Melodi Di Luar Batas (Bagian Kedua)
Anya merasa seolah separuh nyawanya tertinggal di sekolah. Sepanjang malam, ia tidak bisa fokus menatap papan tulis digital di tempat les. Pikirannya melayang ke meja pojok perpustakaan. Sial. Buku itu bukan sekadar catatan biasa; itu adalah kotak pandora berisi seluruh rahasia, ketakutan, dan jati diri Anya yang paling rapuh. Jika ibunya atau pihak sekolah menemukan buku itu, tamatlah riwayatnya.
Maka, di sinilah Anya sekarang. Pukul enam lewat lima
belas menit pagi, ia sudah berdiri di depan pintu perpustakaan SMA Pelita Kasih yang bahkan belum dibuka oleh petugas.
Begitu pintu dibuka pada pukul enam lewat tiga puluh,
Anya langsung melesat ke meja pojok. Kosong. Ia memeriksa kolong meja,
sela-sela rak buku di dekatnya, hingga tempat sampah di sudut ruangan. Nihil.
Buku catatan birunya lenyap tanpa bekas.
Jantung Anya bertalu hebat. Keringat dingin mulai
membasahi pelipisnya.
"Nyari ini, Tuan Putri?"
Sebuah suara berat yang familier, namun asing di telinga
Anya, terdengar dari arah pintu masuk fiksi remaja. Anya menoleh cepat.
Devan berdiri di sana, bersandar pada rak buku dengan
santai. Satu tangannya dimasukkan ke saku celana, sementara tangan lainnya
memegang sebuah buku catatan biru pudar, menggoyangkannya pelan di udara.
"Itu punya gue!" Anya melangkah maju, tangannya
terulur untuk merebut buku itu.
Namun, dengan refleks yang cepat, Devan mengangkat buku
itu tinggi-tinggi di atas kepala jangkungnya. Anya yang bertubuh mungil
terpaksa berjinjit, namun tetap tidak bisa mencapainya.
"Balikin, Devan!" desis Anya, suaranya tertahan
agar tidak menarik perhatian petugas perpustakaan di depan. "Lo nggak
berhak ngambil barang orang lain!"
"Gue nggak ngambil, gue menyelamatkan," koreksi
Devan santai. Ia menurunkan tangannya, tapi langsung memasukkan buku itu ke
dalam tas ranselnya sendiri yang resletingnya terbuka. "Dan sebagai
penyelamat, gue rasa gue berhak dapat imbalan."
"Lo mau uang? Berapa? Sebut aja," kata Anya
cepat, matanya berkilat cemas sekaligus marah.
Devan terkekeh sinis. "Uang? Nggak semua hal di
dunia ini bisa lo beli pakai duit nyokap lo, Anya. Gue nggak butuh duit
lo."
"Terus lo mau apa?!"
Devan mengedarkan pandangan ke sekeliling perpustakaan
yang mulai didatangi satu-dua murid. "Ikut gue. Tempat ini terlalu tenang
untuk transaksi kita."
Devan membawa Anya ke area bawah tangga gedung
kesenian, tempat yang jarang dilewati orang karena gelap dan hanya berisi
meja-kursi rusak. Anya melipat tangan di dada, menatap Devan dengan tatapan
penuh permusuhan.
"Gue tahu lo penulis liriknya," kata Devan
langsung, menatap lurus ke manik mata Anya. "Lirik yang lo tulis...
tentang merpati bersayap emas. Itu gila. Bagus banget."
Anya menegang. Wajahnya memucat. "Lo... lo
baca?"
"Semuanya. Sampai halaman terakhir," aku Devan
tanpa rasa bersalah. "Gue nggak nyangka, Anya yang selalu dapet nilai
seratus, yang mukanya lempeng kayak robot di kelas, ternyata punya jiwa
se-pemberontak ini."
"Stop, Devan. Balikin buku itu atau gue laporin lo
ke ruang BK karena pencurian!" ancam Anya, suaranya bergetar.
"Laporin aja," tantang Devan, maju satu langkah
hingga jarak mereka terkikis. "Tapi taruhannya, isi buku ini bakal
menyebar ke grup angkatan. Atau lebih seru lagi... gue kirim langsung ke nomor
WhatsApp nyokap lo. Kira-kira gimana reaksi Dokter Renita kalau tahu anak
kebanggaannya pengin 'jatuh ke bumi' dan ogah jadi dokter?"
Anya merasa oksigen di sekitarnya mendadak habis. Devan
tahu kelemahannya. Sialan, cowok ini benar-benar berbahaya. "Lo bajingan,
Dev," bisik Anya dengan kebencian yang nyata.
"Gue cuma memanfaatkan keadaan," ralat Devan,
senyum miringnya kembali muncul. "Gini, Anya. Gue punya penawaran yang
adil. Band gue, The Zenith, butuh penulis lirik dan keyboardis untuk Rock Festival 2026. Lo gabung sama kita, tulisin lagu buat kita sampai
kompetisi selesai dua bulan lagi. Setelah itu, buku ini balik ke tangan lo
dengan aman. Rahasia lo terjamin."
"Nggak mungkin!" Anya menolak keras. "Gue
nggak punya waktu buat main band nggak jelas kayak gitu! Jadwal les gue padat,
gue harus belajar buat SNBT!"
"Gue tahu nilai matematika simulasi terakhir lo cuma
dapat 78 karena lo nggak paham bab kalkulus lanjut," potong Devan tenang.
Anya tertegun. "Kok lo..."
"Gue emang sering bolos, tapi gue selalu dapet nilai
sempurna kalau mau ujian matematika. Lo butuh mentor buat kalkulus tanpa harus
buang waktu les sampai jam sembilan malam. Gue bisa ajarin lo trik cepatnya
dalam tiga puluh menit tiap selesai latihan band. Gimana?" Devan
mengulurkan tangannya. "Lo dapet buku lo kembali + nilai matematika lo
aman. Gue dapet lagu buat nyelametin band gue. Win-win solution."
Anya menatap tangan Devan yang kapalan akibat bekerja
paruh waktu dan bermain gitar. Di kepalanya, bayangan wajah ibunya yang kecewa
berkelebat, kontras dengan keinginannya yang mendalam untuk mendengar kata-kata
yang ia tulis berubah menjadi melodi nyata.
Ini adalah keputusan paling gila dalam hidup Anya yang
membosankan.
Anya menarik napas dalam-dalam, mengabaikan uluran tangan
Devan, namun menatapnya dengan tajam. "Identitas gue harus dirahasiakan
dari semua orang. Termasuk dari anak-anak band lo. Di kertas, nama gue harus
disamarkan."
Senyum Devan mengembang lebar. Ia menarik kembali tangannya. "Deal. Selamat bergabung di The Thenith, Tuan Putri." *** (Bersambung....)

Posting Komentar untuk "Melodi Di Luar Batas (Bagian Kedua)"