Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menyibak Kabut di Batas Kampung (Bagian Keempat)

Saat jari telunjuk Pak Yudi menyentuh dahi Doni, waktu seolah berhenti. Suara angin yang menderu dan teriakan panik warga di sekitar lapangan mendadak senyap. Kesadaran Pak Yudi melesat masuk menembus ruang batin, melakukan terawang, masuk ke alam jiwa untuk menjemput roh muridnya.

Ilustrasi gambar (Mode Ai)

Di dalam alam sukma Doni, suasananya sungguh mencekam. Tempat itu tampak seperti hamparan tanah gersang yang terbakar, diselimuti kabut merah darah yang pekat. Di tengah-tengah ruang batin tersebut, tampak Doni kecil sedang menangis ketakutan di dalam sebuah sangkar duri gaib. Di atas sangkar itu, sesosok macan raksasa hitam dengan mata berapi, manifestasi dari kutukan Palasik Rimbo, sedang menjaganya sambil menyeringai licik.

"Berani sekali kau menyerahkan nyawamu sendiri ke tempatku, manusia sombong!" raung siluman macan itu, suaranya menggetarkan seluruh jagat batin.

Pak Yudi berdiri tegak. Di alam sukma ini, ia tidak lagi berwujud guru sekolah berpakaian sederhana. Ruhnya memancarkan cahaya putih keemasan yang berkilau murni, mengenakan jubah putih bersih dengan tasbih cendana yang melingkar besar di dadanya. Pancaran energinya begitu teduh, kontras dengan hawa panas membara di tempat itu.

"Aku tidak menyerahkan nyawa, aku hanya menjemput anakku yang kau sandera," jawab Pak Yudi tenang, suaranya bergaung penuh wibawa spiritual.

Siluman macan itu mengamuk, melompat menerjang dengan cakar gaib yang bisa merobek jiwa. Pak Yudi tidak menghindar. Beliau mengangkat tangan kanannya, memutar tasbih cendana, lalu menghantamkan telapak tangannya ke depan.

Wusss!

Sebuah gelombang cahaya berbentuk huruf-huruf rajah suci melesat, berbenturan keras dengan cakar si siluman. Ledakan energi gaib membuat alam sukma itu berguncang hebat. Pak Yudi merasakan hantaman balik yang membuat ruhnya agak meredup, efek dari sisa luka batin di dunia nyata tadi. Namun, beliau menolak menyerah. Tatapannya beralih pada Doni yang menangis di dalam sangkar.

"Doni! Lihat Bapak!" seru Pak Yudi, memanggil nama asli muridnya dengan getaran frekuensi batin yang tinggi. "Jangan takut. Ingat pelajaran kita tadi pagi? Dirimu itu suci, seperti angka nol yang siap menerima kebaikan. Jangan biarkan rasa takutmu memberi kekuatan pada makhluk ini!"

Mendengar suara gurunya yang begitu dikenal dan menenangkan, tangis Doni mereda. Ingatan tentang ruang kelas yang hangat dan senyum Pak Yudi perlahan memicu secercah cahaya putih kecil dari dalam dada bocah itu. Cahaya ketulusan seorang anak.

Melihat mangsanya mulai melawan, siluman macan itu kembali meraung dan hendak mencabik sangkar Doni. Pak Yudi tidak membuang waktu. Beliau menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, memusatkan seluruh sisa energi tirakatnya yang paling murni.

"Yaa Lathiif... Yaa Hafizh..." bisik Pak Yudi.

Seketika, tubuh ruh Pak Yudi membesar dan memancarkan gelombang cahaya putih yang luar biasa terang, laksana matahari terbit yang mengusir malam. Cahaya makrifat itu menghantam siluman macan Palasik Rimbo. Makhluk hitam itu melengking kesakitan, tubuhnya yang terbuat dari sisa dendam dan energi hitam perlahan-lahan menguap, terkikis habis oleh hawa sejuk nan suci ilmu Pak Yudi.

Blarrr!

Sangkar duri itu hancur berantakan. Pak Yudi segera melangkah maju, mendekap Doni kecil ke dalam pelukannya yang hangat. "Ayo pulang, Nak. Kelas matematika kita belum selesai."

Gaspp!

Di dunia nyata, Doni mendadak menghirup napas dalam-dalam seolah baru saja keluar dari air yang dalam. Matanya kembali normal, urat hitam di lehernya memudar, dan batu hitam di genggamannya seketika retak lalu hancur menjadi debu biasa. Tubuh kecilnya lemas dan langsung roboh ke depan.

Pak Yudi dengan sigap menangkap tubuh Doni. Wajah sang guru tampak sangat pucat, dan setitik darah kembali menetes dari hidungnya akibat kelelahan batin yang luar biasa.

Warga yang melihat hal itu langsung berhamburan mendekat dengan perasaan lega bercampur takjub. Namun, sebelum ada yang sempat bertanya tentang keajaiban yang baru saja terjadi, kerumunan warga terbelah.

Seorang pria paruh baya dengan kemeja dinas rapi melangkah maju. Beliau adalah Pak Wardi, sang Kepala Desa. Alih-alih terkejut, tatapan Pak Wardi saat melihat Pak Yudi justru penuh dengan rasa hormat dan pengertian yang mendalam. Pak Wardi mendekat, lalu dengan perlahan memegang pundak sang guru yang sedang kelelahan.

"Biar warga yang mengurus Doni, Uda Yudi," bisik Pak Wardi pelan, menggunakan panggilan akrab yang tidak pernah didengar warga lain. "Anda sudah berjuang terlalu banyak untuk kampung ini sejak tadi malam. Istirahatlah."

Pak Yudi mendongak, menatap Kepala Desa, lalu tersenyum tipis sambil mengangguk lemah. Rupanya, di kampung pelosok itu, ada satu orang yang selama ini tahu siapa sebenarnya sang guru matematika mistis tersebut. *** (Bersambung…)

Posting Komentar untuk "Menyibak Kabut di Batas Kampung (Bagian Keempat)"