Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dua Puluh Enam Purnama di Sisi Senja

Suara dering telepon pintar di atas meja kayu jati membuyarkan lamunan tuaku. Di luar, langit sore berwarna jingga kemerahan, persis seperti warna langit di desa tempatku menghabiskan masa kecil dulu. Sebagai seorang guru SMP yang kini berada di penghujung masa pensiun, hari-hariku mulai melambat. Namun, sore itu, detak jantungku mendadak berkejaran membaca pesan beruntun dari kelima anakku.
Ilustrasi gambar (Mode Ai/ Cerana Kata)

Mereka, kelima putra-putri yang menjadi alasan punggungku tetap tegak memanggul spidol whiteboard puluhan tahun ini, mengabarkan akan pulang bersamaan pada lebaran depan. Ada kebanggaan yang membuncah setiap kali mengingat pencapaian mereka.

Arisman, si sulung sarjana teknik perminyakan yang justru memilih menjadi pengusaha sukses peternak ayam potong. Nasya, putri kedua yang baru saja menyelesaikan gelar Master of Engineering dari Shizuoka University, Jepang. Hilman, anak ketiga, sarjana teknik elektro yang kini mapan bekerja di sebuah perusahaan besar di Jakarta. Wati, putri keempat yang mengikuti jejakku menjadi seorang guru, serta si bungsu Amran yang baru saja menyandang gelar sarjana akuntansi dari UGM.

Namun, pesan dari Arisman malam itu membuat dadaku berdesir agak perih. "Pa, lebaran besok kita pulang bersama. Kami ingin berziarah ke makam Kakek dan Nenek, sekaligus ingin reunian di rumah tua tradisional peninggalan almarhum dan almarhumah. Kami ingin melihat tempat Papa dibesarkan."

Aku tertegun. Jemariku gemetar di atas layar. Ada rahasia ruang dan waktu yang belum sempat mereka pahami sepenuhnya dari lembar-lembar autobiografi yang pernah kutulis.

"Rumah tua peninggalan kakek dan nenekmu sudah dibongkar dan dibangun rumah yang baru oleh paman dan tantemu..." kataku berterus terang melalui pesan suara grup keluarga.

Aku menarik napas dalam-dalam. Aku mengira mereka akan kecewa dan membatalkan rencana. Selama ini, lewat buku catatan hidup yang kubagikan pada mereka, aku memang banyak bercerita tentang masa kecilku yang penuh duka karena kemiskinan, tentang dinding bambu rumah tua yang bocor saat hujan, dan tentang getirnya perjuangan.

Namun, balasan Arisman justru membuat mataku berkaca-kaca. "Tidak apa-apa, Pa. Semua tidak mempermasalahkannya. Kami justru ingin mengajak Papa bernostalgia ke tempat di mana Papa kakak beradik menghabiskan masa kecil yang penuh duka itu. Kami ingin merasakannya."

Nasya menimpali dari seberang negeri, "Iya, Pa. Nasya ingin melihat padang rumput tempat Papa dulu menggembala sapi demi bisa membeli buku sekolah."

Hilman, Wati, dan Amran pun mengirimkan pesan senada. Mereka bersikeras tetap ingin pulang ke desa asal-muasal langkahku dimulai. Akhirnya, dengan keharuan yang membuncah, aku menyetujui rencana anak-anakku itu.

Malam sebelum keberangkatan kami ke desa, istriku, Sarah, duduk di tepi ranjang sambil melipat beberapa helai pakaian. Wajahnya yang mulai dihiasi kerutan halus masih memancarkan kehangatan yang sama seperti tiga puluh tahun lalu, saat dia menerima pinangan seorang guru bantu miskin berpenghasilan pas-pasan.

"Kau melamun lagi, Mas?" tanya Sarah lembut, tangannya mengusap bahuku.

"Aku hanya takut, Sarah. Rumah itu sudah tidak ada. Aku takut anak-anak kecewa karena yang mereka dapati hanya rumah bata modern milik adik-adikku. Kenangan masa kecilku seolah ikut rata dengan tanah," bisikku lirih.

Sarah tersenyum, senyuman yang selalu berhasil meruntuhkan kegelisahanku. "Mas, rumah tua itu mungkin sudah roboh. Tapi pondasi cinta dan perjuangan yang kau ceritakan pada mereka tidak pernah runtuh. Mereka pulang bukan untuk melihat kayu atau bambu yang lapuk. Mereka pulang untuk melihat di mana jiwa ayah mereka ditempa."

Aku menggenggam tangan Sarah, mengecup punggung tangannya yang mulai kasar. Di matanya, aku selalu menemukan rumah yang sesungguhnya.

Hari yang dinanti tiba. Perjalanan menuju desa masa kecilku ditempuh dengan dua mobil. Sepanjang jalan, kelima anakku tak henti-hentinya bertanya tentang detail-detail dalam autobiografiku. Wati duduk di sampingku, sesekali mencatat sesuatu di ponselnya, belajar bagaimana seorang ayah bisa mendidik lima anak hingga menjadi sarjana dengan gaji seorang guru.

Ketika mobil memasuki gerbang desa, dadaku berdegup kencang. Pohon-pohon mahoni tua di pinggir jalan masih berdiri kukuh, seolah menyambut kepulanganku. Mobil berhenti di depan sebuah rumah permanen berlantai dua yang megah dengan cat putih bersih. Itu adalah tanah tempat rumah tuaku dulu berdiri, yang kini telah diubah oleh adik-adikku.

Adik-adikku menyambut kami dengan pelukan hangat. Air mata tumpah di halaman rumah itu. Setelah beristirahat sejenak, sesuai rencana, kami berjalan kaki menuju pemakaman keluarga yang terletak di perbukitan kecil di belakang desa, tempat orang tuaku bersemayam.

Di depan makam ibu dan ayahku, kelima anakku bersimpuh khusyuk. Arisman memimpin doa dengan suara yang bergetar. Selesai berdoa, Amran, si bungsu, memeluk batu nisan neneknya yang belum pernah ia lihat wujud fisiknya.

"Kek, Nek, terima kasih sudah melahirkan Papa yang hebat. Terima kasih sudah bertahan dalam kemiskinan agar Papa bisa sekolah," bisik Amran pelan, membuat tangisku pecah seketika. Sarah merangkul pundakku, ikut menangis dalam diam.

Setelah dari makam, sore harinya, anak-anak mengajakku ke sebuah bukit hijau yang luas di ujung desa. Tempat itu adalah padang gembalaan masa kecilku. Angin sore berembus sejuk, menggoyang rumput-rumput liar.

"Di sinilah tempatnya, Pa?" tanya Nasya, menatap hamparan hijau itu dengan mata berbinar. Gadis yang baru lulus dari Jepang itu tanpa ragu melepas alas kakinya, membiarkan kakinya menyentuh rumput langsung.

"Iya, Nasya. Di bawah pohon beringin tua di sebelah sana itu, dulu Papa duduk membaca buku usang sambil mengawasi sapi-sapi milik tetangga. Jika sapinya gemuk, Papa mendapat upah beberapa perak untuk ditabung," kenangku, memandang pohon beringin yang masih berdiri kokoh di kejauhan.

Tiba-tiba, Arisman dan Hilman mendekat. Mereka membawa sebuah tikar anyaman bambu yang entah kapan mereka beli, lalu menggelarnya di bawah pohon beringin itu. Mereka meminta aku dan Sarah duduk di tengah, sementara kelima anakku duduk melingkar mengelilingi kami.

Wati mengeluarkan sebuah buku bersampul cokelat dari tasnya. Itu adalah buku autobiografi yang kutulis tangan beberapa tahun lalu.

"Pa, malam ini adalah malam penghujung masa bakti Papa sebagai guru. Besok, Papa resmi pensiun," kata Wati dengan suara serak menahan tangis. "Kami ingin mendengar Papa membacakan bab terakhir dari buku ini langsung di tempat cerita ini dimulai."

Aku memandang wajah anak-anakku satu per satu. Arisman yang gagah, Nasya yang cerdas, Hilman yang pendiam namun perhatian, Wati yang mewarisi ketulusanku, dan Amran yang selalu manja. Lalu, tatapanku jatuh pada Sarah, wanita yang menemaniku berjalan di atas duri-duri kehidupan hingga kini berganti hamparan karpet merah kebahagiaan.

Dengan tangan agak gemetar, kubuka bab terakhir buku itu. Di bawah langit sore yang mulai temaram di padang gembalaan, aku mulai membaca dengan suara lantang khas seorang guru:

"...Kini aku berada di senja usiaku. Banyak orang mengira kemiskinan adalah sebuah kutukan yang harus diratapi. Namun di tempat ini, di tanah berlumpur ini, aku belajar bahwa kemiskinan adalah guru yang paling jujur. Ia mengajarkanku arti sepotong roti, arti segelas air, dan arti sebuah impian. Rumah tua peninggalan orang tuaku mungkin telah tiada, rata dengan tanah. Namun, dinding bambunya yang lapuk telah menjelma menjadi benteng yang kokoh di dalam jiwa anak-anakku. Aku tidak meninggalkan harta benda, tidak pula tanah yang luas. Aku hanya meninggalkan sebuah estafet perjuangan. Dan ketika aku melihat kelima anakku berdiri tegak dengan toga mereka, aku tahu, rumah tua itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia telah berpindah, tegak berdiri di dalam hati mereka masing-masing..."

Saat aku menyelesaikan kalimat terakhir, suasana menjadi sangat hening. Hanya ada suara jangkrik yang mulai bersahutan dan deru angin sore.

Napas Wati tercekat, ia menyembunyikan wajahnya di bahu Nasya yang sudah menangis sesenggukan. Hilman menunduk dalam, menyeka air matanya dengan ujung lengan baju. Arisman, si anak sulung yang biasa keras dan tegar, tiba-tiba berlutut di depanku, memeluk kakiku dengan erat.

"Pa... terima kasih. Terima kasih sudah tidak menyerah pada kemiskinan waktu itu. Kalau Papa menyerah, kami tidak akan pernah ada di sini hari ini," ucap Arisman dengan suara terputus-putus oleh tangisan.

Satu per satu anak-anakku mendekat, merapat, hingga kami semua tenggelam dalam satu pelukan keluarga yang begitu erat di bawah pohon beringin tua itu. Di dalam lingkaran pelukan itu, aku merasakan kehangatan yang luar biasa.

Aku menatap Sarah yang tersenyum di sela tangisnya. Di tempat aku dulu meratapi nasib sebagai anak gembala yang miskin, kini aku berdiri sebagai seorang ayah, seorang guru, dan seorang manusia paling kaya di dunia. Rumah masa kecilku boleh saja runtuh dan berganti beton, namun di atas puing-puingnya, telah tumbuh lima pohon kehidupan yang rindang, yang siap menaungi masa senjaku dan istriku dengan cinta yang tak akan pernah lekang oleh waktu. ****