-->

Menyeimbangkan Motivasi Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Belajar

Motivasi adalah bahan bakar utama dalam setiap aktivitas manusia. Dalam dunia pendidikan, motivasi menjadi penentu keberlangsungan dan keberhasilan proses belajar. Namun, realitanya banyak pendidik menghadapi tantangan serupa: rendahnya semangat belajar peserta didik akibat minimnya motivasi.

Motivasi belajar (pixabay.comm)

Fenomena inilah yang mendorong pentingnya kita memahami lebih dalam tentang apa itu motivasi dan bagaimana cara kerjanya.

Apa Itu Motivasi?

Secara sederhana, Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan motivasi sebagai kecenderungan yang timbul pada diri seseorang, baik sadar maupun tidak, untuk melakukan tindakan dengan tujuan tertentu. Sementara itu, Hasibuan (2017) menekankan bahwa motivasi adalah penggerak yang menyalurkan dan mendukung perilaku manusia agar mau bekerja giat demi mencapai hasil optimal.

Dengan kata lain, motivasi adalah dorongan internal maupun eksternal yang membuat seseorang 'bergerak' menuju target yang diinginkan.

Memahami Self-Determination Theory (SDT)

Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa kompeten dan memiliki kendali atas pilihan hidupnya (otonomi). Inilah yang disebut dengan Self-Determination Theory atau Teori Determinasi Diri oleh Deci dan Ryan (2000).

Perbedaan kualitas motivasi seseorang sangat bergantung pada sumbernya:

Determinasi Tinggi: Saat kita berpikir, "Aku ingin melakukan ini karena pilihanku sendiri."

Determinasi Rendah: Saat kita merasa, "Aku harus melakukan ini karena diminta orang lain."

Berdasarkan teori ini, motivasi dikelompokkan menjadi dua jenis utama: Intrinsik dan Ekstrinsik.

1. Motivasi Intrinsik: Dorongan dari Dalam

Motivasi intrinsik adalah keinginan belajar yang murni muncul dari dalam diri tanpa perlu rangsangan luar. Motivasi ini bersifat autotelic—di mana aktivitas itu sendiri adalah tujuannya. Anda belajar karena merasa seru, puas, dan tertantang, bukan karena hadiah.

Menurut Herzberg, faktor-faktor yang membangun motivasi ini meliputi pencapaian prestasi, pengakuan diri, tanggung jawab, serta kesempatan untuk berkembang. Ada tiga unsur utama yang memperkuatnya:

Otonomi: Merasa memiliki kendali atas apa yang diperbuat.

Kompetensi: Rasa percaya diri karena merasa ahli di bidang tersebut.

Keterkaitan: Adanya unsur sosial atau hubungan dengan orang lain yang memperkuat semangat.

2. Motivasi Ekstrinsik: Stimulus dari Luar

Berbeda dengan intrinsik, motivasi ekstrinsik muncul karena adanya rangsangan atau tekanan dari luar. Seseorang melakukan sesuatu bukan karena menyukai kegiatannya, melainkan karena mengincar hasil akhirnya.

Contoh sederhananya adalah siswa yang rajin belajar hanya karena besok ada ujian, ingin mendapat nilai A, atau dijanjikan hadiah oleh orang tua. Syaiful Bahri Djamarah (2000) menyebutkan beberapa bentuk motivasi ini, antara lain:

Belajar demi memenuhi kewajiban atau menghindari hukuman.

Belajar untuk mendapatkan hadiah material atau pujian.

Belajar demi meningkatkan gengsi sosial atau jabatan.

Mana yang Lebih Baik?

Banyak yang menganggap motivasi intrinsik adalah yang terbaik. Namun faktanya, keduanya sama-sama penting dan saling melengkapi.

Motivasi intrinsik membuat kita memberikan performa terbaik pada hal-hal yang kita cintai. Namun, tidak semua tugas dalam hidup itu menyenangkan. Di sinilah motivasi ekstrinsik berperan. Ia menjadi pemacu untuk menyelesaikan tugas-tugas yang mungkin membosankan namun wajib dilakukan.

Catatan Penting

Penggunaan motivasi ekstrinsik harus bijak. Pemberian hadiah yang berlebihan justru berisiko menurunkan minat alami seseorang (overjustification effect). Sesuatu yang awalnya dilakukan karena senang (bermain), bisa berubah terasa seperti beban (bekerja) jika terlalu fokus pada imbalan.

Cek juga :

Penerapan Pembelajaran Deep Learning : Pengertian, Penerapan, Keuntungan dan Tantangan

Kesimpulan

Kombinasi terbaik adalah ketika kita mampu memadukan keduanya. Kita akan jauh lebih bersemangat saat mengerjakan sesuatu yang kita sukai (intrinsik), yang kemudian diapresiasi dengan penghargaan yang layak (ekstrinsik). Dengan memahami kedua sisi ini, pendidik dan siswa dapat menciptakan ekosistem belajar yang lebih sehat dan produktif.***

*Catatan : Artikel dikirim Oleh: Fauziyah E. JaudiSekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Madani