Di Pesta Pernikahan Anak dan Menantu
Matahari baru saja tergelincir di balik perbukitan Nagari Batu Mengaum ketika Syamsul duduk di palanta kayu teras rumahnya. Di tangannya, selembar undangan berwarna biru dan putih berkilau tertimpa cahaya lampu teras yang baru dinyalakan. Nama anak bujangnya, Ares, tertulis dengan kaligrafi indah bersanding dengan nama Vania, putri kedua seorang pengusaha minyak kelapa di Nagari Sungai Geringging.
Syamsul mengembuskan napas panjang. Ada rasa bangga yang
membuncah tetapi terselip pula segumpal kecemasan di sudut hatinya. Menikahkan
anak laki-laki pertama, mengangkat mantu, adalah impian setiap orang tua. Namun, menyadari ketimpangan keadaan ekonomi antara keluarganya
dan keluarga calon besan membuat dadanya kerap terasa sesak.
Keluarga Vania menggelar pesta di sebuah hall mewah di pusat
kecamatan. Hall dengan pendingin ruangan, lampu-lampu
kristal, dan dekorasi pelaminan megah yang konon didatangkan langsung dari kota
provinsi. Sementara Syamsul dan istrinya hanya guru biasa yang mendapatkan penghasilan dari gaji semata, hanya mampu merencanakan pesta di
rumah sederhananya.
"Baa kok bamanuangan juo lai, Da...? Sadonyo parsiapan,
alhamdulillah lah bajalan elok," sebuah suara lembut memecah lamunan
Syamsul. Arnida, istrinya, datang membawa dua gelas kopi hangat. (Mengapa
bermenung juga lagi, kakak? Semua persiapan alhamdulillah sudah berjalan baik).
"Bukan dek a doh, Diak. Uda mamikiakan untuk hari bisuak.
Pesta di hall Sungai Geringging tu rancak bana. Tadi siang Uda sempat lewat di sinan mancaliak urang masang tenda gerbang. Samantaro lusa, giliran awak nan ka
bapesta minantu di rumah dengan tenda sederhana ko. Indak ka malu awak nantik jo besan sarato
kawan-kawan Vania?" ujar Syamsul, suaranya bergetar menahan luapan emosi.
(Bukan apa-apa, Diak. Pikiran Uda memikirkan hari esok. Pesta di hall Sungai
Geringging itu bagus sekali. Tadi siang Uda sempat lewat disana melihat orang
memasang tenda gerbang. Sementara lusa, giliran kita yang berpesta menantu di
rumah sederhana ini. Apa tidak malu kita nanti pada besan serta kawan-kawan
Vania?)
Arnida tersenyum, matanya memancarkan ketenangan seorang
ibu. "Uda, kahidupan jo kabahagiaan awak baminantu ko indak diukua
dek sabarapo mangkilek lantai hall tampek urang tu basandiang doh. Vania tu
panyantun budinyo. Inyo surang nan mamintak supayo acara di tampek awak ko
dibuek sadarhana se, nan pantiang dunsanak bisa bakumpua. Jan dijadikan baban
lo dek Uda keadaan awak nan sarupo ko. Nan pantiang niaik awak tuluih
manyambuiknyo jadi anak." (Uda, kehidupan dan kebahagiaan kita menerima
menantu ini tidak diukur dari seberapa mengkilap lantai hall tempat mereka
bersanding. Vania itu santun budinya. Dia sendiri yang meminta supaya acara di
tempat kita dibuat sederhana saja, yang penting saudara bisa berkumpul. Jangan
dijadikan beban pula oleh Uda keadaan kita yang sederhana ini. Yang penting
niat kita tulus menyambutnya jadi anak).
Syamsul menatap kopi di depannya. Kata-kata istrinya sedikit
menyiram api kecemasan di hatinya, walau sisa-sisa rasa rendah diri itu belum
sepenuhnya menguap.
***
Hari yang dinanti pun tiba. Acara pertama dilangsungkan di
Nagari Sungai Geringging. Sesuai perkiraan, perhelatan di hall mewah itu
berlangsung sangat semarak. Lantai hall dilapisi karpet merah tebal. Di ujung
ruangan, pelaminan Minang bernuansa emas dan merah berdiri megah dengan
ukiran-ukiran yang sangat detail. Ratusan lampu gantung kristal memantulkan
cahaya yang membuat suasana terkesan magis.
Ares tampak gagah mengenakan pakaian adat tanduak dengan sulaman benang emas, sementara Vania terlihat begitu anggun memikat. Hidangan yang disajikan pun sangat berkelas, mulai dari makanan tradisional hingga menu internasional. Syamsul dan Arnida duduk di kursi VIP yang disediakan khusus.
Sepanjang acara, Syamsul merasa kikuk. Ia berkali-kali membetulkan letak jas
sewaan yang terasa agak sempit di badannya. Setiap kali bersalaman dengan
tamu-tamu besannya yang rata-rata adalah orang berpangkat dan pengusaha kaya,
Syamsul hanya bisa tersenyum kaku sambil mengangguk hormat.
Namun, di tengah kemegahan itu, ada satu momen yang terekam jelas di ingatan Syamsul. Saat prosesi bersila di pelaminan, Vania berbisik kepada Ares, lalu kedua mempelai itu menoleh ke arah Syamsul dan Arnida. Vania tersenyum sangat tulus, sebuah senyuman yang tidak dibuat-buat, penuh rasa hormat.
Saat mereka turun dari pelaminan untuk berfoto bersama orang tua, Vania
justru merangkul lengan Arnida dengan erat, seolah tidak peduli dengan riasan
mahalnya yang bisa saja rusak karena pelukan hangat sang ibu mertua.
"Tarimo kasih lah tibo, Papa, Ibu," bisik Vania
lembut di telinga Arnida. (Terima kasih sudah datang, Papa, Ibu). Panggilan
'Papa' itu membuat dada Syamsul berdesir aneh. Ada rasa hangat yang pelan-pelan
mengikis rasa minder di hatinya.
****
Tiga hari kemudian, fokus beralih ke Nagari Batu Mengaum.
Ini adalah hari di mana mempelai wanita dijemput dan dibawa ke rumah mempelai
pria, prosesi manjapuik marapulai dan dilanjutkan pesta di rumah pria.
Keadaan di rumah Syamsul agak sedikit berbeda dengan hall di
Sungai Geringging. Di depan rumah sederhana itu sudah didirikan tenda beserta
perangkat lainnya. Sementara kursi pelaminan dibuat di dalam rumah. Dekorasi
pelaminannya pun sederhana buatan penyedia jasa pelaminan.
Sejak pagi, halaman rumah Syamsul sudah dipenuhi oleh
tetangga. Inilah indahnya kehidupan di kampung. Meski Syamsul tidak memiliki
uang banyak untuk menyewa jasa catering mahal seperti di hall kemarin, seluruh
orang nagari turun tangan membantu. Kaum perempuan sibuk di dapur umum yang
didirikan secara gotong royong, memasak rendang, gulai ayam, dan asam padeh
dengan tungku kayu bakar. Asap mengepul tinggi membawa aroma rempah-rempah yang
menggugah selera ke seluruh pelosok kampung. Sementara kaum laki-laki sibuk
mengatur meja-meja makan para tamu di dalam tenda.
Matahari mulai miring agak ke barat ketika iring-iringan
mobil dari Sungai Geringging tiba di pinggir jalan utama Batu Mengaum. Karena
jalan menuju rumah Syamsul agak sempit dan melewati kebun pohon kelapa,
rombongan pengantin harus berjalan kaki sekitar seratus meter.
Syamsul berdiri di depan gerbang pesta dengan jantung yang
berdegup kencang. Ia takut jika keluarga besannya kecewa atau mengeluh karena
harus berjalan kaki di bawah terik matahari, lalu masuk ke rumah yang sempit
dan sederhana ini.
Namun, kekhawatiran Syamsul luntur seketika demi melihat
rombongan itu mendekat. Vania, yang hari itu mengenakan adat anak dara yang
didominasi warna merah namun tetap memikat, berjalan sambil memegang payung
kuning didampingi kedua orang tuanya. Tidak tampak gurat kekesalan atau
keangkuhan di wajah mereka. Sebaliknya, orang tua Vania justru tersemang ramah,
menyapa setiap orang kampung yang berdiri di pinggir jalan untuk melihat
mereka.
Saat Vania melangkah masuk ke dalam rumah setelah melepas
selop tingginya dengan cekatan. Ketika kakinya menyentuh lantai, ia tidak
canggung sama sekali. Ia langsung duduk di kursi pelaminan di hadapan Arnida dan
Syamsul, lalu mencium tangan kedua mertuanya dengan takzim.
"Maaflah baqaadaan rumah kami nan sangaik sadarhana ko,
Nak Vania, Pak Besan. Siko se lah nan ado," ucap Syamsul pelan saat mereka
semua sudah duduk melingkar. Suaranya terdengar agak serak karena menahan haru.
(Maafkanlah keadaan rumah kami yang sangat sederhana ini, Nak Vania, Pak
Besan. Hanya di sini saja yang ada).
Ayah Vania, Datuk Bandaro, langsung memegang pundak Syamsul dengan erat. "Astagfirullah, jan bapikia bak cando itu, Pak Syamsul. Rumah ko dingin bana, rangkiang angin siriqk-siriqk masuak. Babeda jo hall kapatang nan raso sasek angok walau ado AC. Justru kami nan maraso sangaik tahoromaik mancaliak baa urang sado nagari di Batu Mengaum ko bagotong royong manyambuik anak awak.
Kahangatan nan bak cako indak bisa dibali jo pitih di kota
doh." (Astagfirullah, jangan berpikir seperti itu, Pak Syamsul. Rumah ini
sangat dingin/sejuk, embusan angin sepoi-sepoi masuk. Berbeda dengan hall
kemarin yang rasanya sesak napas walau ada AC. Justru kami yang merasa sangat
terhormat melihat bagaimana orang sedunia nagari di Batu Mengaum ini bergotong
royong menyambut anak kita. Kehangatan yang seperti itu tidak bisa dibeli
dengan uang di kota).
Mendengar ucapan tulus dari sang besan, air mata yang sejak
tadi ditahan Syamsul akhirnya menetes juga. Ia buru-buru menyekanya dengan sapu
tangan kecil.
Acara makan bersama pun dimulai. Hidangan disajikan di atas
talam-talam seng. Makanan dimasak dengan bumbu tradisional dan kayu bakar
menciptakan rasa gurih yang tak tertandingi oleh makanan hotel berbintang. Vania makan dengan lahap menggunakan tangannya langsung, tanpa canggung,
sesekali menyuapi Ares yang duduk di sebelahnya. Pemandangan itu membuat para
bibi dan tetangga yang melihatnya berbisik penuh kekaguman.
"Ondeh, batingkah rancak bana mantu mantu ko mah. Alah
lah rancak ruponyo, indak pamiliah lo doh. Lai ka tuluih hatinyo makan di rumah ko," bisik seorang tetangga di sudut ruangan kepada temannya.
(Ondeh, bertingkah baik sekali menantu Syamsul ini. Sudah cantik rupanya, tidak
pemilih pula. Ternyata tulus hatinya makan di atas rumah ini).
"Iyo, syukur bana si Syamsul. Dapek mantu kayo tapi indak
sombong doh. Elok budi pakarationyo," balas tetangga yang lain. (Iya,
bersyukur sekali si Syamsul. Dapat menantu kaya tapi tidak sombong. Baik budi
pekertinya).
Siang itu, rumah sederhana di Batu Mengaum dipenuhi dengan gelak tawa dan obrolan hangat. Tidak ada sekat pembatas antara si kaya dari Sungai Geringging dan si miskin dari Batu Mengaum. Semuanya melebur dalam kegembiraan yang tulus. Musik dari organ tunggal masih terdengar menghibur para tamu yang datang.
Sore hari menjelang asar, para tamu mulai berkurang. Vania
dan Ares duduk di pelaminan sederhana di sudut rumah, mengobrol dengan beberapa
sepupu Ares yang masih kecil. Vania tampak tertawa lepas mendengarkan cerita
lucu anak-anak kampung itu, sambil membagikan sisa-sisa kue kotak kepada
mereka.
Syamsul berjalan mendekati pelaminan. Di tangannya ada sebuah
bungkusan kecil kain tenun lama yang sudah pudar warnanya.
"Ares, Vania," panggil Syamsul lembut. Kedua
mempelai segera memperbaiki posisi duduk mereka dan menatap Syamsul dengan penuh
perhatian.
Syamsul duduk di lantai di depan pelaminan mereka.
"Papa indak punyo haroto balimpah bak cando urang tuo Vania di Sungai
Geringging untuak modal kalian baduo. Rumah ko pun hanyo mode nampak di mato
kini. Tapi, Papa ado sasuatu nan lah disimpan turun-tamurun dari pak kawak,
datuak si Ares dulu." (Papa tidak punya harta berlimpah seperti orang tua Vania di Sungai Geringging untuk modal kalian berdua. Rumah ini pun hanya
seperti yang tampak di mata sekarang. Tapi, Papa ada sesuatu yang sudah
disimpan turun-temurun dari bapak kita, kakek si Ares dulu).
Syamsul membuka bungkusan kain tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah gelang emas kuno seberat dua emas (satuan lokal Minang), bermotif ukiran kuno yang sudah agak aus.
"Ko parhiasan tarakhia almarhumah bako si Ares. Sangajo
Papa simpan untuak disarahkan ka mantu kaduo kami di kaluarga ko. Nilainyo indak
saarago parhiasan Vania nan lain doh, tapi ko tando bahwosanyo Vania lah
rasmi jadi bagian dari balahan jiwa kaluarga di Batu Mengaum ko," kata Syamsul dengan mata berkaca-kaca. (Ini perhiasan terakhir almarhumah nenek si Ares. Sengaja Papa simpan untuk diserahkan ke menantu kedua di keluarga ini.
Nilainya tidak seharga perhiasan Vania yang lain, tapi ini tanda bahwasanya Vania sudah resmi jadi bagian dari belahan jiwa keluarga di Batu Mengaum ini).
Vania menatap gelang kuno itu. Perlahan, matanya ikut
berkaca-kaca. Ia mengulurkan kedua tangannya, membiarkan Syamsul memakaikan
gelang itu di pergelangan tangannya. Gelang itu tampak begitu kontras dengan
gaun modernnya, namun memancarkan keindahan spiritual yang luar biasa.
Setelah gelang terpasang, Vania tidak hanya mengucapkan
terima kasih. Ia langsung turun dari kursi pelaminan, berlutut di lantai,
dan memeluk lutut Syamsul.
"Tarimo kasih banyak, Papa. Sanang bana hati Vania
tarimo galang ko. Vania bajanji ka manjago Uda Ares elok-elok, sarato ka
rancak-rancak lo acok pulang ka Batu Mengaum untuak manjanguak Papa jo Ibu. Di
siko rumah Vania juo kini," ucap Vania dengan suara terisak karena haru.
(Terima kasih banyak, Papa. Senang sekali hati Vania menerima gelang ini. Vania berjanji akan menjaga Uda Ares baik-baik, serta akan sering-sering pula
pulang ke Batu Mengaum untuk menjenguk Papa dan Ibu. Di sini rumah Vania juga
sekarang).
Ares yang melihat hal itu ikut turun dan merangkul pundak
ayahnya serta istrinya. Arnida yang baru datang dari dapur langsung bergabung
dalam pelukan hangat itu di tengah ruangan rumah mereka.
Di luar rumah, angin sore Nagari Batu Mengaum berembus
sepoi-sepoi, menggoyang dedaunan pohon kelapa yang tak jauh dari pekarangan. Asap dari sisa
pembakaran tungku memasak masih samar-samar tercium, membawa kehangatan dari
sebuah kerja keras gotong royong masyarakat.
Syamsul mendongak menatap langit-langit rumah yang
sederhana. Ketakutan, rasa minder, dan kecemasan yang menghantuinya selama
berminggu-minggu kini lenyap tak berbekas. Digantikan oleh sebuah rasa syukur
yang teramat dalam.
Ternyata, kebahagiaan sejati dalam mantu, menerima menantu, tidak pernah ditentukan oleh kemegahan tempat pesta atau kilau kemewahan materi. Kebahagiaan itu bisa tumbuh subur di dalam rumah sederhana, mewujud dalam bentuk ketulusan hati, kerendahan hati, dan rasa saling menerima dalam segala kekurangan.
Sore itu, Syamsul tahu, anaknya telah memilih wanita yang tepat, dan keluarganya telah diberkahi dengan kebahagiaan yang tidak akan pernah bisa dinilai dengan angka. ***
.jpg)