-->

Dari Lidah Turun ke Hati

Bianda meraih ponsel di atas meja dengan malas. Sebuah notifikasi WhatsApp masuk dari nomor asing tanpa foto profil. “Maaf, ini nomor Uda Bianda, bukan?” tulis si pengirim.

Ilustrasi gabar (pixabay.com)

Bianda mengernyit, jemarinya bergerak membalas cepat, “Iya, betul. Ini siapa, ya?”

“Saya Ira. Ini nomor yang pernah Uda berikan tempo hari, saat mampir bersama teman-teman di warung makan kami...”

Ingatan Bianda langsung berputar. “Oh, maaf Ira. Uda kira siapa tadi.”

Ia segera menyimpan nomor itu. Begitu tersimpan, muncul nama Zahira beserta foto profilnya. Bianda mengetuk foto itu, memperbesarnya. Seorang wanita dengan senyum ramah yang langsung menyegarkan ingatannya.

“Terima kasih ya, Uda dan rombongan sudah mampir di tempat kami,” lanjut Ira di seberang sana.

“Iya, sama-sama.”

“Oh ya, bagaimana kesannya setelah makan di tempat kami?”

Bianda terdiam sejenak, memutar otak untuk membalas dengan cara yang sedikit berbeda. “Wah, luar biasa, Ira. Teman-teman Uda juga bilang begitu. Rasanya pas, dari lidah langsung turun ke hati. Dan...”

Bianda sengaja menggantung kalimatnya.

“Dan... dan apa Uda?” balas Zahira cepat.

“Dan... pelayanannya itu lho, istimewa. Orangnya ceria, cantik lagi,” goda Bianda.

“Gomballllll!”

Bianda tersenyum geli melihat balasan itu. Ia hanya mengirim emotikon tersenyum malu. Tak lama, status Zahira berubah menjadi offline. Percakapan pertama itu pun berakhir, meninggalkan sisa hangat di dada Bianda.

Keesokan harinya, rasa penasaran mendorong Bianda melakukan panggilan telepon. Tak butuh waktu lama, suara lembut itu menyapa.

“Apa kabar, Ira?”

“Baik. Uda sendiri bagaimana?”

“Uda baik juga. Syukurlah kalau Ira sehat.”

“Berarti Uda dan rombongan sudah sampai di rumah dengan selamat ya?” tanya Zahira.

“Sudah. Malah rasanya Uda ingin kembali ke sana lagi,” pancing Bianda.

“Hah? Benarkah? Kapan?” suara Zahira terdengar antusias.

“Ya, kapan-kapan kalau ada waktu luang.”

Zahira tertawa kecil di seberang sana. “Ingin makan lagi di Ampera Kita... atau ingin ketemu orangnya?”

Bianda terkekeh. “Gimana ya? Sepertinya dua-duanya.”

“Nah, ketahuan kan gombalnya!”

“Kali ini serius, Ira.”

Hening sejenak. Keheningan yang terasa berbeda.

“Kok diam?” tanya Bianda lembut.

“Tidak apa-apa... Oh ya, Uda ada rencana pulang kampung dalam waktu dekat?”

“Ada, rencananya menjelang bulan puasa nanti.”

“Mungkin saat itu Uda bisa mampir ke rumah saya,” ajak Zahira tiba-tiba.

“Horeee!” seru Bianda kegirangan tanpa sadar.

“Duh, segitu gembiranya Pak Guru satu ini,” goda Zahira.

Bianda hanya bisa nyengir lebar sebelum akhirnya mengakhiri percakapan itu dengan hati berbunga-bunga.

Bianda menyandarkan punggung ke kursi kerjanya. Pikirannya melayang jauh ke peristiwa beberapa hari lalu di sebuah rumah makan di pinggir jalan lintas.

“Bu, pesan gulai cancang satu,” ujar Bianda saat itu, mengantre di depan etalase kaca yang penuh deretan masakan Minang yang menggoda selera.

“Baik, Pak,” sahut wanita di balik etalase sambil melempar senyum manis.

Suasana warung itu riuh. Teman-teman sejawat Bianda, terutama ibu-ibu, tampak asyik mengobrol. Ternyata, Zahira berasal dari kampung yang sama dengan rombongan mereka. Kedekatan spontan pun terjalin.

“Ira, bapak yang pakai topi hitam itu sedang jomblo, lho,” celetuk salah satu ibu sambil menunjuk ke arah Bianda.

Bianda yang tengah menyeruput kopi hangat nyaris tersedak. Ia satu-satunya orang yang memakai topi hitam di sana.

“Kalau begitu minta nomor HP-nya saja, Pak Bian!” Usrial, rekan di sebelahnya, ikut memanaskan suasana.

Bianda hanya menggeleng, merasa sedang dikerjai habis-habisan. Namun, Usrial tak kehilangan akal. Ia mengambil secarik kertas, meminta Bianda menuliskan nomor ponselnya, lalu memberikannya langsung kepada Zahira.

Saat rombongan hendak naik ke bus, momen tak terduga terjadi. Bianda bersalaman dengan Zahira. Entah mengapa, jabat tangan itu terasa lama—seperti adegan drama yang diputar dalam gerak lambat.

“Sekarang, saya mulai panggil Uda, ya,” ucap Zahira pelan.

“Saya juga akan panggil Ira, bukan Ibu lagi,” balas Bianda, masih enggan melepas genggaman tangannya.

“Selamat jalan ya, Uda.”

“Iya... sampai jumpa. Tapi entah kapan lagi kita bisa bertemu.”

“Kita pasti bertemu lagi, Uda,” tukas Zahira mantap.

Begitu tangan terlepas, sorak-sorai dan tepuk tangan dari teman-teman di atas bus pecah. Bianda naik ke bus dengan perasaan campur aduk. Dari balik jendela, ia melambaikan tangan, menatap sosok Zahira yang perlahan mengecil saat bus mulai menjauh dari Rumah Makan Ampera Kita.

Bianda menghela napas panjang di kursi kerjanya. Ia menyadari sesuatu; rasa itu tertinggal di sana. Berawal dari lidah yang mengecap masakan, ternyata benar-benar jatuh ke hati.***