Hujan Berkah Di Pasar Malam
Aroma
berondong jagung manis dan minyak goreng dari gerobak pedagang
martabak telur berbaur dengan wangi tanah kering yang terbakar sisa panas siang
hari. Malam itu, lapangan terbuka di Nagari Tigo Jangko berubah menjadi lautan
cahaya. Lampu-lampu pijar berwarna-warni digantung melintang, berayun pelan
ditiup angin malam yang membawa hawa sejuk dari perbukitan sekitarnya. Musik
dangdut dari pelantang suara komidi putar bersahut-shutan dengan teriakan
histeris para penumpang kora-kora yang berayun tinggi menembus langit malam.
Nagari Tigo Jangko malam ini terasa begitu hidup, jauh
lebih ramai dibanding nagari-nagari tetangga lainnya. Sebagai pusat pendidikan
dengan berbagai sekolah yang berjejer serta denyut ekonomi dari kawasan
peternakan ayam ras yang luas, perputaran uang dan manusia di sini memang
selalu tinggi. Pasar malam selalu menjadi pesta rakyat yang paling
ditunggu-tunggu warga setempat.
Amrizal berjalan lambat dengan kedua tangan terbenam di
saku celana kainnya. Di usianya yang sudah berkepala lima, guru es-em-pe itu
merasa agak asing berada di tengah keramaian ini. Namun, dinding-dinding
rumahnya yang terlalu sepi sejak kepergian sang istri dua tahun lalu kerap kali
terasa menghimpit. Menghilangkan suntuk, begitulah alasannya melangkah kaki ke
pasar malam ini, sekadar menjadi pengamat di tengah kegembiraan orang lain.
"Pak Amrizal?"
Sebuah suara perempuan yang lembut memecah lamunan
Amrizal tepat di depan wahana bianglala. Amrizal menoleh dan mendapati seorang
wanita dewasa berdiri memegangi tangan seorang anak perempuan kecil berusia
sekitar lima tahun. Wanita itu tersenyum ramah, menyipitkan mata seolah
memastikan penglihatannya di bawah temaram lampu pasar malam.
"Masni?" Amrizal mengernyitkan dahi sebelum
seulas senyum mengenali terbit di wajahnya yang mulai bergaris. "Astaga,
sudah berapa belas tahun tidak bersua? Kamu sudah sebesar ini."
"Hampir lima belas tahun, Pak, sejak saya tamat
es-em-pe," Masni tertawa kecil, sedikit membungkuk hormat. "Ini putri
semata wayang saya, Pak. Namanya Kayla. Kayla…, salim sama Pak Guru mama semasa
sekolah dulu."
Anak kecil bergaun merah itu mengulurkan tangan dengan
malu-malu. Amrizal menyambutnya dengan hangat, lalu kembali menatap Masni.
Pandangannya tidak sengaja terjatuh pada jemari kiri Masni yang polos tanpa
cincin. Entah mengapa, ada gurat kelelahan yang sama di matanya dengan apa yang
biasa Amrizal lihat di cermin setiap pagi.
"Datang berdua saja, Masni? Suamimu mana?"
tanya Amrizal pelan, berusaha terdengar biasa.
Masni tersenyum tipis, ada jeda sejenak sebelum ia
menjawab. "Kami sudah lama berdua saja, Pak. Ayah Kayla sudah tiada tiga
tahun yang lalu karena sakit. Kalau Ibuk... bagaimana kabarnya, Pak?"
Amrizal mengembuskan napas perlahan, senyum simpul
menghias bibirnya. "Ibukmu juga sudah mendahului, Masni. Dua tahun lalu.
Jadi, kita rupanya berstatus sama sekarang. Menjalani takdir
masing-masing."
Masni tertegun. Dua pasang mata itu saling bertatapan,
membagi sebuah rasa pengertian yang tidak butuh banyak kata. Di antara riuh
rendah manusia yang berdesakan membeli tiket wahana, dua orang dari masa lalu
ini mendadak menemukan sebuah pulau sunyi yang senasib.
Namun, ketenangan itu mendadak buyar oleh perubahan alam
yang drastis. Angin malam yang semula sepoi-sepoi tiba-tiba berembus kencang,
menerbangkan debu-debu lapangan dan membanting terpal-terpal lapak pedagang.
Aroma tanah basah yang pekat menyeruak seketika. Belum sempat para pengunjung
menyadari, langit Tigo Jangko seolah tumpah. Hujan lebat langsung mengguyur
tanpa ampun, tanpa rintik peringatan terlebih dahulu.
"Ayo, berteduh ke sana!" seru Amrizal setengah
berteriak, mengalahkan suara gemuruh air yang menghantam bumi.
Suasana pasar malam langsung berubah menjadi kekacauan
yang riuh. Lampu-lampu pijar bergoyang hebat, beberapa di antaranya padam
seketika karena korsleting, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang panik.
Operator bianglala dengan tergesa-gesa menurunkan penumpang yang menjerit
ketakutan di atas sana. Pedagang pakaian sibuk menarik kain-kain dagangan
mereka, sementara minyak di wajan penggorengan berdesis keras saat bersentuhan
dengan air hujan.
Amrizal dengan sigap memayungi kepala Kayla dengan jaket
katunnya yang dilepas cepat. Ia menuntun Masni dan putrinya menerobos kerumunan
orang yang berlarian, menuju ke bawah tenda besar sebuah lapak penjual jam
tangan yang tampak agak kokoh.
Di bawah naungan terpal yang bergetar hebat dihantam air,
mereka bertiga berdiri berimpitan dengan belasan pengunjung lain. Hujan turun
begitu deras hingga pemandangan pasar malam di depan mereka mengabur,
menyisakan pendar lampu-lampu warna-warni yang berpendar aneh di atas genangan
air yang mulai meninggi dan berlumpur. Kayla yang kedinginan mulai merengek,
memeluk erat kaki ibunya. Amrizal melihat tubuh kecil itu menggigil. Tanpa
ragu, ia berlutut menyamakan tinggi badannya.
"Kayla suka es krim?" tanya Amrizal lembut,
mencoba mengalihkan perhatian bocah itu dari suara guntur. Dari saku jaketnya
yang tidak terlalu basah, Amrizal mengeluarkan sebungkus permen susu yang
sempat ia beli di dekat gerbang tadi. "Pak Guru tidak punya es krim, tapi
punya permen ajaib penolak dingin."
Mata Kayla berbinar. Ia mengambil permen itu dan langsung
merobek bungkusnya dengan bantuan Masni. Ketakutan di wajah anak itu perlahan
surut, digantikan oleh kunyahan pelan yang menikmati rasa manis. Anak itu
kemudian bersandar tenang di paha ibunya, mulai mengantuk karena alunan suara
hujan.
Amrizal kembali berdiri tegak, tepat di samping Masni.
Jarak mereka begitu dekat hingga kehangatan tubuh masing-masing bisa
mengalahkan tampias angin malam yang basah.
"Tigo Jangko selalu begini kalau musim hujan, Pak.
Tiba-tiba saja lebat," Masni membuka percakapan, matanya menatap lurus ke
arah genangan air di lapangan.
"Benar. Tapi setidaknya hujan malam ini membuat
tanah lapang ini istirahat sejenak dari bising," jawab Amrizal dengan
suara berat yang menenangkan. Ia menoleh ke arah Masni. "Bagaimana hidupmu
setelah suamimu tiada, Masni? Mengurus anak sendiri di nagari yang sesibuk ini
pasti tidak mudah."
Masni menghela napas panjang, tersenyum getir.
"Awalnya terasa runtuh, Pak. Tapi hidup harus berjalan. Untungnya usaha
peternakan ayam peninggalan almarhum di dekat perbatasan nagari masih jalan.
Kesibukan itu yang menyelamatkan waras saya. Kalau Bapak sendiri? Rumah besar
itu... pasti terasa sangat luas sekarang?"
Amrizal terkekeh pelan, namun ada nada getir yang samar.
"Terlalu luas, Masni. Kadang-kadang bunyi tik-tok jam dinding terdengar
seperti guntur karena rumah itu terlalu sepi. Setiap pulang mengajar dari
sekolah, saya sering duduk di beranda sampai magrib, bingung harus mengobrol
dengan siapa."
Masni memutar tubuhnya, menatap wajah Amrizal yang kini
diterangi sisa cahaya lampu kuning toko jam. "Bapak tidak berniat mencari
teman hidup lagi? Bapak masih sehat, masih gagah untuk mengajar beberapa tahun
lagi."
Amrizal menatap balik mata Masni. Ada keheningan yang
dalam di antara mereka, terpisah dari gemuruh hujan di luar terpal.
"Menemukan seseorang yang bisa mengerti sisa umur kita itu tidak mudah,
Masni. Di usiaku sekarang, yang dicari bukan lagi gejolak, tapi ketenangan.
Seseorang yang mau mendengarkan cerita tentang murid-muridku di sekolah, atau
sekadar minum teh bersama di hari hujan seperti ini."
Masni merasakan dadanya berdesir. Kata-kata Amrizal
meruntuhkan sudut sunyi di hatinya yang selama tiga tahun ini dikunci
rapat-rapat. "Saya juga merasakan hal yang sama, Pak. Dunia luar mengira
saya kuat karena bisa mengelola peternakan dan mengurus Kayla sendiri. Tapi
setiap malam, saat Kayla sudah tidur... kesepian itu datang tanpa permisi. Saya
rindu dilindungi. Rindu ada suara laki-laki yang menyambut saat saya
pulang."
Hujan di luar perlahan-lahan mulai mereda, berubah
menjadi gerimis tipis yang membasahi bumi Tigo Jangko. Suara petir sudah
menjauh, digantikan oleh suara tetesan air yang jatuh dari ujung-ujung terpal.
Di sela-sela hawa dingin yang kian menusuk, Amrizal memberanikan diri
mengulurkan tangannya yang hangat, menyentuh punggung tangan Masni yang sedikit
bergetar karena dingin.
Masni tidak menarik tangannya. Ia justru membalikkan
telapak tangannya, membiarkan jemari Amrizal bertautan di sana, saling memberi
kehangatan yang tulus.
"Masni," bisik Amrizal, suaranya melembut,
selembut gerimis di luar. "Hujan malam ini mungkin menyudahi pasar malam
lebih cepat. Tapi bagi saya, hujan ini seperti sengaja turun untuk menahan kita
di sini. Agar kita tidak saling melepaskan lagi."
Masni menatap tautan tangan mereka, lalu mendongak
menatap sepasang mata Amrizal yang teduh. Senyuman termanis yang sudah
bertahun-tahun hilang kini terbit di bibirnya. "Kalau begitu, Pak...
jangan lepaskan lagi. Temani saya dan Kayla melewati malam-malam hujan
berikutnya..."
Amrizal tersenyum, matanya berbinar penuh harap yang baru. Ia menggendong Kayla yang sudah tertidur lelap ke dalam dekapan dadanya, sementara tangan satunya menggandeng erat jemari Masni. Mereka melangkah keluar dari bawah tenda, berjalan bersama menembus sisa gerimis Tigo Jangko. Pasar malam itu mungkin telah usai karena badai, namun di atas tanah berlumpur nagari itu, sebuah kisah cinta yang dewasa, hangat, dan penuh penyembuhan baru saja dimulai. ****

Posting Komentar untuk "Hujan Berkah Di Pasar Malam"