Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Trio Angels Kena Skakmat Biologi

Pagi itu di SMP Swasta Karya Pertiwi, sebuah sekolah yang berdiri kokoh di pinggir Jorong Tigo Jangko, angin berembus membawa aroma khas pedesaan, bercampur sedikit wangi pupuk kandang dari sawah di sebelah tembok sekolah.
Ilustrasi gambar (Mode Ai/ Cerana Kata)

Di kelas IX-B, suasana sudah mirip pasar malam yang kehilangan pawang setelannya. Joni, seorang remaja dengan rambut tegak berdiri mirip landak yang gagal dikeringkan, sedang sibuk mengunyah cilok bumbu kacang. Di sebelahnya, Anisa, gadis pintar berkacamata tebal yang selalu membawa buku catatan ke mana-mana, sedang sibuk merapikan meja mereka dari ceceran saus.

Joni dan Anisa adalah sahabat karib sejak zaman masih suka bermain tanah. Mereka berdua terkenal sebagai duet maut penahan penderitaan di kelas, terutama karena posisi duduk mereka tepat di depan trio penguasa gosip sekolah yang paling ditakuti.

Siapa lagi kalau bukan Meriam, Linda, dan Yohana. Geng antagonis ini dengan percaya diri mengklaim kelompok mereka sebagai "The Angels of Karya Pertiwi", padahal kelakuan sehari-hari mereka lebih mirip panitia ujian kubur. Meriam, sang ketua geng, punya suara yang menggelegar dahsyat sesuai namanya. Linda selalu sibuk bercermin sambil membetulkan bando merah menyalanya, sedangkan Yohana bertugas menjadi seksi sibuk yang hobi mencatat siapa saja yang memakai kaus kaki kendor untuk dilaporkan ke guru piket.

"Heh, Joni! Lu makan cilok pagi-pagi, pantesan otak lu isinya aci semua!" teriak Meriam dari bangku belakang. Suaranya yang menggelegar sukses membuat Joni tersedak butiran cilok ketiga.

Joni terbatuk-batuk dengan wajah memerah. Anisa dengan sigap menyodorkan sebotol air teh hangat miliknya. Setelah meneguknya sampai tandas, Joni menoleh ke belakang dengan tatapan sok keren yang dipaksakan.

"Meriam, ketahuilah, aci ini adalah sumber energi kinetik. Tanpa aci, hamba tidak bisa menghadapi kenyataan hidup bahwa nilai matematika hamba kemarin mendapat angka bulat sempurna, alias nol," balas Joni membela diri.

Linda mendengus, mengibaskan rambutnya yang beraroma minyak kemiri menyengat. "Duh, bangga banget sama nilai nol. Anisa, lu kok betah sih temenan sama cowok yang IQ-nya setara dengan suhu ruangan ber-AC?"

Anisa menaikkan kacamatanya menggunakan jari tengah, sebuah gestur lambat yang selalu membuat Trio Angels merasa terintimidasi secara akademis. "Linda, IQ itu bisa ditingkatkan dengan belajar. Tapi kalau selera bando kamu yang mirip pembatas jalan itu, kayaknya agak susah disembuhkan."

Yohana langsung mengeluarkan buku saku kecil dari sakunya dengan cepat. "Anisa, menghina bando Linda termasuk dalam pasal perbuatan tidak menyenangkan di area kelas. Gue catat nama lu ya!"

Sebelum perdebatan antar-kasta itu semakin meruncing, terdengar langkah kaki yang diseret di koridor luar. Suara itu sangat khas, seperti suara sandal jepit menembus genangan lumpur sawah. Seluruh kelas langsung senyap seketika. Mereka tahu persis siapa yang akan datang.

Pintu kelas terbuka dengan sangat dramatis. Munculah Pak Riandi Pratama, guru IPA paling legendaris di seantero kecamatan. Pak Riandi memakai kemeja batik yang kancing paling atasnya sengaja dilepas, memperlihatkan kaus dalam putihnya yang legendaris. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah toples plastik besar berisi air keruh dan beberapa tanaman air. Di tangan kirinya, ada sebuah sapu lidi yang entah apa hubungannya dengan pelajaran sains hari ini.

"Selamat pagi, wahai para penerus bangsa yang wajahnya sebagian besar belum tersentuh sabun cuci muka!" sapa Pak Riandi dengan suara bariton yang dibuat-buat mirip pembaca berita jadul.

"Pagi, Paaaak!" jawab seisi kelas serentak.

Pak Riandi meletakkan toples misterius itu di atas meja guru dengan bantingan pelan. Beliau kemudian menatap papan tulis, lalu menatap murid-muridnya satu per satu. Pandangannya berhenti tepat pada Joni yang masih memegang tusuk cilok kosong.

"Joni," panggil Pak Riandi dengan nada mendalam.

"Iya, Pak?" Joni langsung menegakkan punggungnya, menyembunyikan tusuk cilok di bawah paha.

"Kamu tahu apa persamaan antara cilok yang kamu makan dengan proses fotosintesis?"

Joni menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sama-sama bikin kenyang, Pak?"

Pak Riandi menggelengkan kepala secara dramatis, lalu mengetuk dahinya sendiri. "Salah! Persamaannya adalah, keduanya membutuhkan cahaya matahari. Kalau cilok kamu dimakan di kegelapan malam tanpa lampu, kamu bisa salah gigit jempol kaki teman sebangkumu. Paham?"

Seluruh kelas tertawa terbahak-bahak mendengar teori asal tersebut. Anisa tersenyum kecil sambil mencatat "Teori Jempol Kaki Pak Riandi" di buku tulisnya, sekadar untuk menghargai humor sang guru. Sementara itu, Meriam memutar bola matanya malas.

"Hari ini," Pak Riandi berjalan mondar-mandir di depan kelas sambil mengayun-ayunkan sapu lidi seperti tongkat sihir, "kita akan mempelajari tentang ekosistem air tawar dan rantai makanan. Bapak sudah membawa contoh ekosistem nyata dari parit depan rumah Bapak." Beliau menunjuk toples berisi air keruh tadi. "Di dalam sini ada berudu, jentik nyamuk, dan beberapa lumut yang sedang berjuang mempertahankan martabat mereka."

Meriam mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan gaya centil. "Pak! Kenapa kita harus belajar ginian? Kan saya nanti gedenya mau jadi selebgram terkenal di desa ini, gak butuh tahu kehidupan berudu, Pak!"

Pak Riandi berhenti melangkah. Beliau menatap Meriam dengan tatapan penuh empati yang sangat berlebihan. "Meriam, anakku yang suaranya mengalahkan toa masjid. Menjadi selebgram justru harus tahu tentang berudu. Mengapa? Karena netizen di media sosial itu kadang mirip berudu: suka berenang ke sana kemari tanpa arah, kepalanya besar tapi otaknya belum tumbuh sempurna, dan suka memakan apa saja termasuk hoaks. Jadi, ini adalah analogi sosiologi-biologis!"

Joni langsung bertepuk tangan paling keras di pojok kelas. "Mantap, Pak! Meriam langsung kena telak oleh biologi!"

"Diam kamu, Joni!" bentak Linda membela temannya. "Pak, Joni dari tadi mainin tusuk cilok tuh, bahaya bisa menusuk masa depan orang!"

"Betul Pak, Joni melanggar protokol keselamatan kelas dan membawa senjata tajam bambu!" timpal Yohana sibuk menulis di buku catatannya.

Pak Riandi berjalan mendekati meja Joni dan Anisa. Beliau melihat tusuk cilok yang disembunyikan Joni. Bukannya marah, Pak Riandi malah mengambil tusuk tersebut. "Wah, ini dia! Tusuk cilok ini adalah alat peraga yang sempurna untuk menjelaskan rantai makanan. Mari kita simulasikan!"

Pak Riandi meminta Joni berdiri. "Joni, bayangkan kamu adalah seekor produsen, yaitu tumbuhan aci. Kemudian, Meriam adalah konsumen tingkat satu, seekor ulat bulu yang rakus dan banyak bulunya."

"Kok ulat bulu sih, Pak?!" protes Meriam tidak terima, wajahnya cemberut maksimal.

"Tenang Meriam, ini hanya fiksi ilmiah kelas IX-B," kata Pak Riandi menenangkan dengan santai. 
"Lalu, Linda adalah konsumen tingkat dua, seekor ayam yang suka mematuk ulat bulu. Dan Yohana adalah konsumen tingkat tiga, seekor elang yang mengawasi dari atas pohon sambil membawa buku catatan gosip."

Kelas kembali meledak dalam tawa yang lebih keras. Anisa sampai harus memegangi perutnya yang kram karena menahan tawa. Trio Angels mendengus kesal, merencanakan balas dendam setelah jam pelajaran selesai.

"Nah, sekarang," lanjut Pak Riandi, "jika produsennya yaitu si Joni ini punah karena tidak mengerjakan tugas IPA minggu lalu, maka ulat bulu, ayam, dan elang akan kelaparan sampai punah. Jadi Joni, mana tugas kliping ekosistem kamu?"

Joni langsung membeku seketika. Wajahnya yang tadi ceria langsung berubah pucat seputih kertas baru. Beliau menoleh ke arah Anisa dengan pandangan meminta pertolongan darurat. Anisa hanya bisa menggeleng pasrah dan menepuk dahinya.

"Anu, Pak... Tugas saya... sebenarnya sudah selesai," jawab Joni terbata-bata.

"Lalu di mana jasad tugas itu sekarang?" tanya Pak Riandi, menaikkan satu alisnya yang tebal.

"Kemarin waktu saya mau bawa ke sekolah, klipingnya jatuh ke kandang kambing tetangga, Pak. Terus... dimakan sama si Jalu, kambingnya Pak RT," alasan Joni yang terdengar sangat tidak masuk akal, namun diucapkan dengan wajah paling meyakinkan sedunia.

Meriam langsung menyambar kesempatan emas itu untuk menjatuhkan Joni. "Halah! Alasan klasik, Pak! Palingan dia malas bikin terus main game online sampai subuh!"

"Betul Pak! Saya lihat status WhatsApp Joni jam dua malam lagi mabar rank miring!" sahut Yohana bangga karena punya bukti digital yang akurat.

Pak Riandi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat. "Joni, Joni. Kambing Pak RT itu herbivora sejati, mereka makan rumput gajah, bukan makan kertas yang penuh dengan lem dan tinta printer beracun. Tapi, karena Bapak adalah guru yang berhati malaikat berwajah menteri keuangan, Bapak akan memberikan kamu satu kesempatan penebusan dosa."

Mata Joni langsung berbinar penuh harapan. "Apa itu, Pak?"

"Kamu dan Anisa, karena Anisa adalah teman sebangkumu yang gagal mengingatkanmu tentang bahaya kambing, harus membersihkan laboratorium IPA dan merapikan alat-alat praktikum setelah jam istirahat nanti. Dan untuk Trio Angels..." Pak Riandi menoleh ke arah Meriam, Linda, dan Yohana yang sedang tersenyum kemenangan. "...karena kalian begitu perhatian dengan ekosistem kelas dan tugas Joni, kalian bertiga bertugas membantu mereka membawa toples parit ini dan membersihkannya di kantin nanti."

"Haaah?!" teriak Trio Angels bersamaan dengan nada tidak terima.

"Pak, kok kami juga dihukum?!" protes Linda, hingga bando merahnya hampir copot ke depan.

"Ini bukan hukuman, Linda. Ini namanya 'Kerja Sama Simbiosis Mutualisme'. Kalian mengawasi Joni, Joni membersihkan, dan kalian semua belajar arti kehidupan dari seekor berudu parit. Adil, kan? Keputusan tidak dapat diganggu gugat, jika ada yang protes maka nilai rapor kalian Bapak ubah jadi format biner, cuma angka satu dan nol," ancam Pak Riandi sambil tersenyum manis penuh kemenangan.

Bel istirahat berbunyi dengan nyaring, menyelamatkan kelas IX-B dari ketegangan hukum biologi tersebut. Pak Riandi keluar kelas dengan langkah santai, meninggalkan lima murid yang kini saling pandang dengan tatapan penuh permusuhan membara.

Di kantin sekolah, suasananya sangat ramai dan gaduh. Warung Bu Sukiyem yang menjual bakso urat dan es teh manis dipadati oleh murid-murid yang kelaparan. Di pojok kantin, tepat di dekat wastafel tempat cuci piring yang agak becek, berdiri lima remaja dengan sebuah toples berisi air keruh.

Joni membawa ember plastik besar, sementara Anisa memegang spons pembersih di tangannya. 

Meriam, Linda, dan Yohana berdiri agak jauh, menutup hidung mereka dengan sapu tangan bermotif bunga-bunga seolah-olah air parit itu mengandung limbah kimia berbahaya.

"Aduh Joni, cepat napa buang air berudunya! Bau tau gak, merusak penciuman kaum sosialita!" keluh Meriam sambil mengibaskan tangannya di depan hidung.

"Sabar, Mer. Ini namanya proses evakuasi fauna langka. Kita harus memindahkan berudu ini ke selokan kantin dengan penuh perikemanusiaan dan perikeberuduan," jawab Joni dengan nada sok bijak.

Anisa mulai menuangkan air dari toples ke dalam ember penyaring secara perlahan agar berudunya tidak hanyut ke lubang pembuangan yang salah. "Kalian kalau cuma berdiri di situ mending bantuin ambil air bersih deh. Jangan cuma jadi pajangan kayak manekin toko baju murah pasar malam."

Linda mendelik tajam. "Heh Anisa, tangan kita ini dirawat pakai hand cream mahal import ya. Gak level menyentuh air parit ciptaan Pak Riandi itu."

Tiba-tiba, sebuah ide jahat nan jenius muncul di kepala Joni. Beliau melihat seekor berudu yang cukup besar, hitam, dan bergerak sangat lincah di dalam ember. Dengan gerakan cepat yang tidak disadari oleh siapa pun, Joni mengambil berudu itu menggunakan gayung kecil.

"Eh, Meriam! Lihat deh, ada berudu mutan raksasa punya kaki!" seru Joni sambil mengarahkan gayung itu tepat di depan wajah Meriam.

Meriam yang memang dasarnya penakut setengah mati dengan segala jenis binatang melata, basah, dan berlendir, langsung menjerit histeris dengan suara melengking. "Kyaaaaa! Jauhin gak! Joni sinting kena rabies!!"

Meriam mundur beberapa langkah dengan sangat panik tanpa melihat arah belakang. Sial baginya, di belakangnya ada Linda yang sedang asyik bercermin menggunakan kamera depan ponselnya sambil memonyongkan bibir. Meriam menabrak Linda dengan sangat keras.

Linda yang kehilangan keseimbangan langsung terhuyung ke belakang dan menyenggol Yohana yang sedang memegang segelas es jeruk penuh milik murid lain yang kebetulan ditinggal di atas meja kantin.
Byyuuuurrr!

Tragedi berantai tak terbendung pun terjadi dalam hitungan detik. Es jeruk manis itu tumpah tepat di atas kepala Linda, membuat rambutnya yang tadinya beraroma minyak kemiri kini lengket dengan air gula, es batu, dan potongan jeruk purut asli. Sementara itu, Meriam yang masih dalam kondisi panik luar biasa malah terpeleset lantai kantin yang licin akibat tumpahan air sabun cuci piring. Beliau jatuh terduduk dengan suara dentuman yang cukup keras ke lantai, persis seperti meriam beneran yang meledak di atas tanah.

Yohana mencoba bergerak cepat menolong Meriam, tapi malang kakinya malah tersangkut gagang ember plastik milik Joni. Yohana pun jatuh tiarap ke depan, dan untungnya, atau sialnya, wajah serta badannya mendarat tepat di atas tumpukan kerupuk lepek yang ada di dalam plastik besar milik warung kantin di lantai.

Kreeek! Pray! Byarr!

Suasana kantin yang tadinya sangat bising langsung mendadak hening seketika seperti kuburan baru. Ratusan pasang mata murid-murid SMP Karya Pertiwi kini serentak tertuju pada pojok wastafel yang kacau balau tersebut.

Trio Angels yang biasanya selalu tampil anggun, sok berkuasa, dan wangi, kini tampak sangat mengenaskan. Linda menangis bombay karena rambutnya dipenuhi es jeruk dan bando merah kesayangannya patah menjadi dua bagian. Meriam mengaduh kesakitan sambil memegangi bagian belakang tubuhnya yang membentur lantai, dan Yohana dipenuhi remah-remah kerupuk kuning di sekujur seragam putihnya, membuat dirinya terlihat persis seperti ayam krispi yang gagal melalui proses penggorengan.

Joni dan Anisa melongo dengan mata melotot melihat pemandangan epik di depan mereka. Joni masih memegang gayung kecil dengan ekspresi wajah bersalah yang amat sangat palsu dan dipaksakan.

"Wah... Joni, lu bener-bener memicu rantai makanan bencana alam terbesar abad ini," bisik Anisa kaget sekaligus menahan ledakan tawa di dadanya yang sudah kram.

"Gue gak sengaja, Nis. Sumpah, elang, ulat bulu, sama ayamnya punah bersamaan dalam waktu satu detik saja," balas Joni berbisik pelan dengan tubuh gemetar menahan tawa.

"Joniiiiiiiii!!! Anisaaaa!!! Gue laporin kalian ke kepala sekolah!!! Gue tuntut kalian sampai jalur hukum!!!" teriak Meriam dengan suara oktaf tertinggi yang pernah dihasilkan manusia, membuat beberapa burung gereja di atap kantin terbang ketakutan menyelamatkan diri.

Sebelum Joni dan Anisa sempat mengambil langkah seribu untuk kabur, sebuah suara dehaman berat yang sangat mereka kenal terdengar santai dari arah belakang kerumunan murid.

"Ehem. Luar biasa sekali simulasi bencana ekosistem buatan manusia hari ini."

Mereka semua menoleh serentak. Pak Riandi Pratama sudah berdiri kokoh di sana, memegang sebotol kecil kecap manis di tangan kanan dan sebuah pisang goreng setengah digigit di tangan kiri. Beliau memandangi kekacauan total di pojok kantin itu dengan tatapan seorang profesor jenius yang baru saja melihat hasil eksperimen laboratoriumnya sukses besar.

"Pak Riandi!" tangis Linda langsung mengadu dengan air mata bercampur air jeruk. "Lihat kelakuan Joni, Pak! Dia sengaja ngelempar berudu purba ke muka Meriam sampai kami semua jatuh miskin dan hancur lebur begini!"

Pak Riandi mendekati tempat kejadian perkara, mengunyah pisang gorengnya dengan sangat tenang tanpa beban. Beliau menatap Linda yang berambut es jeruk, lalu menatap Yohana yang penuh dengan remah kerupuk seolah siap digoreng ulang.

"Hmm," Pak Riandi mengetuk-ngetuk dagunya dengan botol kecap. "Berdasarkan analisis hukum fisika dan biologi terapan yang Bapak lihat langsung... ini adalah fenomena nyata dari 'Hukum Karma Newton'. Di mana setiap aksi kejahilan yang tidak perlu, akan menghasilkan reaksi kepanikan masal yang berlipat ganda energinya. Linda, rambut kamu sekarang memiliki aroma jeruk yang sangat organik dan segar, jauh mengalahkan bau parit rumah Bapak tadi. Yohana, kamu sekarang sudah sah naik kasta menjadi produsen makanan ringan karena dipenuhi kerupuk renyah. Dan Meriam, gaya jatuh kamu tadi sungguh sangat aerodinamis dan menggelegar."

"Pakkkkk! Kok kami malah diledek sih?!" teriak trio Angels itu kompak dengan nada frustrasi.

Pak Riandi tertawa terkekeh-kekeh hingga bahunya berguncang. "Sudah, sudah. Jangan menangis di depan makanan, pamali. Ini adalah pelajaran biologi paling berharga bahwa di dalam sebuah ekosistem besar bernama sekolah, kita tidak boleh saling menindas atau merendahkan satu sama lain. Kalau kalian suka menjahili Joni dan Anisa di kelas dengan ucapan gosip kalian, alam semesta ternyata punya cara unik untuk membalasnya langsung lewat perantara seekor berudu kecil."

Beliau kemudian menolehkan pandangannya ke arah Joni dan Anisa yang mulai pura-pura sibuk mengelap ember. "Joni, meskipun eksperimen dadakan kamu sukses besar menghibur seluruh penghuni kantin yang sedang stres ujian, kamu tetap dinyatakan bersalah karena membuat fasilitas kantin Bu Samsimar penuh dengan kerupuk hancur. Sebagai gantinya, kamu harus membayar seluruh kerupuk yang hancur itu menggunakan uang jajan kamu hari ini."

Bahu Joni langsung merosot lemas seketika. "Yah, Pak... dompet hamba sedang mengalami krisis moneter global dan inflasi tingkat tinggi, Pak. Sisa uang saya tidak cukup."

"Tidak ada alasan ilmiah untuk dompet kosong! Dan untuk Anisa, karena kamu kedapatan tertawa paling akhir di balik punggung Joni, kamu bertugas menemani dan membantu Trio Angels membersihkan sisa-sisa ekosistem kantin dari tubuh mereka di kamar mandi. Saling membantu dalam kesusahan adalah kunci utama dari simbiosis mutualisme antarmakhluk hidup!" perintah Pak Riandi dengan nada final yang tidak bisa diganggu gugat.

Pak Riandi kemudian berbalik badan dengan santai, kembali berjalan menuju ruang guru sambil bersenandung lagu daerah dengan ceria, meninggalkan pojok kantin yang kini dipenuhi tawa riuh dari murid-murid lain yang menonton sejak awal.

Anisa menatap Joni sambil menggelengkan kepala pelan, lalu beralih menatap Trio Angels yang masih merengut dan cemberut massal. "Ya sudah, yuk kita ke kamar mandi cewek sekarang. Nanti keburu bel masuk jam pelajaran berikutnya berbunyi, bisa berabe kalau ketemu guru piket."

Dengan berat hati dan sisa-sisa harga diri yang terluka, Meriam, Linda, dan Yohana bangkit berdiri dibantu oleh tuntunan Anisa yang sabar. Sementara itu, Joni dengan wajah pasrah dan penuh penyesalan mulai memunguti satu per satu remah-remah kerupuk kuning di lantai kantin sambil menghitung sisa uang kertas di sakunya yang ternyata tinggal selembar lima ribu rupiah lecek.

Meskipun hari itu Joni harus kehilangan seluruh uang jajannya demi membayar ganti rugi kerupuk Bu Samsimar dan Trio Angels harus kehilangan seluruh reputasi keren mereka di sekolah, ada satu hal penting yang disadari semua orang: pelajaran IPA bersama Pak Riandi Pratama tidak akan pernah bisa dilupakan oleh siapa pun di SMP Swasta Karya Pertiwi. Di desa kecil yang biasanya tenang itu, cerita menggelikan tentang "Tragedi Berudu Bencana Kantin" akan terus diwariskan dari angkatan ke angkatan sebagai legenda humor paling epik sepanjang masa. ****