Di Terminal Dobok Batusangkar, deru mesin bus antarprovinsi bertabrakan dengan riuh klakson angkot merah jurusan Limo Kaum dan Simpang Kiambang. Amri berdiri menyandarkan punggungnya pada tiang beton loket yang mulai kusam. Aroma khas aspal basah bercampur asap knalpot mengepung peron. Matanya lurus menatap gerbang masuk terminal yang menghadap langsung ke arah jalan lintas.
Ilustrasi gambar (Mode Ai)
Ingatannya otomatis berputar pada sore penuh hujan dua tahun lalu, tepat di sudut terminal ini. Saat itu, Aini berdiri kedinginan memeluk tas kuliahnya setelah turun dari angkot, berniat pulang menuju arah pelataran Istano Basa Pagaruyung. Amri yang kebetulan sedang berteduh langsung menyodorkan payung biru miliknya.
"Gak usah gengsi, ambil aja. Daripada kamu masuk angin, nanti gak bisa ikut ujian besok," ujar Amri saat itu dengan cengiran khasnya.
Dari balik payung biru itulah, obrolan mereka mengalir hangat sembari menikmati sore di Batusangkar. Menjadi awal dari kisah cinta manis yang bertahan hingga dua tahun lamanya. Namun, sore ini, Terminal Dobok membawa atmosfer yang sepenuhnya berbeda.
Langkah kaki yang familier membuat Amri menegakkan tubuh. Aini berjalan mendekat, mengenakan kemeja marun kesukaannya. Tidak ada senyum lebar. Tatapannya sendu, seolah berat melintasi deretan bus yang terparkir.
"Lama nunggunya, Am?" tanya Aini pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin bus PO NPM yang baru saja memarkirkan rodanya di jalur keberangkatan.
"Enggak kok, baru satu batang rokok," jawab Amri, mencoba berguyon untuk mencairkan suasana. Dia mematikan puntung rokoknya ke lantai. "Lagian, nunggu kamu dari arah Pasar Serikat pas hari pekan pun aku udah biasa, kan?"
Aini hanya tersenyum tipis. Tidak ada tawa renyah yang biasanya menyusul kalimat godaan Amri. Mereka berjalan beriringan menuju bangku panjang di dekat area tunggu kelas ekonomi. Ada jarak beberapa sentimeter di antara bahu mereka. Terasa canggung. Terasa jauh.
"Tiketnya udah aman?" Amri membuka percakapan lagi, matanya menatap tas ransel besar di punggung Aini yang tampak penuh.
"Udah. Di kantong depan," jawab Aini pendek. Dia duduk, lalu mengembuskan napas berat. "Am... soal pembicaraan kita semalam di telepon..."
"Ni," Amri memotong cepat, lalu ikut duduk di sebelah Aini. Dia menatap lurus ke depan, ke arah bentangan aspal terminal. "Kita udah bahas ini seminggu penuh. Kamu ke Jakarta buat kerja, buat masa depan yang udah diatur keluarga kamu. Aku paham."
Aini menoleh, matanya mulai berkaca-kaca menatap profil samping wajah Amri. "Tapi aku ngerasa egois, Am. Ninggalin kamu di sini dengan hubungan yang abu-abu. LDR itu gak mudah, apalagi kita tahu ujungnya bakal ketahan restu."
Amri berbalik menatap Aini. Dia tersenyum, meski hatinya terasa seperti diremas kuat-kuat. Dia meraih jemari Aini, menggenggamnya hangat untuk terakhir kali.
"Siapa billing abu-abu? Dua tahun ini warnanya jelas banget kok buat aku. Sejelas warna-warni payung di Benteng Van der Capellen pas ada festival," seloroh Amri, membuat air mata Aini justru luruh melewati pipinya. Amri mengusap air mata itu dengan ibu jarinya. "Jangan nangis. Nanti orang-orang terminal ngira aku ngapa-ngapain kamu."
"Kamu tuh ya, masih bisa-bisanya bercanda!" Aini memukul pelan lengan Amri, tawa kecilnya keluar di sela tangis.
"Aku serius, Aini. Terminal Dobok ini saksi kita mulai semuanya dengan baik-baik. Pas hujan, pake payung biru. Masa berakhirnya harus pakai drama nangis bombay?" Amri menarik napas panjang, menatap puncak Gunung Marapi yang terlihat samar di kejauhan, tertutup awan tipis di balik atap seng terminal. "Pergilah. Kejar impianmu di Jakarta sana. Jangan bebanin langkah kamu dengan mikirin aku yang bakal kesepian nongkrong di Batusangkar."
"Kamu beneran gak apa-apa?" tanya Aini, suaranya bergetar.
"Gak apa-apa. Paling nanti malam aku begadang sambil dengerin lagu galau di warung kopi dekat Batu Batikam," ucap Amri, mencoba tertawa kecil meski matanya sendiri mulai terasa panas.
Tiba-tiba, suara nyaring dari pengeras suara terminal menggema memecah momen mereka.
“Panggilan kepada penumpang bus tujuan Jakarta, diharapkan segera naik ke armada karena bus akan segera diberangkatkan...”
Aini berdiri, merapikan letak tasnya. "Bus aku udah mau jalan."
Amri ikut berdiri. Tanpa aba-aba, dia menarik Aini ke dalam sebuah pelukan singkat yang sangat erat. Pelukan pamitan yang merangkum semua rasa sayang, rindu, dan keikhlasan warga Tanah Datar yang tumpah jadi satu.
"Hati-hati di rantau orang, Ni. Jaga diri baik-baik," bisik Amri di telinga Aini.
"Kamu juga ya, Am. Terima kasih buat dua tahun terbaik ini," balas Aini lirih.
Mereka melepaskan pelukan. Di tempat mereka pertama kali bertukar senyum dua tahun lalu, kini mereka saling melepaskan genggaman tangan. Aini berbalik dan berjalan cepat menuju pintu bus tanpa menoleh lagi, takut pertahanannya runtuh saat menapak tangga bus.
Amri berdiri terpaku di tepi peron. Dia melambaikan tangan saat bus pariwisata besar itu perlahan bergerak, membelah gerbang keluar Terminal Dobok menuju jalan raya lintas Sumatera. Bersama kepulan asap knalpot yang membubung ke langit Batusangkar yang mulai temaram, kisah dua tahun itu resmi melesat pergi. Menyisakan Amri, kenangan manis, dan sudut terminal yang kini terasa sangat sepi.
Aini duduk di kursi nomor 12, tepat di dekat jendela bus PO NPM yang mulai bergerak perlahan membelah gerbang keluar Terminal Dobok. Tubuhnya bersandar pada sandaran kursi yang dingin. Dadanya terasa sesak luar biasa. Dia memberanikan diri menatap keluar jendela, menangkap bayangan Amri yang berdiri terpaku di tepi peron, makin lama makin mengecil, lalu sepenuhnya hilang saat bus berbelok tajam di Simpang Kiambang.
Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh tanpa kendali, membasahi kaca jendela bus yang mulai berembun oleh AC.
Aini membuka tas ranselnya, meraba selembar tiket bus tujuan Jakarta yang terlipat rapi, lalu beralih menatap layar ponselnya yang mati sengaja dia matikan sejak naik ke armada. Dia takut pertahanannya runtuh jika melihat pesan masuk atau panggilan dari Amri.
Bus bergerak mantap melintasi jalanan Limo Kaum. Di luar sana, lampu-lampu toko dan rumah warga Batusangkar mulai menyala satu per satu, berpendar di bawah langit senja yang temaram. Setiap sudut kota ini seolah berteriak memanggil nama Amri.
"Maafkan aku, Am..." bisik Aini lirih, suaranya teredam oleh deru mesin bus yang menderu konstan.
Pikiran Aini melayang pada percakapan berat dengan ibunya dua minggu lalu di rumah mereka yang tak jauh dari Istano Basa Pagaruyung. Kalimat ibunya masih terngiang jelas: "Ni, rantau adalah jalanmu. Keluarga di Jakarta sudah menyiapkan tempat kerja yang bagus. Amri anak yang baik, tapi masa depanmu tidak bisa digantungkan pada ketidakpastian di sini."
Aini tahu Amri berjuang keras dengan usahanya di Batusangkar, tapi desakan ekonomi dan restu keluarga besar yang tak kunjung berpihak membuat Aini tidak punya pilihan lain selain melangkah pergi.
Bus kini mulai menanjak, melewati kawasan Batu Batikam. Aini menatap ke arah luar, membayangkan Amri mungkin benar-benar akan duduk sendirian di warung kopi sekitar sana malam ini, persis seperti yang cowok itu katakan tadi sambil bercanda. Candaan Amri yang selalu berusaha membuatnya tertawa, bahkan di saat-saat paling menyakitkan sekalipun, justru membuat hati Aini makin teriris. Dua tahun ini Amri tidak pernah absen merawat senyumnya.
Aini meraba saku jaketnya. Jarinya menyentuh sebuah benda kecil berbentuk persegi. Dia mengeluarkannya. Sebuah gantungan kunci kayu berbentuk payung biru kecil—hadiah sederhana yang diberikan Amri saat perayaan satu tahun hari jadi mereka di pelataran Benteng Van der Capellen.
Aini memeluk gantungan kunci itu erat-erat ke dadanya. Bus terus melaju, meninggalkan Tanah Datar yang makin jauh di belakang, bergerak menuju pelabuhan penyeberangan yang akan membawanya ke pulau seberang.
Di dalam remang kabin bus malam itu, Aini menyadari satu hal. Dia memang sedang berjalan menuju masa depan yang cerah di Jakarta, tetapi sebagian besar hatinya telah tertinggal abadi di sudut Terminal Dobok, bersama seorang lelaki yang melepasnya dengan keikhlasan paling tulus.
***
Tiga tahun berlalu. Batusangkar masih mempertahankan pesona tenangnya, meski beberapa sudut kota tampak lebih bersolek. Sore itu, langit di atas Simpang Kiambang tampak bersih, menyisakan semburat jingga yang hangat.
Aini melangkah turun dari angkot merah tepat di depan gerbang Terminal Dobok. Langkah kakinya terasa agak ragu. Seragam kantor khas ibu kota yang biasa ia kenakan kini berganti dengan pakaian santai, namun penampilannya jauh lebih matang dibanding tiga tahun lalu saat ia pergi membawa air mata.
Tuntutannya untuk pulang kali ini adalah menghadiri pernikahan sepupunya di dekat pelataran Istano Basa Pagaruyung. Namun, sebelum menuju ke rumah keluarga, kakinya seolah menuntunnya kembali ke tempat ini. Tempat di mana seluruh ceritanya berawal dan berakhir.
Terminal Dobok masih sama. Deru mesin bus antarprovinsi dan aroma aspal khas peron langsung menyambut indra penciumannya. Aini berjalan pelan menuju deretan bangku panjang di area tunggu. Di sana, di sudut dekat loket yang dulu menjadi saksi perpisahan mereka, ia berhenti. Kenangan tiga tahun lalu berputar kembali seperti film usang.
"Nunggu angkot ke Pagaruyung juga?"
Sebuah suara bariton yang sangat familier memecah lamunan Aini. Suara yang selama tiga tahun ini hanya bisa ia dengar lewat rekaman memori di kepalanya.
Aini tersentak, lalu membalikkan badannya cepat.
Amri berdiri di sana, hanya berjarak dua meter darinya. Potongan rambutnya lebih rapi, badannya tampak sedikit lebih tegap, dan ia mengenakan kemeja kasual yang membuatnya terlihat dewasa. Namun, ada satu hal yang tidak berubah: cengiran khas dan tatapan matanya yang selalu hangat.
Aini terpaku, tenggorokannya mendadak kering. "Amri...?"
Amri melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di depan Aini. Ia melirik tas jinjing yang dibawa Aini, lalu tersenyum tipis. "Lama gak kelihatan. Gimana Jakarta? Macetnya lebih parah dari pasar pekan kita, kan?"
Mendengar celetukan itu, pertahanan Aini runtuh. Tawa kecilnya lolos bersamaan dengan genangan air yang mendadak muncul di sudut matanya. "Kamu ya... masih aja gak berubah."
"Berubah kok. Sekarang aku udah gak merokok lagi," sahut Amri sambil menepuk kantong kemejanya yang kosong, mencoba mencairkan kecanggungan yang sempat menggantung di antara mereka.
Mereka akhirnya duduk berdua di bangku panjang itu. Persis seperti tiga tahun lalu, namun kali ini tanpa beban berat yang menggelayuti pundak. Jarak beberapa sentimeter di antara mereka kini tidak lagi terasa seperti jurang yang menakutkan, melainkan ruang kedewasaan yang telah mereka bangun masing-masing.
"Aku dengar dari anak-anak Limo Kaum, usaha kedai kopimu dekat Batu Batikam makin sukses ya, Am?" tanya Aini, menoleh menatap profil samping wajah Amri.
"Alhamdulillah, Ni. Pelan-pelan. Berkat doa orang-orang baik juga, termasuk kamu mungkin," jawab Amri tulus. Ia membalas tatapan Aini. "Kamu sendiri? Kelihatannya udah jadi orang sukses di rantau."
"Gak sesukses itu, Am. Cuma bertahan di kerasnya kota orang," Aini tersenyum sendu, lalu menunduk menatap jemarinya. "Maaf ya, Am... soal tiga tahun lalu. Aku benar-benar gak punya pilihan saat itu."
Amri menggeleng pelan. Ia meraba saku celananya, lalu mengeluarkan sesuatu yang membuat jantung Aini berdesir hebat. Sebuah gantungan kunci kayu berbentuk payung biru kecil yang warnanya sudah agak memudar—gantungan kunci yang sama dengan yang dibawa Aini di dalam tasnya.
"Gak ada yang perlu dimaafkan, Aini. Terminal Dobok ini dulu memisahkan kita karena kita butuh waktu buat tumbuh masing-masing. Kamu ngejar impianmu, dan aku ngebuktiin kalau aku bisa berdiri di kaki sendiri," kata Amri lembut, suaranya terdengar sangat matang. "Kita berpisah baik-baik di sini, dan lihat... kita ketemu lagi di sini dengan keadaan yang jauh lebih baik, kan?"
Aini menatap gantungan kunci itu, lalu beralih ke mata Amri. Rasa bersalah yang selama tiga tahun ini mengganjal di dadanya perlahan menguap, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa. Terminal yang dulu menjadi tempat paling menyakitkan dalam hidupnya, sore ini berubah menjadi tempat yang penuh kedamaian.
Tiba-tiba, sebuah angkot merah berhenti di depan peron, sang sopir berteriak menjajakan rute. "Pagaruyung! Pagaruyung! Kosong dua lagi!"
Amri berdiri, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Aini bangkit. "Tuh, angkotmu udah datang. Jangan sampai kemalaman sampai rumah."
Aini menyambut uluran tangan Amri, merasakan kehangatan yang sama seperti dulu. Mereka berjalan beriringan menuju angkot. Sebelum naik, Aini berbalik dan menatap Amri dengan senyum terbaik yang pernah ia miliki.
"Am, besok-besok... boleh aku mampir ke kedai kopimu?" tanya Aini, penuh harap.
Amri tersenyum lebar, senyuman yang membuat matanya menyipit jenaka. "Pintu kedai selalu terbuka buat pelanggan dari Jakarta. Apalagi kalau datangnya pas hujan, nanti aku pinjamin payung biru lagi."
Aini tertawa renyah, lalu melangkah masuk ke dalam angkot. Saat angkot itu mulai bergerak meninggalkan Terminal Dobok menuju arah Pagaruyung, Aini menatap keluar jendela. Amri masih berdiri di sana, melambaikan tangan. Namun kali ini, tidak ada lagi kepedihan yang tertinggal di peron. Terminal Dobok telah menyelesaikan tugasnya sebagai tempat perpisahan, dan kini, ia bersiap menjadi saksi untuk sebuah awal yang baru.***
.png)