-->

Pertemuan di Ujung Senja

"Elita...?"

"Arman?"

Dua insan paruh baya itu terpaku. Di bawah langit Pantai Padang yang mulai menyemburat jingga, waktu seolah berhenti berputar. Tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat untuk mengubur sebuah nama, namun sore itu, nama tersebut kembali menyeruak bersama aroma garam dan kenangan.

Ilustrasi gambar (pixabay.com)

Elita sedang menggandeng seorang bocah perempuan kecil yang lincah. Arman hanya berdiri sendiri, menatap laut yang sama dengan yang mereka tatap tiga dekade lalu.

"Ma, aku duluan ya? Mas Surya sudah menelepon, menyuruh cepat pulang," suara seorang wanita muda memecah keheningan.

Wajah wanita muda itu adalah cerminan masa muda Elita yang tersimpan rapi dalam ingatan Arman.

"Ayo, Mena, kita pulang duluan. Biarkan Nenek di sini sebentar," ajak wanita muda itu pada si kecil. Namun, langkahnya terhenti saat menyadari tatapan mamanya terkunci pada pria di hadapannya.

"Oh, kenalkan, ini Jesika, putri tunggal-ku," Elita tersenyum tipis, mencoba menata debar di dadanya. "Jes, ini Om Arman... teman kuliah Mama dulu."

Arman mengangguk santun, dibalas senyum ramah dari Jesika.

"Apa kabar, Om?" sapa Jesika sopan.

"Alhamdulillah, baik," jawab Arman singkat, suaranya sedikit serak.

"Begini Om, saya pamit duluan ya? Tapi... titip Mama saya sebentar ya, Om?" Jesika menggoda dengan nada jenaka seolah bisa membaca suasana yang canggung namun hangat itu.

Elita melepas kepergian putri dan cucunya dengan tatapan penuh sayang, lalu beralih kembali pada Arman. "Putriku satu-satunya, Man. Kamu sendiri... sudah punya cucu?"

Arman terkekeh getir, menggeleng pelan. "Belum."

"Istrimu? Kenapa tidak ikut ke sini?"

Arman menarik napas panjang, menatap garis cakrawala. "Ceritanya panjang, Lit..."

"Kalau begitu, mari kita cari tempat duduk. Tempat yang dulu menjadi saksi saat kita memilih jalan masing-masing," ajak Elita.

"Nanti suamimu salah paham?" Arman ragu.

Elita tersenyum penuh arti. "Tidak akan ada yang salah paham, Man."

"Maksudmu?"

"Panjang juga ceritanya," balas Elita, menirukan gaya bicara Arman tadi.

Mereka berjalan menuju deretan batu grip penahan ombak. Angin sore mulai mendingin, ombak berkejaran menghantam batu, menciptakan simfoni yang akrab di telinga mereka. Keduanya terdiam, berpura-pura sibuk menatap matahari yang mulai tenggelam, padahal pikiran mereka sedang melesat ke belakang.

Tiga puluh tahun silam, di titik yang hampir sama.

"Aku ikhlas, Lit. Turuti keinginan orang tuamu," ujar Arman kala itu, meski tangannya gemetar hebat di dalam saku celana.

"Tapi bagaimana denganmu? Apa kamu akan baik-baik saja?" tanya Elita dengan mata yang sudah sembab.

Arman mengangguk mantap. "Insyaallah, aku kuat."

"Kenapa kamu tidak mau berjuang sedikit lagi, Man? Meyakinkan mereka bahwa kita bisa?"

Arman menggeleng lemah. "Sia-sia, Lit. Dibandingkan calon pilihan orang tuamu, aku hanyalah seorang pemimpi yang belum punya apa-apa. Aku tidak ingin membawamu hidup susah dengan cara kawin lari. Aku ingin kamu bahagia, meski bukan bersamaku."

Elita terisak, menunduk dalam. "Mungkin kita memang tidak berjodoh..."

"Restu orang tua adalah langkah awal rumah tangga yang berkah, Lit. Kejarlah itu," pungkas Arman hari itu, sebelum berbalik dan pergi tanpa sekalipun menoleh ke belakang, takut jika ia menoleh, ia tak akan sanggup melepaskannya.

"Hei, malah melamun," tegur Arman, membuyarkan lamunan Elita.

"Kamu juga melamun, kan?" Elita membalas dengan tawa kecil yang masih terasa sama seperti dulu.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar istrimu? Orang mana dia?" tanya Elita pelan, menyelidik.

Arman terdiam sejenak, lalu berdehem pelan. "Dia sudah tiada, Lit. Meninggal beberapa tahun lalu. Dia orang sekampungku. Kami dikaruniai dua anak, tapi ya itu... mereka belum memberiku mantu apalagi cucu."

Elita terenyuh. "Maaf, aku tidak tahu..."

"Tak apa. Suamimu sendiri?"

"Sudah meninggal juga," sahut Elita lirih. "Kini hidupku hanya untuk Jesika dan cucuku."

Hening kembali menyergap, namun kali ini terasa lebih nyaman. Tidak ada lagi beban masa lalu, hanya ada sisa-sisa rindu yang telah usang namun tetap tersimpan rapi.

"Tidak ada niat mencari pengganti ayah Jesika?" tanya Arman, nadanya setengah bergurau namun ada sorot serius di matanya.

Elita melirik pria di sampingnya itu. "Kamu sendiri? Belum ada calon ibu untuk anak-anakmu?"

"Belum ada yang mau..."

"Kamu yang tidak mau, atau memang tidak mencari?" potong Elita cepat.

Arman tertawa lepas, tawa yang sudah lama tidak ia perdengarkan. "Mungkin... aku hanya sedang menunggu senja yang tepat."

Langit sudah meremang. Sang surya telah benar-benar pulang ke peraduannya, menyisakan gurat merah di ufuk barat yang memukau.

"Sudah hampir Magrib, sebaiknya kita pulang," ajak Elita.

"Iya, mari."

Keduanya berdiri serempak. Tanpa perlu banyak kata lagi, mereka saling merogoh ponsel, bertukar nomor telepon di bawah lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Pertemuan ini mungkin bukan sekadar kebetulan, melainkan cara semesta memberi kesempatan bagi dua hati yang dulu pernah patah untuk sekadar saling menyapa, atau mungkin... memulai babak baru di usia senja.***