Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menyibak Kabut di Batas Kampung (Bagian Kelima/Tamat)

Malamnya, suasana kampung telah kembali tenang. Doni sudah sadar penuh dan dirawat dengan baik oleh keluarganya. Di sebuah rumah kayu sederhana di ujung kampung, Pak Yudi duduk di teras belakang yang menghadap langsung ke hamparan sawah. Wangi kopi hitam bercampur aroma minyak kayu putih menguar di udara. Di hadapannya, duduk Pak Wardi, sang Kepala Desa, yang baru saja meletakkan cangkir kopinya.

Ilustrasi gambar (Mode Ai)

"Minum dulu kopinya, Uda Yudi. Biar tenaga batinmu cepat pulih," ujar Pak Wardi, suaranya merendah agar tidak terdengar sampai ke halaman depan.

Pak Yudi tersenyum tipis, lalu menyesap kopi hangatnya perlahan. "Terima kasih, pak Kepala Desa. Maaf tadi siang di lapangan membuat sedikit kegaduhan."

Pak Wardi menggelengkan kepala cepat. "Kegaduhan apa? Kalau tidak ada pak Guru, Doni tidak akan selamat, dan kampung ini mungkin sudah porak-poranda sejak malam sebelumnya. Warga memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi saya tahu persis siapa yang membentengi kampung ini."

Pak Yudi terdiam sesaat, memandangi tasbih cendana yang tergeletak di atas meja. "Saya tidak menyangka, Pak Guru masih mengenali ilmu dari surau tua Bukit Kesumbo, pak Kepala Desa."

Pak Wardi tersenyum penuh arti, lalu merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah cincin dengan batu akik hitam pekat yang memancarkan guratan cahaya keperakan yang sangat tipis.

"Bagaimana mungkin saya lupa, Uda?" Pak Wardi meletakkan cincin itu di meja. "Dua puluh tahun lalu, di surau tua itu, kita sama-sama mengaji pada guru yang sama. Pak Guru adalah murid kesayangan yang berhasil menyerap ilmu batin suci …. Sedangkan saya? Saya memilih jalur keduniawian, turun ke kota, lalu kembali ke kampung ini untuk jadi kepala desa."

Pak Yudi mengangguk pelan, matanya menerawang mengingat masa lalu mereka sebagai saudara seperguruan. "Guru selalu berpesan, di mana pun kita ditempatkan, kita harus menjadi pelayan masyarakat. Kamu melayani mereka dengan kebijakan dan jabatan, sedangkan saya... saya hanya ingin menjaga tunas-tunas muda kampung ini lewat papan tulis."

"Tapi bebanmu jauh lebih berat, Uda Yudi," potong Pak Wardi dengan tatapan penuh rasa hormat. "Menghadapi kiriman ilmu hitam dari dukun luar, lalu tadi siang harus melebur sukma demi menyelamatkan raga bocah kecil. Uda bisa saja kehilangan nyawa jika ruh Uda terjebak di sana."

"Itu sudah menjadi kewajiban seorang guru, pak Wardi," jawab Pak Yudi lembut namun sangat tegas. "Saat orang tua murid menitipkan anak-anak mereka di sekolah, saya tidak hanya bertanggung jawab membuat mereka pintar matematika. Saya juga bertanggung jawab menjaga keselamatan jiwa dan batin mereka selama mereka berada di bawah pengawasan saya."

Pak Wardi menghela napas panjang, merasa takjub dengan kerendahan hati saudaranya itu. "Lalu, bagaimana dengan sisa-sisa pengikut Angku Dancin di seberang sana? Apakah mereka akan berhenti?"

Pak Yudi menatap hamparan sawah yang gelap, lalu tersenyum teduh. "Dendam tidak akan selesai jika dibalas dengan dendam, Angku. Energi batin semalam sudah membersihkan hati Angku Dancin. Jika pengikutnya datang lagi, biarlah cahaya fajar dan doa anak-anak sekolah kita yang menjadi bentengnya. Tugas kita hanya istikamah dalam kebaikan."

Pak Wardi mengangguk paham. Ia memakai kembali cincin akiknya, lalu berdiri dari kursinya. "Baiklah, Uda Guru. Saya pamit dulu. Besok pagi saya harus memastikan warga bergotong royong membersihkan lapangan sekolah. Istirahatlah yang cukup. Kampung ini beruntung memiliki guru sepertimu."

Pak Yudi mengantar sahabat lamanya itu sampai ke pintu depan. Setelah Pak Wardi menghilang di kegelapan malam, sang guru kembali ke meja kerjanya. Di bawah pendar lampu teplok yang temaram, ia membuka kembali buku tugas matematika murid-muridnya, memberi nilai dengan telaten, siap untuk mengajar kembali keesokan harinya sebagai seorang guru biasa yang penuh kasih.*** (Tamat)

Posting Komentar untuk "Menyibak Kabut di Batas Kampung (Bagian Kelima/Tamat)"