Bagi Pak Suhardi, tidak ada tempat makan siang yang lebih sempurna di kota ini selain Rumah Makan Mak Mai. Rumah makan legendaris ini sudah berdiri puluhan tahun, yang kini dibuat mengikuti kemajuan era moderen nampak kokoh, serta aroma rendang dan gulai tunjang yang selalu berhasil membangkitkan selera. Di tengah hiruk-pikuk pelanggannya yang selalu ramai, Pak Suhardi adalah salah satu wajah lama yang selalu mendapat tempat istimewa.
Ilustrasi gambar (Mode Ai)
Pelayanan di RM Mak Mai memang tidak pernah mengecewakan. Semua karyawannya cekatan dan ramah. Namun, beberapa bulan terakhir, ada satu sosok yang membuat Pak Suhardi makin betah menghabiskan waktu makan siang dan malamnya di sana. Namanya Murni!
Murni adalah definisi dari keindahan yang bersahaja. Kulitnya putih bersih, kontras dengan celemek merah marun yang selalu ia kenakan saat bekerja. Tutur katanya sangat lembut, sebuah ketenangan di tengah bisingnya dentang piring dan sendok. Setiap kali melayani Pak Suhardi, Murni selalu melempar senyum yang khas. Bibirnya merah alami, tampak segar seolah selalu dilapisi lipglow, membuat siapa saja yang melihatnya merasa sejuk. Namun, daya tarik utamanya berada tepat di bawah bibir bawahnya, sebuah tahi lalat kecil yang menempel manis, yang ikut bergerak setiap kali ia berbicara atau tersenyum.
"Silakan, Pak Suhardi. Gulai tunjang dan sambal ijo kesukaan Bapak, nasinya setengah saja, kan?" ucap Murni suatu siang, meletakkan piring-piring kecil dengan gerakan yang sangat anggun.
Pak Suhardi tersenyum lebar, merasa tersanjung karena detail kecil seleranya selalu diingat. "Terima kasih, Murni. Kamu selalu tahu apa yang saya mau."
Meskipun memiliki paras yang memikat, Murni tidak pernah terlihat berlebihan. Ia memancarkan kesederhanaan yang tulus. Dandanannya minimalis, rambutnya hanya diikat rapi ke belakang, dan perhiasannya hanyalah sebuah jam tangan karet murah yang sudah agak pudar warnanya. Dari caranya bekerja yang giat dan sopan, Pak Suhardi tahu Murni datang dari keluarga biasa yang jujur. Kesederhanaan itulah yang justru membuat Murni bersinar di antara kepulan asap masakan RM Mak Mai, menjadi alasan mengapa Pak Suhardi selalu menantikan jam makan siang setiap harinya.
*****
Suasana siang itu di Rumah Makan Mak Mai begitu pekak. Desis minyak panas dari wajan besar di dapur berpadu dengan aroma pekat kaldu gulai yang menguar hingga ke langit-langit kayu yang menghitam oleh jelaga. Kipas angin tua di sudut ruangan berputar malas, mencoba mengusir uap gerah dari deretan piring hidangan yang disusun bertingkat di etalase kaca depan. Di tengah keriuhan itu, Pak Suhardi duduk di meja pojok favoritnya, menikmati sepiring nasi hangat yang berguyur kuah kental kemerahan.
Kedekatan Pak Suhardi dan Murni kini telah bergeser ke luar dinding tembok RM Mak Mai. Pertemuan tidak sengaja di lorong pasar Balai Jumat sebulan lalu menjadi jembatan. Sejak sore itu, Pak Suhardi sering sengaja menunggu jam pulang kerja Murni untuk sekadar berjalan bersama menuju pasar malam, atau menikmati segelas teh talua di kedai pinggir jalan. Di luar jam kerja, Murni tetaplah sosok yang sederhana, namun tutur katanya terasa lebih lepas. Senyum dengan tahi lalat manis di bawah bibirnya yang kemerahan itu kini lebih sering terkembang khusus untuk Pak Suhardi.
Namun, sebuah rahasia besar akhirnya terkuak pada suatu sore yang mendung. Saat mereka sedang berteduh di teras toko yang tutup, seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun berlari menembus rintik hujan dan langsung memeluk kaki Murni.
"Ibu! Lapar," cicit anak itu dengan baju yang sedikit basah. Seorang wanita tua, yang ternyata ibunya Murni, menyusul dari belakang dengan napas terengah-engah.
Murni seketika membeku. Wajahnya yang putih mendadak pias saat menatap Pak Suhardi. Dengan suara bergetar, ia akhirnya jujur bahwa ia adalah seorang janda beranak satu. Pernikahan mudanya kandas dua tahun lalu karena sang suami pergi tanpa kabar, meninggalkan ia dan putranya yang masih balita. Selama ini, Murni memilih menutup rapat statusnya di tempat kerja demi menghindari gunjingan dan tatapan miring dari para pelanggan pria yang kerap menggoda keindahan parasnya.
Pak Suhardi tertegun melihat pemandangan di depannya. Ada keheningan panjang yang sempat membuat mata Murni berkaca-kaca karena takut akan dihakimi. Namun, alih-alih menjauh, Pak Suhardi justru berlutut menyamakan tingginya dengan anak kecil itu, lalu merogoh kantongnya untuk mengeluarkan sebungkus roti. Kesederhanaan dan perjuangan hidup Murni yang selama ini ia kagumi kini justru terasa semakin nyata dan bermakna di mata Pak Suhardi.
*****
Kabar tentang status Murni sebagai janda beranak satu akhirnya bocor dan menyebar cepat di antara kepulan asap dapur RM Mak Mai. Desas-desus itu sampai ke telinga Mak Mai, sang pemilik rumah makan yang terkenal tegas. Suatu sore, setelah jam makan siang yang riuh mereda, Mak Mai memanggil Murni ke meja kasir yang terbuat dari kayu jati.
"Murni, benarkah yang dikatakan orang-orang? Kamu janda?" tanya Mak Mai dengan mata menyipit di balik kacamata bacanya.
Murni hanya bisa menunduk dalam-dalam, meremas ujung celemek merah marunnya dengan gugup. Namun, dugaan Murni keliru. Mak Mai yang biasanya berwajah kaku itu justru menghela napas panjang dan menepuk bahu Murni.
"Kenapa harus disembunyikan? Menjadi janda yang bekerja halal untuk menghidupi anak itu bukan aib. Di rumah makan ini, yang dinilai adalah kerja kerasmu, bukan statusmu," ucap Mak Mai tegas, sekaligus membungkam bisik-bisik sinis dari beberapa karyawan lain di dapur. Sejak hari itu, Mak Mai bahkan sering membungkuskan sisa lauk yang bersih untuk dibawa Murni pulang untuk anaknya.
Mengetahui beban hidup Murni yang berat, Pak Suhardi tidak tinggal diam. Ia mulai melangkah lebih jauh untuk membantu perekonomian wanita itu. Tidak ingin menyinggung harga diri Murni, Pak Suhardi melakukannya dengan cara yang halus. Ia mendaftarkan anak Murni ke sebuah PAUD yang bagus dan membayar seluruh biaya pendidikannya di muka. Selain itu, Pak Suhardi yang memiliki jaringan luas diam-diam mencarikan pesanan jahitan rumahan untuk ibu Murni, sehingga sang ibu bisa mendapat penghasilan tambahan tanpa harus meninggalkan cucunya di rumah.
Bantuan yang tulus dan perlindungan yang diberikan Pak Suhardi perlahan mengubah riak hubungan mereka menjadi romansa yang serius. Pertemuan mereka tidak lagi sekadar melepas penat di lorong pasar atau kedai teh talua. Pak Suhardi kini sudah berani datang bertamu ke rumah kontrakan sederhana Murni pada hari libur, membawa mainan untuk sang anak yang kini memanggilnya dengan sebutan "Om Suhardi".
Suatu malam, di bawah temaram lampu teras rumah Murni, Pak Suhardi menatap lekat wanita di hadapannya. Tahi lalat di bawah bibir Murni tampak manis bergerak saat ia tersenyum malu-malu menerima sebuah kotak beludru merah kecil yang disodorkan Pak Suhardi. Hubungan yang bermula dari meja pojok sebuah rumah makan legendaris itu kini bersiap menuju babak baru yang penuh komitmen.
****
Kehadiran Pak Suhardi sebagai sosok ayah baru bagi Doni, anak laki-laki Murni yang berusia empat tahun, tidak terjadi dalam semalam. Pada awalnya, Doni adalah anak yang pemalu dan sering bersembunyi di balik kaki ibunya setiap kali Pak Suhardi datang berkunjung ke rumah kontrakan mereka. Namun, kesabaran Pak Suhardi perlahan runtuh pertahanan bocah kecil itu.
Pak Suhardi tidak pernah memaksakan diri untuk langsung dipanggil "Ayah". Ia memilih menjadi teman bermain yang tulus. Setiap akhir pekan, Pak Suhardi selalu meluangkan waktu untuk mengajak Doni bermain layang-layang di lapangan dekat rumah atau sekadar duduk bersama di lantai semen yang dingin untuk menyusun balok-balok mainan kayu yang dibelinya. Ketika Doni mulai masuk ke sekolah PAUD yang dibiayai oleh Pak Suhardi, pria itu pulalah yang kerap meluangkan waktu di pagi hari untuk mengantarnya dengan sepeda motor, memastikan helm kecil Doni terpasang dengan aman.
Momen kedekatan mereka mencapai puncaknya pada suatu sore pasca-hujan. Doni yang sedang asyik bermain genangan air di halaman rumah tiba-tiba terpeleset dan lututnya terluka. Tangisnya langsung pecah. Mendengar teriakan itu, Pak Suhardi yang sedang mengobrol dengan Murni di teras langsung berlari tanpa memedulikan sandal jepitnya yang lepas. Dengan cekatan, ia menggendong Doni, mendudukkannya di pangkuan, lalu dengan lembut meniup luka di lutut bocah itu sambil mengoleskan obat merah.
"Anak pintar jangan menangis, ya. Ada Om Suhardi di sini," bisik Pak Suhardi menenangkan.
Doni yang masih sesenggukan menatap wajah Pak Suhardi dengan mata bulatnya yang basah. Rasa aman yang mengalir dari pelukan hangat pria itu seolah menggantikan sosok ayah yang selama ini kosong dalam hidupnya. Sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan yang mungil, Doni tiba-tiba memeluk leher Pak Suhardi dengan erat.
"Terima kasih... Papa Suhardi," cicit Doni pelan, sebuah panggilan baru yang spontan namun tulus keluar dari mulutnya.
Murni yang berdiri di ambang pintu menyaksikan momen itu tak kuasa menahan air mata harunya. Bibirnya yang kemerahan bergetar menahan tangis bahagia, dan tahi lalat manis di bawah bibirnya seolah ikut bersaksi atas lahirnya sebuah keluarga baru yang utuh dan penuh kasih sayang.
*****
Lima tahun telah berlalu sejak sore emosional di teras rumah kontrakan itu. Suasana di Rumah Makan Mak Mai masih tetap sama, pekat dengan kepulan asap gulai yang gurih, deru kipas angin tua yang setia berputar, dan riuh rendah suara sendok yang beradu dengan piring. Namun, siang itu, ada pemandangan yang berbeda di meja pojok favorit Pak Suhardi.
Pak Suhardi kini duduk dengan rambut yang mulai dihiasi sedikit uban, namun gurat wajahnya memancarkan kebahagiaan yang penuh. Di sampingnya, Doni tidak lagi menjadi bocah balita yang pemalu. Ia telah tumbuh menjadi anak laki-laki berusia sembilan tahun yang tampan dan gagah, mengenakan seragam merah-putih sekolah dasar. Doni sedang asyik melahap rendang daging dengan tangan telanjang, sesekali tertawa mendengar cerita lucu dari sang ayah.
"Doni, makannya pelan-pelan. Lihat itu, pipimu sampai kena kuah gulai," sebuah suara lembut yang sangat familier menginterupsi.
Murni datang mendekat dari arah kasir, membawa sepasang gelas berisi es teh manis hangat. Ia tidak lagi mengenakan celemek merah marun sebagai karyawan. Kini, sebuah bros perak cantik menyemat jilbabnya yang rapi. Sejak Makk Mai memutuskan untuk pensiun dan pulang ke kampung halaman dua tahun lalu, Pak Suhardi mengambil alih kepemilikan rumah makan legendaris ini sebagai hadiah pernikahan untuk istrinya. Murni kini mengelola RM Mak Mai sebagai pemilik baru, namun kesederhanaan dan kelembutan sikapnya kepada para pelanggan tidak pernah berubah.
Murni duduk di kursi kosong di hadapan suami dan anaknya. Kulitnya masih putih bersih, dan bibir merah alaminya menyunggingkan senyum paling bahagia yang pernah ada. Tahi lalat manis di bawah bibir bawahnya ikut bergerak saat ia tertawa kecil melihat Pak Suhardi dengan telaten mengusap noda kuah di pipi Doni menggunakan selembar tisu.
Dari balik etalase kaca RM Mak Mai yang menghadap ke jalanan raya yang sibuk, ketiga manusia itu kini merajut masa depan bersama. Rumah makan yang dulu menjadi tempat awal pertemuan tak sengaja antara seorang pelanggan setia dan seorang karyawati bersahaja, kini resmi menjadi saksi bisu dari akhir sebuah cerita cinta yang utuh, hangat, dan abadi. *** (Selesai)