Nagari Sukamaju sudah lama menanggalkan kesan tertinggal. Jalanannya beraspal mulus, lampu-lampu jalan bertenaga surya berdiri tegak, dan jaringan Wi-Fi berkecepatan tinggi menjangkau setiap sudut pemukiman. Di tengah modernitas nagari itu, hidup Aini, seorang wanita berusia 42 tahun. Ia dikenal sebagai sosok yang mandiri, rapi, dan selalu menjaga martabatnya sebagai seorang istri dari Heru, suaminya yang bekerja sebagai kontraktor dan sering bepergian ke luar kota.
Ilustrasi gambar (Mode Ai/ Cerana Kata)
Namun, ketenangan hidup Aini kerap terusik oleh kehadiran Aidi. Lelaki berusia 54 tahun itu adalah seorang duda beranak lima yang tinggal hanya terpaut beberapa rumah darinya. Aidi bertubuh tidak terlalu tegap untuk ukuran pria seusianya, dengan rambut yang mulai dihiasi uban namun selalu tampak rapi. Penampilannya yang kasual dan pembawaannya yang supel membuatnya mudah bergaul dengan siapa saja di nagari modern itu.
Masalahnya, Aidi memiliki kebiasaan yang membuat telinga Aini merah: ia selalu menggoda Aini setiap kali mereka berpapasan.
"Pagi, Bu Aini. Makin hari kok makin bersinar saja, mengalahkan terangnya lampu taman nagari kita," goda Aidi suatu pagi, saat Aini sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya yang berpagar minimalis.
Aini hanya mendengus kencang, memutar bola matanya, dan langsung membalikkan badan tanpa membalas sapaan itu. Di dalam hati, Aini merasa sangat terganggu. Dia itu tidak tahu malu ya? Sudah tahu aku ini punya suami, anak-anaknya sudah besar-besar, masih saja genit! gerutu Aini dalam hati.
Bagi Aini, sikap Aidi adalah sebuah kelancangan. Hampir setiap kesempatan, baik di balai nagari saat rapat bulanan, di minimarket digital desa, atau saat berpapasan di jalur pedestrian, Aidi selalu punya cara untuk melontarkan pujian atau gurauan yang menjurus pada perhatian lebih. Semua orang di Nagari Sukamaju tahu Aidi menyukai Aini, dan Aini selalu menunjukkan penolakan yang tegas. Aini membenci perhatian itu. Ia menganggap Aidi sebagai gangguan yang merusak hari-harinya.
Namun, roda kehidupan di Nagari Sukamaju terus berputar, dan sebuah perubahan besar terjadi tanpa diduga.
Suatu hari, seorang wanita pindah domisili ke nagari mereka. Namanya Ratna, seorang janda berusia 45 tahun yang modis dan ramah. Ratna membuka usaha kafe kekinian di dekat alun-alun nagari. Kehadiran Ratna segera menarik perhatian warga, termasuk Aidi.
Awalnya, Aini merasa lega. Sejak kedatangan Ratna, intensitas godaan Aidi kepadanya berkurang drastis. Saat berpapasan di jalan, Aidi hanya melemparkan senyum sopan atau sapaan formal, "Mari, Bu Aini," tanpa ada bumbu-bumbu gombalan seperti biasanya.
Tetapi, kelegaan Aini tidak bertahan lama. Perlahan, ia mulai melihat pemandangan baru yang membuatnya tidak nyaman. Aidi sering terlihat di kafe milik Ratna. Bukan sekadar minum kopi, tetapi mereka tampak berbincang akrab, tertawa bersama, dan sesekali Aidi membantu Ratna menata tanaman hias di depan kafenya. Anak-anak Aidi yang berjumlah lima orang itu bahkan terlihat sering bermain di sana, tampak sangat dekat dan menerima kehadiran Ratna dengan tangan terbuka.
Ada sesuatu yang aneh bergejolak di dalam dada Aini. Sesuatu yang terasa panas, sesak, dan tidak menyenangkan.
Puncaknya terjadi pada suatu sore di area olahraga nagari. Aini sedang berjalan santai ketika melihat Aidi dan Ratna sedang berjalan beriringan sambil berbincang hangat. Aidi tampak tertawa lepas, tawa yang biasanya ia tunjukkan saat mencoba menggoda Aini. Kali ini, tatapan penuh kekaguman di mata Aidi tidak lagi tertuju pada Aini, melainkan pada Ratna.
Aini menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa cemburu yang tiba-tiba membakar hatinya.
Kenapa dia sekarang mengabaikanku? Kenapa dia begitu cepat berpaling pada wanita lain? batin Aini bergolak.
Logika Aini mencoba protes. Bukannya ini yang kamu mau, Aini? Kamu kan benci digoda olehnya? Kamu punya suami! Namun, ego dan hati seorang perempuan sering kali tidak berjalan seiring dengan logika. Bertahun-tahun terbiasa menjadi pusat perhatian dan "objek" kejaran Aidi, membuat Aini tanpa sadar menganggap perhatian itu sebagai sebuah kepastian. Kini, ketika kepastian itu hilang dan dialihkan kepada wanita lain, Aini merasa kehilangan yang amat sangat.
Rasa benci yang dulu ia rasakan karena digoda, kini bermutasi menjadi rasa benci karena diabaikan. Dan yang lebih menakutkan bagi Aini, ada rasa rindu yang menyelinap di sela-sela rasa benci itu. Ia merindukan suara bariton Aidi yang memanggil namanya dengan nada manja. Ia merindukan kalimat-kalimat gombal yang dulu selalu sukses membuat harinya kesal sekaligus berwarna.
Jarak rumah mereka yang dekat dan lingkungan nagari yang satu hamparan justru menjadi siksaan tersendiri bagi Aini. Setiap hari ia harus menyaksikan pria yang dulu memujanya, kini semakin hari semakin menjauh. Pria itu ada di sana, dalam satu nagari yang sama, namun terasa bermil-mil jauhnya.
Malam itu, Aini duduk di balkon lantai dua rumahnya yang modern. Suaminya baru saja menelepon, mengabarkan bahwa proyeknya di luar kota diperpanjang lagi sebulan. Di tengah kesunyian malam dan gemerlap lampu desa, Aini menatap ke arah rumah Aidi yang lampunya masih menyala.
Ia tersenyum getir, meratapi kerumitan hatinya sendiri. Manusia memang makhluk yang aneh, pikirnya. Terkadang, kita baru menyadari arti kehadiran sesuatu justru setelah hal tersebut pergi dan menjadi milik orang lain. Aini tahu ia harus membunuh perasaan ini demi pernikahannya, namun malam itu, di bawah langit desa yang modern, ia harus mengakui kekalahannya pada sebuah rasa: ia benci karena merindukan pria yang dulu selalu ia tolak.
***
Nagari Sukamaju sedang bersiap menyambut festival kuliner digital tahunan di alun-alun. Sebagai salah satu pengurus penggerak PKK, Aini bertanggung jawab mengecek instalasi tenda dan kode QR untuk pembayaran nontunai di setiap lapak. Di sudut area festival, ia melihat Ratna sedang sibuk menata meja kafenya. Dan tentu saja, di sana ada Aidi. Lelaki itu sedang membantu memasang lampu hias gantung, bergerak lincah meski usianya sudah berkepala lima.
Melihat kebersamaan mereka yang begitu cair, dada Aini kembali bergemuruh. Rasa sesak itu sudah menumpuk berbulan-bulan, berbaur dengan kesepian karena suaminya, Heru, kembali menunda kepulangan dengan alasan tender baru.
Saat Ratna berjalan ke arah toilet umum, Aidi turun dari tangga aluminium. Ia menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil. Area di sekitar lapak Ratna mendadak sepi dari warga lain. Kesempatan itu datang begitu saja, memicu dorongan impulsif dalam diri Aini yang tidak bisa lagi ia bendung.
Aini melangkah mendekat dengan raut wajah kaku.
"Bisa bicara sebentar, Pak Aidi?" suara Aini terdengar lebih tajam dari yang ia rencanakan.
Aidi menoleh, sedikit terkejut, namun dengan cepat menguasai ekspresinya. Senyum ramah, senyum formal yang beberapa bulan terakhir ini dibencinya, terulas di wajah pria itu. "Oh, Bu Aini. Ada apa ya? Ada masalah dengan instalasi lampu di lapak Bu Ratna?"
Mendengar nama "Bu Ratna" disebut dengan begitu natural dari mulut Aidi, ego Aini serasa diinjak.
"Bukan soal lampu," tukas Aini, melipat kedua tangannya di dada, mencoba membangun benteng pertahanan agar suaranya tidak bergetar. "Saya hanya ingin bertanya. Kenapa sikap Anda berubah drastis? Sekarang Anda bahkan seperti sengaja memalingkan muka kalau berpapasan dengan saya."
Aidi menatap Aini lekat-lekat. Tidak ada lagi binar jenaka atau tatapan menggoda yang dulu selalu menghiasi matanya saat menatap wanita di hadapannya itu. Tatapannya kini datar, dewasa, dan tenang.
"Saya rasa tidak ada yang salah, Bu Aini," jawab Aidi tenang. "Saya hanya mencoba menempatkan diri. Bukankah selama ini Bu Aini merasa sangat terganggu dengan kehadiran saya? Bu Aini selalu marah dan buang muka setiap kali saya sapa."
"Tapi tidak perlu sampai mengabaikan saya seperti orang asing dalam satu nagari, kan?" potong Aini cepat, suaranya meninggi satu oktav. "Dulu Anda begitu gigih, bahkan terkesan tidak tahu malu menggoda istri orang. Sekarang, setelah ada janda kaya yang baru pindah, Anda langsung berpaling begitu saja? Murahan sekali."
Kata-kata itu keluar begitu saja. Kasar, beracun, dan dipenuhi rasa cemburu yang gagal disembunyikan. Aini langsung menyesal setelah mengucapkannya, namun nasi telah menjadi bubur.
Aidi terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang, menatap lurus ke dalam mata Aini dengan pancaran kekecewaan yang mendalam.
"Bu Aini," suara Aidi merendah, namun setiap katanya terasa sangat berat. "Saya menggoda Anda dulu, bukan karena saya tidak tahu malu atau ingin merusak rumah tangga orang. Saya akui, saya sangat mengagumi Anda. Hati saya yang bodoh ini sempat menaruh harapan besar pada Anda, meskipun saya tahu itu salah."
Pria itu maju satu langkah, membuat Aini refleks menahan napas.
"Tapi saya juga tahu diri. Setiap penolakan Anda, setiap tatapan benci yang Anda berikan, perlahan-lahan menyadarkan saya. Saya ini duda dengan lima anak yang harus saya besarkan. Saya tidak punya waktu lagi untuk mengejar bayangan yang tidak akan pernah bisa saya raih," lanjut Aidi dengan nada getir. "Ketika Ratna datang, dia menerima saya apa adanya. Dia menerima kelima anak saya dengan tangan terbuka. Jadi, ketika Anda menuduh saya berpaling... saya sebenarnya hanya sedang menyelamatkan harga diri saya yang sudah habis Anda injak-injak selama bertahun-tahun."
Aini terpaku. Lidahnya mendadak kelu. Kalimat Aidi menghantam kesadarannya bagai godam yang berat.
"Sekarang, ketika saya sudah mundur dan memberikan ketenangan yang selama ini Anda minta, kenapa Anda justru marah?" tanya Aidi, sebuah pertanyaan retoris yang menghujam langsung ke ulu hati Aini.
Sebelum Aini sempat menjawab, Ratna terlihat berjalan kembali dari kejauhan sambil membawa dua botol minuman dingin.
Aidi menatap Aini untuk terakhir kalinya sore itu. "Permisi, Bu Aini. Tugas saya membantu Ratna belum selesai." Pria itu berbalik, menyambut Ratna dengan senyuman hangat yang tulus, lalu kembali sibuk dengan lampu-lampu hiasnya.
Aini berdiri mematung di tengah hiruk-pikuk persiapan festival yang mulai ramai. Ia merasa seolah-olah seluruh pasokan oksigen di sekitarnya menguap. Ia melangkah mundur dengan lunglai, lalu berjalan cepat meninggalkan alun-alun, pulang menuju rumahnya yang megah namun sepi.
Di dalam kamar yang sunyi, Aini duduk di tepi ranjang. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Konfrontasi tadi tidak memberikan kelegaan yang ia bayangkan, melainkan meninggalkan luka baru yang menganga: sebuah penyesalan yang terpendam.
Ia menyesali keangkuhannya. Ia menyesali ketidakmampuannya untuk jujur pada diri sendiri sejak dulu. Selama ini, ia menyembunyikan rasa sukanya pada perhatian Aidi di balik topeng "wanita bersuami yang terhormat". Ia menikmati rasa dikejar, merasa berharga karena selalu diinginkan, tanpa pernah peduli pada perasaan pria yang mengejarnya.
Kini, semuanya sudah terlambat. Jarak satu desa yang dulu terasa begitu dekat, kini menjelma menjadi jurang pemisah yang tak mungkin lagi diseberangi. Aidi telah pergi, membawa seluruh perhatian dan kehangatan yang dulu disia-siakannya, menyisakan Aini yang harus hidup dalam kepura-puraan bersama rasa benci yang berubah menjadi rindu yang tak berujung.
****
Waktu berlalu di Nagari Sukamaju, secepat jaringan internet serat optik yang kini tertanam di setiap rumah. Festival kuliner telah usai beberapa minggu lalu, meninggalkan sisa-sisa kenangan yang bagi sebagian orang adalah kegembiraan, namun bagi Aini adalah titik balik hidupnya.
Sore itu, langit nagari berwarna jingga keemasan. Aini duduk di teras rumahnya, menggenggam Secangkir teh hangat yang mulai mendingin. Dari kejauhan, terdengar suara tawa anak-anak yang riuh. Itu suara anak-anak Aidi. Mereka sedang membantu ayah mereka dan Ratna mengangkut beberapa kotak barang ke dalam mobil. Desas-desus di grup WhatsApp warga desa sudah menyebar: Aidi dan Ratna akan segera meresmikan hubungan mereka bulan depan.
Aini menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ada rasa sesak yang sempat singgah di dadanya, namun kali ini tidak lagi membakar seperti dulu. Rasa panas itu telah meredup, berganti menjadi sebuah kebas yang dingin.
Ia menatap cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. Kemarin malam, Heru menelepon. Suaminya itu bercerita dengan antusias tentang bonus proyek yang besar dan rencananya untuk membelikan Aini mobil listrik baru sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka. Heru adalah suami yang baik, bertanggung jawab, dan menyediakan segala kemewahan materi. Namun, Aini sadar, kemewahan itu tidak bisa mengisi ruang kosong yang telanjur menganga di hatinya.
Ruang kosong itu dulunya diisi oleh hal-hal sederhana yang gratis: sapaan jenaka di pagi hari, tatapan mata yang memuja, dan perhatian-perhatian kecil dari seorang pria bernama Aidi. Sesuatu yang dulu ia anggap sebagai sampah dan gangguan, kini ia sadari sebagai kemewahan rasa yang tidak bisa dibeli dengan uang suaminya.
Aini melihat Aidi berjalan melewati pagar rumahnya untuk mengambil sisa barang di mobil. Langkah kaki pria itu tegap, wajahnya tampak jauh lebih bahagia dan tenang dibandingkan beberapa tahun lalu saat masih mengejar-ngejar Aini. Saat mata mereka tidak sengaja beradu, Aidi menganggukkan kepala sedikit, memberikan senyum sopan seorang tetangga, lalu kembali mengalihkan pandangannya.
Tidak ada lagi kata-kata sindiran dari Aini. Tidak ada lagi kepura-puraan.
Aini membalas anggukan itu dengan senyum tipis yang tulus, sebuah senyuman yang baru pertama kali ia berikan kepada Aidi sepanjang belasan tahun mereka bertetangga. Sayangnya, senyuman itu datang terlambat. Senyuman itu bukan lagi sebuah lampu hijau untuk memulai, melainkan sebuah bendera putih tanda penyerahan diri.
Aini akhirnya menerima nasibnya. Ia menerima bahwa egonya yang setinggi langit telah menghancurkan kesempatan untuk dihargai sedalam itu oleh seseorang. Ia menerima bahwa perasaannya yang terlambat tumbuh ini harus mati sebelum sempat mekar.
Ia akan tetap menjadi istri Heru yang terhormat di mata warga desa modern ini. Ia akan tetap menjalani hidup yang serba berkecukupan. Namun, di dalam sudut hatinya yang paling sunyi, Aini tahu ia harus mengubur sebuah rahasia rapat-rapat: bahwa di desa yang serba canggih dan terang benderang ini, hatinya akan selalu merindukan kegaduhan yang pernah dibawa oleh pria yang kini telah melupakannya.
Aini berdiri, membawa cangkirnya masuk, dan menutup pintu rumahnya rapat-rapat. Merelakan apa yang memang bukan miliknya, dan membiarkan rindu itu menetap di sana sebagai penyesalan abadi yang tak seberapa. ***
