat sepatu hitam sang ayah yang jebol di bagian bawah, yang hanya diganjal potongan kardus agar kaki tuanya tidak bergesekan langsung dengan aspal, demi mendahulukan uang semesteran anak ketiganya.

Masa-masa itu adalah penderitaan yang maha dahsyat bagi Pak Herman. Dan kelima anaknya menolak membiarkan sisa usia sang ayah dinodai oleh kemungkinan kekecewaan baru dari orang asing.

"Widarti..." Pak Herman tersenyum, matanya berkaca-kaca menahan bendungan air mata. "Papa tidak pernah memikirkan hal itu lagi, Nak. Bagi Papa, masa-masa sulit itu sudah selesai."

"Kami semua tahu, Pa," potong Widarti, kini air matanya benar-benar luruh membasahi pipi. "Kemarin Kak Meimei yang di Jepang, Kak Imran di Pariaman, dan Dek Ilham yang di Yogyakarta, kami semua sudah bicara di telepon. Kami semua sudah mapan, Pa. Kami yang akan menjaga Papa. Papa cukup duduk di rumah ini jika sudah pensiun, menikmati masa tua dengan tenang. Kami tidak akan membiarkan Papa kekurangan atau merasa sepi sedikit pun."

Pak Herman merengkuh pundak Widarti, mendekap anak keempatnya dengan kehangatan seorang ayah yang telah memenangkan pertempuran paling sengit dalam hidupnya.

"Papa tidak punya gelar formal seperti kalian semua, Di. Tapi melihat kalian berlima tumbuh menjadi manusia yang tahu cara membalas budi dan memiliki hati emas... itu adalah gelar 'Profesor Kehidupan' paling agung yang pernah Papa terima," bisik Pak Herman lirih.

Malam itu, di dalam rumah yang teramat besar, sepi tidak lagi berani mengetuk pintu. Dua generasi guru itu saling mendekap dalam keheningan, bersiap menyambut esok pagi; saat dua mesin motor dengan kasta yang berbeda kembali membelah jalanan demi satu tugas suci yang sama. ***