Suasana kantin SMP Bunga Lily siang itu sangat bising. Rizal menatap mangkuk baksonya yang mulai mendingin, lalu beralih menatap Maya yang duduk di hadapannya. Maya sedang asyik mencoret-coret buku sketsa dengan pensil 2B.
Gambar ilustrasi (Mode Ai/ Cerana Kata)
"May, serius amat. Bakso lu keburu lembek tuh," kata Rizal membuka obrolan.
Maya mendongak, menyisipkan anak rambut ke belakang telinga. "Bentar, Zal. Tanggung banget. Ini konsep Mading buat kelulusan kita nanti. Gua pengen angkatan kita punya kenangan yang epik."
Rizal tersenyum, melihat binar mata Maya yang penuh semangat. "Gua selalu kagum sama lu. Tiap ngomongin seni atau Mading, mata lu langsung nyala. Itu yang namanya gairah, ya?"
"Bisa dibilang begitu," Maya terkekeh, menutup buku sketsanya. "Kalau lu sendiri gimana? Katanya mau fokus masuk SMK jurusan Teknik Mesin? Masih sering ngoprek motor di bengkel om lu?"
"Masih dong! Kemarin gua berhasil benerin karburator motor tua yang mogok seminggu. Pas mesinnya nyala lagi... rasanya puas banget, May. Gua ngerasa hidup di sana."
"Nah, itu juga gairah namanya, Rizal!" Maya menepuk meja pelan, matanya berbinar senang. "Kita berdua sama. Punya hal yang bikin kita rela ngabisin waktu berjam-jam tanpa bosan."
Bel berbunyi nyaring, memutus obrolan mereka. Keduanya bergegas kembali ke kelas sembilan mereka untuk jam pelajaran terakhir.
Di dalam kelas, suasana sedikit lebih tenang karena guru belum masuk. Rizal dan Maya duduk bersebelahan di baris tengah. Rizal mengeluarkan sebuah miniatur mesin kecil dari kotak pensilnya yang dibuat dari barang bekas.
"May, liat deh," bisik Rizal sambil menggeser miniatur itu ke meja Maya. "Gua bikin ini semalem. Roda giginya bisa muter kalau engkolnya ditarik."
Maya menerima benda itu dengan mata berbinar-binar. "Wah! Ini keren banget, Zal! Detailnya dapet banget. Eh, gimana kalau ini kita jadiin pajangan utama di stan Mading kelulusan nanti? Lu yang bikin mekaniknya, gua yang hias latarnya pakai tema steampunk!"
Rizal tertegun, lalu senyumnya merekah lebar. "Serius, May? Ide lu jenius banget! Kolaborasi antara mesin gua dan seni lu."
"Deal ya?" Maya mengacungkan kelingkingnya.
"Deal!" Rizal menyambut kelingking Maya dengan mantap.
Tepat setelah kesepakatan kecil itu, pengumuman hasil seleksi awal minat bakat siswa kelas sembilan menggema dari peleras suara sekolah. Nama Rizal dan Maya disebut sebagai perwakilan sekolah yang lolos praseleksi beasiswa prestasi di SMK impian mereka masing-masing, Rizal di bidang teknik otomotif dan Maya di bidang desain komunikasi visual.
Maya spontan menggenggam tangan Rizal di bawah meja. "Rizal! Kita lolos tahap pertama!"
Rizal membalas genggaman tangan Maya dengan erat, merasakan kehangatan yang menyalurkan semangat baru. "Kita pasti bisa, May. Gairah kita gak bakal sia-sia."
Mereka saling tatap dan tersenyum lebar. Langkah awal menuju masa depan yang mereka impikan kini terbuka lebar bersama-sama.
*****
Seminggu sebelum hari kelulusan, proyek mading kolaborasi mereka justru menemui jalan buntu. Suasana di kelas sembilan sore itu terasa tegang saat semua siswa sudah pulang, menyisakan Rizal dan Maya di sudut ruangan.
"Zal, ini gak pas ukurannya!" seru Maya frustrasi, menunjuk dekorasi kota kuno steampunk miliknya yang robek karena tertekan roda gigi besi buatan Rizal. "Gua udah bilang, kardusnya gak bakal kuat nahan mesin lu yang kegedean itu!"
Rizal mengacak rambutnya, ikut stres. "Ya tapi kalau roda giginya diperkecil, engkolnya gak bakal bisa muter, May! Lu juga kenapa bikin latar belakangnya pakai kardus tipis? Harusnya pakai tripleks!"
"Lu gak bilang dari awal!" Maya melipat tangannya, matanya berkaca-kaca menahan kesal. "Gua udah begadang bikin ini, Zal. Kalau mau dirombak lagi, waktunya gak bakal sempat."
"Ya udah, kalau emang susah, mending gak usah pakai mekanik sekalian. Biar mading lu jadi pajangan gambar biasa aja," kata Rizal ketus, terbawa emosi.
Maya tertegun. "Oh, jadi lu meremehkan seni gua? Ya udah, terserah!" Maya langsung menyambar tasnya dan berjalan keluar kelas, meninggalkan Rizal yang terpaku sendirian menyesali ucapannya.
Keesokan harinya di kantin, suasana di antara mereka sangat canggung. Rizal melihat Maya duduk menyendiri di pojok tanpa buku sketsanya. Rizal menarik napas dalam-dalam, membawa semangkuk bakso dan segelas es teh, lalu memberanikan diri duduk di depan Maya.
"May," panggil Rizal pelan.
Maya hanya diam, menatap meja.
"Gua minta maaf," ucap Rizal tulus. "Gua kemarin egois dan malah ngomong ketus. Padahal gua tahu lu udah kerja keras banget buat mading ini. Jangan diganti jadi gambar biasa ya? Seni lu terlalu bagus buat dikorbanin."
Maya mendongak, melihat kesungguhan di mata Rizal. Kekesalannya perlahan mencair. "Gua juga minta maaf, Zal. Gua terlalu sensitif kemarin karena panik. Terus... gimana nasib roda gigi lu?"
Rizal tersenyum tipis, mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. "Semalem gua gak bisa tidur. Gua ngakalin mesinnya pakai bahan plastik mika bekas yang lebih ringan, dan gua kecilin skalanya. Ini pasti aman buat dekorasi kardus lu."
Mata Maya langsung berbinar lagi. "Serius? Sini gua liat!"
Hari kelulusan pun tiba. Stan mading kelas sembilan mereka menjadi pusat perhatian seluruh sekolah. Di tengah mading, sebuah miniatur kota steampunk yang indah berdiri megah. Saat para guru dan orang tua memutar engkol kecil di sampingnya, roda-roda gigi plastik buatan Rizal berputar mulus, menggerakkan sayap-sayap burung mekanis di atas latar kota estetik buatan Maya. Semua orang bertepuk tangan kagum.
Di sudut aula, Rizal dan Maya berdiri berdampingan menikmati hasil kerja keras mereka.
"Liat tuh, May. Semua orang suka," bisik Rizal bangga.
"Kita berhasil, Zal. Kolaborasi gairah teknik dan seni," balas Maya sambil tersenyum manis.
Di tangan mereka, surat kelulusan dan undangan pendaftaran ulang untuk SMK impian masing-masing sudah tergenggam erat. Konflik kemarin justru membuat mereka sadar bahwa gairah yang besar harus berjalan beriringan dengan komunikasi yang baik. Langkah mereka menuju masa depan kini terasa jauh lebih siap dan bahagia. ***
