Nasihat Singkat di Lobi Hotel: Pelajaran Mencintai Diri Sendiri
"Sayangilah dirimu sendiri, karena hampir sembilan puluh persen cuma kamu yang pasti menyayangi dirimu!"
Nasihat bijak Bapak Eli (dok.pri/ Cerana Kata)
Kalimat itu tiba-tiba saja 'menampar' saya waktu lagi nongkrong di lobi Hotel Alia, Jakarta. Kalimatnya sederhana, tapi ngena banget di hati. Orang yang mengucapkannya adalah Bapak Eli, seorang putra daerah asli dari Kabupaten Boven Digoel, Papua, yang baru saja saya kenal malam itu.
Awalnya kami cuma mengobrol santai sesama tamu hotel. Bapak Eli ini orangnya supel banget, ramah, dan asyik diajak berdiskusi. Di tengah kehangatan obrolan kami, tiba-tiba saya minta izin sebentar untuk keluar lobi.
"Saya izin keluar sebentar ya Pak, mau mer*k*k," pamit saya.
Mendengar ucapan saya, Bapak Eli langsung merespons dengan cepat.
"Wah, jangan dong Bapak Edi, itu merusak kesehatan. Sayangilah dirimu, karena hampir sembilan puluh persen cuma kita sendiri yang bakal menyayangi diri kita terlebih dulu," sergah Bapak Eli.
Jujur, apa yang dibilang Bapak Eli itu logis banget. Masuk akal. Tapi ya namanya juga sudah telanjur jadi kebiasaan lama, saya cuma bisa tersenyum kecut waktu itu, walau dalam hati kecil saya membenarkan kata-kata beliau.
Singkat cerita, keesokan harinya adalah jadwal kami untuk check-out. Kebetulan, sebelum pergi, kami ketemu lagi dengan Bapak Eli. Kami pun berpamitan karena saya dan rombongan kami bersiap melanjutkan perjalanan menuju Pulau Sumatera.
Nah, di momen perpisahan ini, Bapak Eli lagi-lagi memberikan perhatian yang bikin hati adem. Beliau tiba-tiba menoleh ke arah rombongan ibu-ibu yang ada di sebelah saya.
"Tetap semangat ya Bapak Edi. Dan saya titip Bapak ini pada ibu-ibu semua, tolong dijaga sampai ke pangkuan keluarga ya..." pesan Bapak Eli dengan tulus.
"Baik, Bapak. Kami pasti akan menjaganya," sahut salah satu ibu di rombongan kami sambil tersenyum.
Kami pun akhirnya melangkah meninggalkan Hotel Alia. Perjalanan pulang ke Sumatera kali ini terasa berbeda. Ada satu "oleh-oleh" berharga yang saya bawa pulang: sebuah pengingat dari seorang teman baru asal Boven Digoel tentang pentingnya menghargai hidup dan menyayangi diri sendiri. ***
