Tamu Tak Diduga (Bagian kesatu) - Engsel pintu rumah sederhana di pinggir jalan raya itu berderit kecil. Perlahan pintu yang terbuat dari kayu itu terkuak. Seorang lelaki tua muncul di balik pintu. Menuruni dua anak tangga dengan hati-hati. Pak Supri, lelaki itu tidak bepergian. Ia hanya sekadar duduk berjuntai di bangku emperan depan yang sandarannya langsung ke dinding rumah.
Rumah panggung rendah di pinggir jalan itu tampak unik. Kecil dan mungil. Menyamping arah jalan raya dan berada di antara rumah-rumah permanen yang berderet di sepanjang jalan raya dusun Kapas di Kabupaten Saelok.
Dinding rumah panggung kediaman pak Supri terbagi dua bagian. Sekitar setinggi duduk orang dewasa, dinding rumah terbuat dari papan. Selebihnya merupakan anyaman aur.
Anak tangga rumah panggung itu hanya dua buah sehingga kolong rumah panggung itu juga tidak begitu tinggi.
Satu jendela terbuat dari kayu dan menghadap ke jalan raya terlihat terbuka. Namun pintu masuk dan tangganya menyamping posisi jalan raya. Rumah dengan atap seng mode segitiga itu sebenarnya belum lengkap disebut rumah karena memang tidak memiliki dapur.
Pagar bambu melingkup rumah dan pekarangannya. Di pekarangan yang tidak terlalu luas itu ditanami beberapa sayuran seperti terung, pare dan oyong.
Menjelang senja itu, pria yang mengenakan peci hitam itu hanya sekadar mencari angin. Menoleh ke jalan raya yang lagi ramai dilewati orang-orang berkendaraan roda dua maupun roda empat.
Sesekali pak Supri di sapa oleh orang yang lewat dengan memanggil ramah dari atas motornya. Ada juga yang menyapanya dengan membunyikan klaskson kendaraannya. Pak Supri membalasnya dengan senyuman kecil, mengangguk atau melambaikan tangan.
Meskipun sudah agak tua, penampilannya terlihat masih rapi. Batik dan stelan sarung yang dikenakannya, menunjukkan dulunya ia bukan orang sembarangan. Apalagi kulitnya yang putih meskipun sudah mulai keriput.
Sebuah mobil Avanza berwarna hitam, berhenti di pinggir jalan dekat pintu masuk pagar pekarangan. Pak Supri menoleh dan memperhatikan mobil itu dengan seksama. Ia hanya melongo ketika melihat seorang laki-laki berkaca mata hitam turun dari mobil. Pak Supri benar-benar tidak mengenal orang itu.
"Siapa gerangan orang itu? Apakah ia akan mampir ke rumah saya?" Pak Supri bertanya dalam hati.*** (Bersambung...)
.png)