Motivasi adalah bahan bakar utama dalam setiap aktivitas manusia. Dalam dunia pendidikan, motivasi menjadi penentu keberlangsungan dan keberhasilan proses belajar. Namun, realitanya banyak pendidik menghadapi tantangan serupa: rendahnya semangat belajar peserta didik akibat minimnya motivasi.
Fenomena inilah yang mendorong pentingnya kita memahami lebih dalam tentang apa itu motivasi dan bagaimana cara kerjanya.
Apa Itu Motivasi?
Secara sederhana, Kamus Besar Bahasa Indonesia
mendefinisikan motivasi sebagai kecenderungan yang timbul pada diri seseorang,
baik sadar maupun tidak, untuk melakukan tindakan dengan tujuan tertentu.
Sementara itu, Hasibuan (2017) menekankan bahwa motivasi adalah penggerak yang
menyalurkan dan mendukung perilaku manusia agar mau bekerja giat demi mencapai
hasil optimal.
Dengan kata lain, motivasi adalah dorongan internal
maupun eksternal yang membuat seseorang 'bergerak' menuju target yang
diinginkan.
Memahami Self-Determination Theory (SDT)
Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa kompeten
dan memiliki kendali atas pilihan hidupnya (otonomi). Inilah yang disebut
dengan Self-Determination Theory atau Teori Determinasi Diri oleh Deci dan Ryan
(2000).
Perbedaan kualitas motivasi seseorang sangat bergantung
pada sumbernya:
Determinasi Tinggi: Saat kita berpikir, "Aku ingin
melakukan ini karena pilihanku sendiri."
Determinasi Rendah: Saat kita merasa, "Aku harus
melakukan ini karena diminta orang lain."
Berdasarkan teori ini, motivasi dikelompokkan menjadi dua
jenis utama: Intrinsik dan Ekstrinsik.
1. Motivasi Intrinsik: Dorongan dari Dalam
Motivasi intrinsik adalah keinginan belajar yang murni
muncul dari dalam diri tanpa perlu rangsangan luar. Motivasi ini bersifat
autotelic—di mana aktivitas itu sendiri adalah tujuannya. Anda belajar karena
merasa seru, puas, dan tertantang, bukan karena hadiah.
Menurut Herzberg, faktor-faktor yang membangun motivasi
ini meliputi pencapaian prestasi, pengakuan diri, tanggung jawab, serta
kesempatan untuk berkembang. Ada tiga unsur utama yang memperkuatnya:
Otonomi: Merasa memiliki kendali atas apa yang diperbuat.
Kompetensi: Rasa percaya diri karena merasa ahli di
bidang tersebut.
Keterkaitan: Adanya unsur sosial atau hubungan dengan
orang lain yang memperkuat semangat.
2. Motivasi Ekstrinsik: Stimulus dari Luar
Berbeda dengan intrinsik, motivasi ekstrinsik muncul
karena adanya rangsangan atau tekanan dari luar. Seseorang melakukan sesuatu
bukan karena menyukai kegiatannya, melainkan karena mengincar hasil akhirnya.
Contoh sederhananya adalah siswa yang rajin belajar hanya
karena besok ada ujian, ingin mendapat nilai A, atau dijanjikan hadiah oleh
orang tua. Syaiful Bahri Djamarah (2000) menyebutkan beberapa bentuk motivasi
ini, antara lain:
Belajar demi memenuhi kewajiban atau menghindari hukuman.
Belajar untuk mendapatkan hadiah material atau pujian.
Belajar demi meningkatkan gengsi sosial atau jabatan.
Mana yang Lebih Baik?
Banyak yang menganggap motivasi intrinsik adalah yang
terbaik. Namun faktanya, keduanya sama-sama penting dan saling melengkapi.
Motivasi intrinsik membuat kita memberikan performa
terbaik pada hal-hal yang kita cintai. Namun, tidak semua tugas dalam hidup itu
menyenangkan. Di sinilah motivasi ekstrinsik berperan. Ia menjadi pemacu untuk
menyelesaikan tugas-tugas yang mungkin membosankan namun wajib dilakukan.
Catatan Penting
Penggunaan motivasi ekstrinsik harus bijak. Pemberian
hadiah yang berlebihan justru berisiko menurunkan minat alami seseorang
(overjustification effect). Sesuatu yang awalnya dilakukan karena senang
(bermain), bisa berubah terasa seperti beban (bekerja) jika terlalu fokus pada
imbalan.
Penerapan Pembelajaran Deep Learning : Pengertian, Penerapan, Keuntungan dan Tantangan
Kesimpulan
Kombinasi terbaik adalah ketika kita mampu memadukan keduanya. Kita akan jauh lebih bersemangat saat mengerjakan sesuatu yang kita sukai (intrinsik), yang kemudian diapresiasi dengan penghargaan yang layak (ekstrinsik). Dengan memahami kedua sisi ini, pendidik dan siswa dapat menciptakan ekosistem belajar yang lebih sehat dan produktif.***
*Catatan : Artikel dikirim Oleh: Fauziyah E. Jaudi, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Madani
