Pernahkah Anda memperhatikan situasi di dalam kelas? Ketika seorang siswa sering meminta izin keluar, alasan yang paling sering diucapkan adalah buang air kecil atau buang air besar. Padahal, bisa jadi alasan sebenarnya adalah karena ingin buang angin atau kentut. Alasan ini jarang diungkapkan secara jujur karena dianggap kurang pantas dan memalukan bagi sebagian besar orang.
Ilustrasi gambar (MOde Ai/ Cerana Kata)
Di sisi lain, masalah buang angin juga sering menjadi tantangan dalam beribadah. Menahan atau tidak sengaja buang angin setelah berwuduk tentu membatalkan kesucian Anda. Begitu pula jika angin keluar saat sedang rukuk atau sujud, yang mengharuskan Anda membatalkan shalat demi mengulang wuduk kembali.
Sebenarnya, keluar gas dari tubuh merupakan proses biologis yang normal, sehat, dan alamiah. Menurut medis, rata-rata manusia mengeluarkan gas sebanyak 10 hingga 20 kali dalam sehari. Namun, jika frekuensinya menjadi sangat berlebihan dan terus-menerus, hal itu bisa menjadi sinyal adanya gangguan pada sistem pencernaan Anda.
Gas berlebih di dalam saluran pencernaan inilah yang memicu terjadinya perut kembung, sering bersendawa, hingga frekuensi buang angin yang meningkat. Berikut adalah beberapa faktor utama yang menyebabkannya:
1. Menelan Udara (Aerofagia)
Saat makan, minum, atau berbicara, kita tanpa sadar menelan udara yang mengandung oksigen dan nitrogen. Gas dari luar ini kemudian masuk ke sistem pencernaan dan bercampur dengan gas hasil proses pencernaan internal, seperti hidrogen, metana, dan karbon dioksida. Penumpukan campuran gas ini akhirnya membuat perut terasa kembung dan penuh.
2. Konsumsi Makanan dan Minuman Tertentu
Jenis asupan harian sangat memengaruhi produksi gas di lambung. Makanan yang tinggi karbohidrat kompleks atau serat tertentu cenderung menghasilkan lebih banyak gas saat dicerna. Beberapa contohnya meliputi:
- Umbi-umbian (seperti singkong dan ubi)
- Kacang-kacangan
- Sayuran tertentu (seperti kol dan brokoli)
- Minuman berkarbonasi atau bersoda
3. Aktivitas Bakteri Usus yang Berlebih
Lambung dan usus kita dihuni oleh bakteri pengurai. Tidak semua makanan dapat diserap dengan cepat atau dicerna secara sempurna oleh organ pencernaan. Sisa makanan yang lambat dicerna ini akan difermentasi oleh bakteri di dalam usus besar, yang menghasilkan produk sampingan berupa gas berlebih.
Langkah Praktis Mengatasi Sering Buang Angin
Jika Anda merasa frekuensi buang angin sudah mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, Anda dapat menerapkan beberapa langkah pencegahan berikut:
- Kurangi konsumsi makanan pemicu gas dan batasi minuman bersoda.
- Batasi makanan yang sulit dicerna oleh usus, salah satunya adalah singkong.
- Ubah porsi makan menjadi lebih kecil tetapi lebih sering (misalnya dari 3 kali porsi besar menjadi 4-5 kali porsi kecil) untuk meringankan kerja lambung.
- Makan dan minum secara perlahan serta hindari mengunyah terlalu cepat agar udara yang tertelan bisa diminimalkan.
- Hindari kebiasaan pemicu aerofagia, seperti merokok, sering mengunyah permen karet, atau mengemut benda.
- Kurangi begadang dan duduk terlalu lama karena kurang bergerak dapat membuat pergerakan usus menjadi pasif dan memicu penumpukan gas.
- Lakukan olahraga secara rutin atau perbanyak aktivitas fisik ringan demi melancarkan sistem pencernaan tubuh.
Melalui pemahaman atas penyebab di atas, Anda kini dapat mengatur pola hidup yang lebih sehat agar terhindar dari rasa tidak nyaman akibat perut kembung dan buang angin yang berlebihan. ***
