Aku sadar diri. Menjangkaumu adalah kemustahilan, apalagi sekadar untuk menyentuh jemarimu. Jika ada satu-satunya hal yang diizinkan untuk kulakukan, itu adalah memandangmu. Hanya dari jauh, dan tidak boleh berlama-lama. Namun, bagiku itu sudah lebih dari cukup. Menyaksikanmu dari kejauhan sudah mampu menerbitkan bahagia di hatiku.
Ilustrasi gambar (Mode Ai)
Langkahku mendadak kaku saat bayangmu muncul di ujung lorong kantor yang sepi ini. Kita berjalan berlawanan arah, saling mendekat dalam sunyi yang mendebarkan. Hanya ada bunyi ketukan sepatu kita yang saling bersahutan. Saat jarak kita mengikis tersisa dua langkah, netra kita bertemu.
Aku melempar senyum formal yang biasa kita tunjukkan di depan rekan kerja yang lain. Namun di dalam dada, hatiku menjeritkan dialog batin yang tak terdengar: “Tuhan, dia dekat sekali. Jantungku masih berdegup sekencang dulu. Bolehkah aku egois untuk menghentikan waktu beberapa detik saja agar bisa menatap matanya lebih lama?”
Kamu membalas senyumku, sebuah anggukan sopan yang sarat akan pengertian, seolah batinmu menyahut: “Aku tahu perasaanmu, terima kasih karena selalu menjaga batasan ini.” Kita lalu saling melewati. Aroma parfummu yang familier tertinggal sekejap, menemani punggungmu yang kian menjauh.
Momen singkat itu seketika melempar ingatanku pada masa lalu. Dulu, aku pernah memelihara sebuah harapan. Aku berharap engkau bersedia menyisakan sedikit saja ruang di hatimu untukku. Kala itu, dengan penuh keyakinan aku berjanji bahwa kehadiranku tidak akan pernah mengusik kebahagiaanmu bersamanya. Sama sekali tidak. Aku hanya ingin melihatmu selalu bahagia, karena dengan begitu, aku pun ikut bahagia.
Ah, betapa konyolnya untaian kata yang kuucapkan saat itu. Niat jujur yang kusampaikan ternyata justru membuatmu didera rasa takut dan bersalah. Awalnya, aku mengira pengakuan bodoh itu akan membuatmu membenciku atau memaksamu melangkah menjauh. Namun, dugaanku keliru. Sikapmu tetap tenang dan biasa saja, persis seperti profesionalisme yang kamu tunjukkan di lorong kantor tadi. Kedewasaanmu membuat rahasia ini tersimpan rapi tanpa memicu curiga dari orang-orang di sekitar kita.
Tapi, itu cerita belasan tahun yang lalu. Waktu telah menempa dan mendewasakan kita.
Hari ini, setelah langkah kita kembali menjauh dan dipisahkan oleh sekat-sekat kubikal kerja, aku tidak akan lagi membuatmu merasa takut atau bersalah. Kita berdua akhirnya benar-benar memahami makna dari untaian kalimat klise: bahwa cinta tidak selamanya harus memiliki.
Cinta yang dipendam rapat di dalam dada terbukti tidak akan pernah mengusik siapapun. Ia justru menjelma menjadi alasan bagi pemiliknya untuk tersenyum sendiri saat mengingatnya, sama seperti senyum tipis yang kini terukir di bibirku saat kembali ke meja kerjaku. Bagiku, energi dari cinta yang terpendam ini telah menjadi bahan bakar yang membuatku selalu bersemangat dalam menjalani riuhnya kehidupan.
Biarlah rasa ini tetap bersemayam di lubuk hati yang paling dalam. Terkubur dengan indah dan abadi, bahkan mungkin hingga napas terakhirku nanti. ***
