"Elita...?"
"Arman?"
Dua insan paruh baya itu terpaku. Di bawah langit Pantai
Padang yang mulai menyemburat jingga, waktu seolah berhenti berputar. Tiga
puluh tahun bukan waktu yang singkat untuk mengubur sebuah nama, namun sore
itu, nama tersebut kembali menyeruak bersama aroma garam dan kenangan.
Elita sedang menggandeng seorang bocah perempuan kecil
yang lincah. Arman hanya berdiri sendiri, menatap laut yang sama dengan yang
mereka tatap tiga dekade lalu.
"Ma, aku duluan ya? Mas Surya sudah menelepon,
menyuruh cepat pulang," suara seorang wanita muda memecah keheningan.
Wajah wanita muda itu adalah cerminan masa muda Elita
yang tersimpan rapi dalam ingatan Arman.
"Ayo, Mena, kita pulang duluan. Biarkan Nenek di
sini sebentar," ajak wanita muda itu pada si kecil. Namun, langkahnya
terhenti saat menyadari tatapan mamanya terkunci pada pria di hadapannya.
"Oh, kenalkan, ini Jesika, putri tunggal-ku,"
Elita tersenyum tipis, mencoba menata debar di dadanya. "Jes, ini Om
Arman... teman kuliah Mama dulu."
Arman mengangguk santun, dibalas senyum ramah dari
Jesika.
"Apa kabar, Om?" sapa Jesika sopan.
"Alhamdulillah, baik," jawab Arman singkat,
suaranya sedikit serak.
"Begini Om, saya pamit duluan ya? Tapi... titip Mama
saya sebentar ya, Om?" Jesika menggoda dengan nada jenaka seolah bisa
membaca suasana yang canggung namun hangat itu.
Elita melepas kepergian putri dan cucunya dengan tatapan
penuh sayang, lalu beralih kembali pada Arman. "Putriku satu-satunya, Man.
Kamu sendiri... sudah punya cucu?"
Arman terkekeh getir, menggeleng pelan.
"Belum."
"Istrimu? Kenapa tidak ikut ke sini?"
Arman menarik napas panjang, menatap garis cakrawala.
"Ceritanya panjang, Lit..."
"Kalau begitu, mari kita cari tempat duduk. Tempat
yang dulu menjadi saksi saat kita memilih jalan masing-masing," ajak
Elita.
"Nanti suamimu salah paham?" Arman ragu.
Elita tersenyum penuh arti. "Tidak akan ada yang
salah paham, Man."
"Maksudmu?"
"Panjang juga ceritanya," balas Elita,
menirukan gaya bicara Arman tadi.
Mereka berjalan menuju deretan batu grip penahan ombak.
Angin sore mulai mendingin, ombak berkejaran menghantam batu, menciptakan
simfoni yang akrab di telinga mereka. Keduanya terdiam, berpura-pura sibuk
menatap matahari yang mulai tenggelam, padahal pikiran mereka sedang melesat ke
belakang.
Tiga puluh tahun silam, di titik yang hampir sama.
"Aku ikhlas, Lit. Turuti keinginan orang
tuamu," ujar Arman kala itu, meski tangannya gemetar hebat di dalam saku
celana.
"Tapi bagaimana denganmu? Apa kamu akan baik-baik
saja?" tanya Elita dengan mata yang sudah sembab.
Arman mengangguk mantap. "Insyaallah, aku
kuat."
"Kenapa kamu tidak mau berjuang sedikit lagi, Man?
Meyakinkan mereka bahwa kita bisa?"
Arman menggeleng lemah. "Sia-sia, Lit. Dibandingkan
calon pilihan orang tuamu, aku hanyalah seorang pemimpi yang belum punya apa-apa.
Aku tidak ingin membawamu hidup susah dengan cara kawin lari. Aku ingin kamu
bahagia, meski bukan bersamaku."
Elita terisak, menunduk dalam. "Mungkin kita memang
tidak berjodoh..."
"Restu orang tua adalah langkah awal rumah tangga
yang berkah, Lit. Kejarlah itu," pungkas Arman hari itu, sebelum berbalik
dan pergi tanpa sekalipun menoleh ke belakang, takut jika ia menoleh, ia tak
akan sanggup melepaskannya.
"Hei, malah melamun," tegur Arman, membuyarkan
lamunan Elita.
"Kamu juga melamun, kan?" Elita membalas dengan
tawa kecil yang masih terasa sama seperti dulu.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar istrimu? Orang
mana dia?" tanya Elita pelan, menyelidik.
Arman terdiam sejenak, lalu berdehem pelan. "Dia
sudah tiada, Lit. Meninggal beberapa tahun lalu. Dia orang sekampungku. Kami
dikaruniai dua anak, tapi ya itu... mereka belum memberiku mantu apalagi
cucu."
Elita terenyuh. "Maaf, aku tidak tahu..."
"Tak apa. Suamimu sendiri?"
"Sudah meninggal juga," sahut Elita lirih.
"Kini hidupku hanya untuk Jesika dan cucuku."
Hening kembali menyergap, namun kali ini terasa lebih
nyaman. Tidak ada lagi beban masa lalu, hanya ada sisa-sisa rindu yang telah
usang namun tetap tersimpan rapi.
"Tidak ada niat mencari pengganti ayah Jesika?"
tanya Arman, nadanya setengah bergurau namun ada sorot serius di matanya.
Elita melirik pria di sampingnya itu. "Kamu sendiri?
Belum ada calon ibu untuk anak-anakmu?"
"Belum ada yang mau..."
"Kamu yang tidak mau, atau memang tidak
mencari?" potong Elita cepat.
Arman tertawa lepas, tawa yang sudah lama tidak ia
perdengarkan. "Mungkin... aku hanya sedang menunggu senja yang
tepat."
Langit sudah meremang. Sang surya telah benar-benar
pulang ke peraduannya, menyisakan gurat merah di ufuk barat yang memukau.
"Sudah hampir Magrib, sebaiknya kita pulang,"
ajak Elita.
"Iya, mari."
Keduanya berdiri serempak. Tanpa perlu banyak kata lagi,
mereka saling merogoh ponsel, bertukar nomor telepon di bawah lampu jalan yang
mulai menyala satu per satu. Pertemuan ini mungkin bukan sekadar kebetulan,
melainkan cara semesta memberi kesempatan bagi dua hati yang dulu pernah patah
untuk sekadar saling menyapa, atau mungkin... memulai babak baru di usia senja.***
