Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Melodi Di Luar Batas (Bagian Kesatu)

Bagi orang lain, cermin adalah alat untuk memeriksa penampilan. Bagi Anya, cermin adalah tempatnya memakai topeng. Anya menatap pantulan dirinya. Seragam putih abu-abu SMA Pelita Kasih yang ia kenakan tampak tanpa cela. Kerahnya kaku disetrika rapi, logo OSIS terpasang simetris, dan rambut hitamnya dikuncir kuda dengan presisi yang membosankan. Di atas meja belajarnya, tumpukan buku tebal bertuliskan Panduan Tembus FK UI dan Simulasi SNBT 2026 berjejer seperti benteng pertahanan yang siap mengurungnya seumur hidup.

Ilustrasi gambar (Mode Ai)

"Anya! Sarapan sudah siap. Jangan lambat, Ibu ada jadwal operasi jam delapan!" suara melengking Renita, ibunya, menembus pintu kamar.

"Iya, Bu. Sebentar," jawab Anya pelan.

Anya menghela napas, membuat kaca cermin di depannya sedikit berembun. Ia membuka laci meja paling bawah, menggeser beberapa tumpukan sertifikat olimpiade sains, lalu mengambil sebuah buku catatan kecil bersampul biru pudar. Di sanalah Anya yang asli hidup. Bukan Anya si juara umum paralel, melainkan Anya yang jemarinya selalu gatal ingin merangkai nada dan kata.

Ia menyelipkan buku itu ke dasar tas sekolahnya, tepat di bawah buku tebal Biologi Sel, lalu bergegas turun.

Di ruang makan, atmosfer selalu terasa seperti ruang sidang. Renita, dengan blender berisi smoothie hijau dan tablet yang menampilkan jadwal pasien, bahkan tidak mendongak saat Anya duduk.

"Ibu lihat hasil simulasi Kimia kamu kemarin. Kenapa bisa turun ke 96, Anya?" Renita membuka suara tanpa basa-basi. "Dua poin hilang itu fatal untuk ukuran Fakultas Kedokteran."

Anya meremas sendoknya. "Soalnya agak menjebak kemarin, Bu. Tapi Anya masih peringkat satu di angkatan."

"Peringkat satu di sekolah bukan jaminan nasional," potong Renita dingin, akhirnya menatap Anya dengan mata tajamnya. "Ibu sudah telepon lembaga bimbingan belajarmu. Mulai minggu depan, jam les kamu ditambah sampai jam sembilan malam. Ibu tidak mau ada toleransi untuk kelalaian sekecil apa pun."

Sampai jam sembilan malam. Itu artinya, waktu tiga puluh menit yang biasanya Anya gunakan untuk menyendiri di kamar sambil memetik gitar kecilnya akan lenyap.

"Baik, Bu," bisik Anya. Ia menelan rotinya yang tiba-tiba terasa seperti pasir.

Pada menit yang sama di sudut lain kota, Devan sedang mempertimbangkan apakah ia harus melompati pagar berduri setinggi dua meter atau menyerahkan diri ke guru piket.

Ia memilih yang pertama.

Dengan satu hentakan kaki di atas tempat sampah besar, Devan melesat ke atas pagar, menyeimbangkan tubuhnya yang jangkung, lalu melompat turun ke area halaman belakang sekolah yang terbengkalai. Sialnya, ujung celana abu-abunya tersangkut kawat, menciptakan robekan kecil di dekat lutut.

"Satu celana lagi jadi korban," gerutu Devan, menepuk-nepuk debu di seragamnya yang tidak dimasukkan ke dalam celana. Dasinya entah tersimpan di mana, dan rambutnya yang agak gondrong mencuat berantakan.

Ia berjalan santai menuju gedung belakang, mengabaikan fakta bahwa bel masuk sudah berbunyi satu jam yang lalu. Kantung mata Devan menghitam. Semalam ia bekerja sif penuh di kedai kopi 24 jam sampai pukul tiga pagi, lalu harus terjaga lagi jam lima pagi untuk memastikan adiknya sudah meminum obat asma sebelum berangkat sekolah.

Langkah kaki Devan berhenti di depan sebuah ruangan semi-basement yang pintunya sudah mengelupas. Ruang latihan band The Zenith.

Saat ia membuka pintu, sebuah stik drum melayang hampir mengenai hidungnya.

"Lo dari mana aja, Dev?! Kita bisa gila!" Reno, sang drummer, berteriak frustrasi dari balik set drumnya. Di sudut ruangan, Leo sang gitaris sedang menyandarkan kepalanya ke dinding dengan lesu.

"Gue kerja, Ren. Santai," kata Devan sambil melempar tasnya ke sofa usang. "Kenapa lagi? Muka lo berdua kayak ayam kena flu burung."

"Gavin resmi keluar dari band," kata Leo tanpa mengubah posisinya. "Dia ikut bokapnya pindah tugas ke Jambi hari ini. Kita nggak punya keyboardis, dan yang paling parah... dia bawa semua draf lagu yang mau kita kirim ke Rock Festival 2026."

Devan tertegun. Jantungnya berdegup lebih kencang. Rock Festival 2026 adalah taruhan terakhirnya. Jika mereka menang, ada hadiah uang tunai yang cukup untuk melunasi biaya pengobatan adiknya selama enam bulan ke depan, ditambah kesempatan kontrak demo dengan label rekaman.

"Kita bikin lagu baru," ucap Devan tegas.

"Pakai lirik apa, Dev?" Reno mendengus. "Lirik buatan lo? Yang isinya makian semua? Kurator festival itu nyari lagu yang punya estetika, punya jiwa. Bukan lagu tawuran."

Devan terdiam. Reno benar. Devan bisa membuat melodi rock yang menghentak, tapi kepalanya terlalu penuh dengan tagihan rumah sakit dan aroma kopi untuk bisa menulis lirik yang puitis.

Aroma buku tua dan karbol selalu berhasil menenangkan saraf Anya yang tegang. Di perpustakaan sekolah yang sepi saat jam pulang, Anya duduk di meja paling pojok dekat jendela. Ia baru saja menyelesaikan tiga puluh soal latihan fisika, dan kepalanya terasa mau pecah.

Anya mengeluarkan buku catatan birunya. Ia memandangi halaman yang masih setengah kosong, lalu jemarinya mulai menuliskan baris demi baris kata yang mendesak ingin keluar dari dadanya.

Aku memakai mahkota yang kalian tempa,

Berdiri di podium yang kalian sebut surga,

Tapi mengapa di sini begitu dingin?

Aku bernapas, tapi tak pernah merasa hidup.

Lepaskan sayap emas ini, biarkan aku jatuh ke bumi...

Tinnn! Tinnn!

Suara klakson mobil yang sangat ia kenal terdengar dari gerbang depan. Jantung Anya mencelos. Itu ibunya. Renata tidak pernah suka menunggu lebih dari tiga menit.

Dengan panik, Anya memasukkan buku-buku fisikanya ke dalam tas, memakai ritsletingnya dengan terburu-buru, lalu berlari keluar perpustakaan tanpa menoleh lagi.

Ia tidak menyadari, buku catatan biru itu masih tergeletak pasrah di atas meja kayu perpustakaan.

Lima menit setelah Anya pergi, Devan berjalan mengendap-endap masuk ke perpustakaan. Itu adalah tempat persembunyian terbaik dari kejaran Pak Bagus, guru BK yang sedang merazia murid-murid berambut gondrong.

Perpustakaan sudah kosong. Devan berniat tidur di kursi pojok sampai sekolah benar-benar sepi. Namun, saat ia hendak duduk, matanya menangkap sebuah benda asing di atas meja. Sebuah buku catatan kecil berwarna biru.

"Punya siapa nih? Ketinggalan?" gumam Devan.

Didorong rasa penasaran yang iseng, Devan membukanya. Ia berniat mencari nama pemiliknya di halaman depan, namun matanya justru tertuju pada tulisan tangan yang rapi di halaman terakhir yang masih basah oleh tinta pulpen.

Devan membaca baris demi baris tulisan itu. Awalnya ia hanya membaca sekilas, namun pada baris ketiga, ia menegakkan tubuhnya.

Aku bernapas, tapi tak pernah merasa hidup.

Lepaskan sayap emas ini, biarkan aku jatuh ke bumi...

Devan seperti tersengat listrik. Melodi gitar yang sejak seminggu lalu berputar-putar di kepalanya tiba-tiba menemukan pasangannya yang sempurna. Lirik ini bukan sekadar kata-kata manis remaja; ini adalah jeritan frustrasi yang dikemas dengan sangat indah. Lirik yang selama ini dicari oleh The Eclipse.

Devan membalik halaman depan buku itu dengan cepat, mencari tahu siapa orang jenius yang menulis ini. Di pojok kanan bawah halaman pertama, tertulis sebuah nama dengan tinta hitam:

Anya - XI MIPA 1.

Devan menatap nama itu, lalu tersenyum miring. "Anya si juara umum? Nggak mungkin..." (Bersambung....)

Posting Komentar untuk "Melodi Di Luar Batas (Bagian Kesatu)"