Lonceng pergantian jam di SMA Negeri Tigo Jangko baru saja berbunyi. Di bawah rindangnya pohon mahoni dekat gerbang sekolah, Amran dan Arnis berdiri dalam diam. Seragam putih-abu-abu mereka tampak kontras dengan gurat kesedihan di wajah masing-masing.
Ilustrasi gambar (Mode Ai/ Cerana Kata)
"Ayahku tetap tidak mau mendengar, Amran," bisik Arnis dengan mata berkaca-kaca. "Beliau bilang, sampai kapan pun kita tidak boleh bersama."
Amran mengepalkan tangan, menahan sesak di dada. Perseteruan klasik antar-keluarga menjadi tembok raksasa bagi cinta mereka. Sudah bertahun-tahun orang tua Amran dan Arnis bermusuhan hebat hanya karena sengketa batas tanah pertanian di pinggir nagari. Setiap kali kedua keluarga bertemu di balai adat atau di jalan, makian dan tatapan sinis selalu bertukar. Sial bagi mereka, cinta justru tumbuh di hati anak-anak mereka.
Tekanan dari rumah semakin hari semakin tak tertahankan. Orang tua mereka menuntut agar keduanya memutuskan hubungan. Puncaknya, di pertengahan kelas dua belas, saat ujian kelulusan sudah di depan mata, Arnis dikurung di rumah dan diancam akan dinikahkan dengan orang lain.
Malam itu, di bawah kegelapan malam Tigo Jangko, Amran nekat menjemput Arnis melalui jendela kamar. Dengan modal seadanya dan baju di dalam tas ransel, mereka mengambil keputusan nekat. Mereka memilih pergi, meninggalkan bangku SMA yang tinggal sedikit lagi selesai, demi mempertahankan rasa. Mereka kawin lari menuju pelukan kota yang asing dan bising.
Di kota, kehidupan berjalan sangat keras. Tanpa ijazah SMA, Amran hanya bisa bekerja sebagai kuli panggul dan buruh serabutan, sementara Arnis membantu keuangan dengan menjadi buruh cuci. Mereka tinggal di sebuah kontrakan sempit berdinding tripleks. Namun, di tengah impitan ekonomi, cinta mereka justru semakin kuat.
Setahun berlalu, kebahagiaan mereka lengkap dengan lahirnya seorang bayi laki-laki yang sehat. Kehadiran sang buah hati mengubah sudut pandang mereka tentang keluarga. Ada rasa rindu yang membuncah pada kampung halaman, sekaligus keinginan agar anak mereka mengenal kakek dan neneknya.
Dengan keberanian yang tersisa, Amran dan Arnis memutuskan pulang ke Nagari Tigo Jangko, menggendong bayi mereka yang baru berusia beberapa bulan.
Kepulangan Amran dan Arnis ke Nagari Tigo Jangko tidak langsung berjalan mulus. Langkah kaki mereka di tanah kampung halaman disambut oleh bisik-bisik tetangga yang menusuk telinga.
Baru saja turun dari bus, Amran dan Arnis yang menggendong bayinya langsung dihadang oleh Mak Unang, mamak (paman) dari keluarga Arnis, bersama beberapa pemuda kampung di dekat pasar.
"Berani sekali kalian menginjakkan kaki di sini setelah mempermalukan kaum!" bentak Mak Unang, wajahnya merah padam. "Kalian pikir dengan membawa anak, dosa kawin lari dan putus sekolah ini bisa hilang begitu saja? Tanah Tigo Jangko ini tidak menerima pelarian!"
Amran langsung pasang badan, menyembunyikan Arnis dan bayinya di balik punggungnya. "Kami pulang bukan untuk menantang, Mak. Kami pulang untuk bersujud minta maaf. Tolong izinkan kami bertemu orang tua kami."
Suasana sempat menegang ketika beberapa pemuda mulai memprovokasi Amran. Beruntung, Wali Nagari yang sedang lewat segera melerai dan menggiring mereka semua ke rumah gadang keluarga Arnis untuk menyelesaikan masalah secara adat, sekaligus mempertemukan kedua belah pihak orang tua yang sudah tersulut emosi.
Di dalam rumah gadang, suasana mencekam. Ayah Amran (Pak Rusli) dan Ayah Arnis (Pak Sutan) duduk berhadapan dengan tatapan sekeras batu. Batas tanah pertanian yang dahulu mereka perebutkan seolah kembali menjadi jurang pemisah di antara mereka.
"Kau bawa anakmu pergi, Rusli! Dia sudah merusak masa depan anak gadisku!" seru Pak Sutan, suaranya bergetar menahan amarah.
"Anakku juga menderita di kota karena keras kepalamu, Sutan!" balas Pak Rusli tak kalah sengit.
Di tengah ketegangan itu, Arnis tiba-tiba maju dan bersujud di lantai kayu, tepat di tengah-tengah kedua orang tua itu. Bayinya yang terbangun mulai menangis kencang. Amran ikut bersujud di samping istrinya.
"Ayah... Amran... mohon ampun," isak Arnis, air matanya membasahi lantai. "Jangan salahkan Amran. Ini keputusan kami. Kami sudah menderita di kota, tapi kami bertahan demi anak ini. Tolong... lihat cucu Ayah. Dia tidak punya dosa apa pun atas tanah yang Ayah perebutkan!"
Amran mendongak, matanya berkaca-kaca menatap ayahnya sendiri, lalu beralih ke mertuanya. "Pak Sutan, Ayah... tanah di pinggir nagari itu tidak akan dibawa mati. Tapi kami, anak-anakmu, hampir mati kelaparan di kota karena ego ini. Apakah tanah beberapa meter lebih berharga daripada darah daging sendiri? Pengorbanan kami putus sekolah belum cukupkah untuk menyadarkan kita semua?"
Tangisan bayi mungil itu semakin memecah keheningan rumah gadang. Ibu Arnis yang sejak tadi menahan tangis, tidak tahan lagi. Beliau maju dan langsung merebut sang bayi dari gendongan Arnis, memeluknya erat.
"Sutan... sudahlah," ucap Ibu Arnis sambil terisak. "Lihat anak kita. Dia kurus, tangan Amran kasar karena jadi kuli. Mau sampai kapan kita pelihara dendam ini? Aku tidak mau kehilangan anakku lagi hanya karena tanah!"
Pak Sutan menatap tangan Amran yang kapalan, lalu melihat cucunya yang sedang didekap istrinya. Perlahan, gumpalan amarah di dadanya runtuh. Beliau menghela napas panjang dan bahunya merosot, kehilangan semua energi untuk marah.
Pak Sutan memandang Pak Rusli. "Rusli... tanah itu, ambil sajalah pembatasnya. Tarik sesukamu. Aku menyerah. Aku hanya ingin anak cucuku pulang."
Pak Rusli terpaku. Air mata pria tua itu akhirnya luruh juga. Beliau bangkit, mendekati Pak Sutan, lalu memegang pundak musuh lamanya itu. "Tidak, Sutan. Kita bagi dua rata saja. Maafkan aku yang selama ini picik. Mari kita urus anak-anak kita yang telanjur menderita ini."
Kedua lelaki tua itu akhirnya berpelukan untuk pertama kalinya setelah belasan tahun bermusuhan, diiringi tangis haru seluruh keluarga di dalam rumah gadang. ***
.png)