-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mahar Kehormatan

| Rabu, Agustus 05, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-05T10:30:53Z
Ani menarik tangannya dengan kasar tatkala dipegang oleh Amran. Padahal Amran meraih tangan Ani dengan lembut. "Maaf, belum waktunya untuk beginian, Uda! Nanti akan tiba waktunya bila kita sudah dihalalkan oleh penghulu," sergah Ani.
Ilustrasi gambar (Mode Ai/ Cerana Kata)

Amran tersentak kaget. Tiba-tiba perasaan bersalah bersarang di hatinya. Apa yang diprotes Ani barusan memang benar. "Maafkan Uda ya, Ani. Ini hanya karena Uda kelewat gembira mendengar pengakuanmu. Uda tahu kita saling mencintai tetapi batasnya juga ada, sekali lagi maafkan Uda..."

Suasana di tepi Danau Singkarak sore itu mendadak hening. Angin perbukitan yang berembus pelan menerpa pucuk-pucuk pohon kelapa, seolah ikut menyaksikan kecanggungan yang tercipta di antara mereka. Matari mulai condong ke barat, memantulkan warna jingga keemasan di atas permukaan air yang tenang. Namun, ketenangan itu berbanding terbalik dengan gemuruh di dada Amran.

Ani memalingkan wajahnya, menatap lurus ke riak air danau. Ada rona merah yang menjalar di pipinya, bukan hanya karena marah, melainkan juga karena rasa malu yang membuncah. Menolak orang yang paling dicintai dengan cara sekasar itu bukanlah hal yang mudah baginya. Namun, prinsip hidup yang ditanamkan oleh ibunya sejak kecil jauh lebih kokoh dari sekadar luapan emosi sesaat.

"Uda tidak perlu minta maaf sampai seperti itu," lirih Ani, suaranya kini melunak, kehilangan nada ketegasan yang sempat membuat Amran terpaku tadi. "Ani tidak bermaksud kasar. Ani hanya ingin menjaga diri, juga menjaga kehormatan Uda sebagai lelaki yang Ani hormati."

Amran menarik napas dalam-dalam. Rasa bersalahnya perlahan berganti menjadi rasa kagum yang kian mendalam. Di zaman ketika batasan moral sering kali kabur, gadis di hadapannya ini tetap berdiri teguh seperti karang. Keberanian Ani menegurnya justru membuat Amran merasa beruntung. Gadis inilah yang ia butuhkan untuk mendampingi hidupnya kelak.

"Terima kasih sudah mengingatkan Uda, Ani," ucap Amran tulus. Ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, tanda penghormatan dan permohonan maaf yang tulus. "Uda berjanji, ini yang pertama dan terakhir kalinya Uda khilaf. Uda tidak akan menyentuh jemarimu lagi, sampai nanti... di depan saksi dan penghulu, Uda menjabat tangan ayahmu untuk mengucap kabul."

Mendengar kalimat itu, Ani menoleh. Sepasang matanya yang bening beradu pandang dengan mata Amran yang menyiratkan kesungguhan. Ketegangan yang sempat menyelimuti mereka pun mencair, digantikan oleh senyuman tipis yang terukir di bibir Ani.

"Uda serius?" tanya Ani memastikan, menyembunyikan rasa bahagianya.

"Dua minggu lagi, sepulang Uda dari Padang, Uda akan membawa mak dan bapak untuk datang ke rumahmu. Kita resmikan ikatan ini," jawab Amran mantap.

Sore itu, di bawah langit Minangkabau yang mulai temaram, tidak ada lagi tangan yang saling bertautan. Jarak satu meter memisahkan duduk mereka di bangku semen tepi danau. Namun, di dalam hati masing-masing, ada sebuah janji suci yang tertanam jauh lebih erat dan kuat daripada sekadar genggaman tangan. Bersama lambaian angin senja, mereka melangkah pulang dengan keyakinan bahwa menjaga cinta dalam restu-Nya akan berbuah manis pada waktunya. ***