-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Rayuan Gombal Kelas Teri

| Rabu, Juli 08, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-08T02:29:04Z
Beni dan Aldo sudah bersahabat sejak MOS, tetapi persahabatan itu hancur berantakan demi satu nama: rona merah pipi Citra, siswi baru pindahan Jakarta.
Ilustrasi gambar (Mode Ai/ Cerana Kata)

Siang itu di kantin SMA 1 Melodi, meja nomor empat menjadi medan perang. Citra duduk di tengah, menikmati es teh manis, sementara Beni dan Aldo duduk mengapitnya seperti dua pengawal pribadi yang kurang gizi.

"Citra, kamu tahu enggak bedanya kamu sama kuah bakso ini?" Beni memulai serangan fajar, menatap Citra dengan mata dikedip-kedipkan secara paksa.

Citra mengunyah tahu sumedangnya. "Enggak tahu. Apa?"

"Kalau kuah bakso menghangatkan mangkok, kalau kamu menghangatkan hatiku," bisik Beni, bangga dengan kreativitasnya.

Aldo mendengus keras, hampir menyemburkan es jeruknya. "Basi, Ben! Itu gombalan zaman Majapahit." Aldo langsung berbalik menghadap Citra, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari. 
"Cit, kalau aku jadi gubernur, hal pertama yang aku lakukan adalah menghapus semua lampu merah."

"Kenapa?" tanya Citra bingung.

"Supaya jalan kita menuju pelaminan enggak ada hambatan." Aldo mengedipkan sebelah matanya.

Beni tidak mau kalah. Ia langsung berdiri di atas kursi kantin, menarik perhatian seluruh umat manusia di sana. "Citra! Demi kamu, aku rela lari keliling lapangan bola sepuluh kali siang ini juga!"

"Cuma sepuluh kali? Lemah!" Aldo ikut berdiri di atas meja. "Citra! Demi kamu, aku rela makan mi ayam level mampus dicampur ulekan cabai rawit lima puluh biji!"

"Oh ya? Aku rela telat masuk kelas Bu Retno demi beliin kamu cilok di depan gerbang!" tantang Beni lagi, urat lehernya sampai keluar.

"Aku rela push-up pakai satu jari di depan ruang kepala sekolah!" balas Aldo makin tidak masuk akal.
Suasana kantin mendadak riuh. Murid-murid lain mulai bersorak dan bertepuk tangan, memprovokasi kedua cowok yang sudah kehilangan akal sehat itu. Citra hanya bisa melongo, memegangi dahinya yang mendadak pening melihat kelakuan dua mahluk di hadapannya.

Tepat saat Beni bersiap meneriakkan janji palsu berikutnya, sebuah bayangan tinggi besar beraroma minyak angin cap kapak berdiri di belakang mereka.

"Beni, Aldo. Bagus ya, pahlawan kesiangan," suara bariton itu menggelegar.

Itu Pak Bambang, guru BK paling ditakuti se-kabupaten.

Beni dan Aldo membeku di atas meja. Sorak-sorai kantin langsung hening seketika.

"Tadi Bapak dengar ada yang mau lari keliling lapangan dan push-up di depan ruang kepala sekolah?" Pak Bambang tersenyum, jenis senyuman yang membuat bulu kuduk merinding. "Kebetulan fisik kalian sedang prima. Sekarang, lakukan berdua. Tiga puluh putaran!"

Tanpa nolak, Beni dan Aldo langsung turun dari meja dan lari terbirit-birit menuju lapangan dengan wajah pucat pasi.

Citra menghela napas lega, kembali meminum es teh manisnya dengan tenang. Tak lama kemudian, seorang cowok berkacamata dengan seragam rapi datang menghampiri mejanya dan duduk di kursi yang tadinya ditempati Beni.

"Cit, nih buku catatan Kimia yang kamu pinjam tadi," kata cowok itu sambil tersenyum manis.

"Eh, makasih ya, Don," jawab Citra sambil membalas senyumannya tidak kalah manis. "Untung kamu pintar, enggak kayak dua orang aneh yang barusan dihukum itu."

Di tengah lapangan yang terik, Beni dan Aldo sedang berlari berdampingan sambil ngos-ngosan. Dari kejauhan, mereka melihat Citra berjalan berdua ke perpustakaan bersama Doni, si juara umum sekolah.
Beni menoleh ke Aldo sambil memegangi pinggangnya yang encok. Do, kayaknya kita salah strategi."
Aldo menyeka keringat di dahinya. "Bukan salah strategi, Ben. Kita cuma kurang otak."
*****
Beni dan Aldo resmi melakukan gencatan senjata. Musuh dari musuhku adalah temanku. Demi meruntuhkan takhta Doni si juara umum, dua pemuda minim prestasi ini menyusun rencana rahasia di pojok perpustakaan yang diberi nama: Operasi Sabotase Doni.

"Langkah pertama," bisik Beni sambil mencoret-coret buku tulis. "Kita harus bikin Doni kelihatan bego di depan Citra. Citra kan suka cowok pintar."

"Gimana caranya?" tanya Aldo penasaran.

"Besok ulangan Fisika Pak Jaka. Kita tukar kacamata Doni dengan kacamata minus sepuluh punya nenek gua!"

Keesokan harinya, rencana itu berjalan mulus saat Doni pergi ke toilet sebelum bel masuk. Aldo bertugas menjaga pintu, sementara Beni mengeksekusi penukaran kacamata di kelas. Ketika Doni kembali dan memakai kacamatanya, ia langsung menabrak pintu kelas.

"Aduh, kok mendadak dunia jadi melengkung begini?" gumam Doni sambil meraba-raba meja.

Saat ulangan dimulai, Doni yang buram total terpaksa menembak semua jawaban acak. Beni dan Aldo tersenyum puas di bangku belakang. Di akhir pelajaran, Citra menghampiri meja Doni dengan wajah heran.

"Don, tadi kamu nomor lima jawabannya apa? Kok aku lihat kamu ngisi 'C' semua dari atas sampai bawah?" tanya Citra.

Beni langsung menyela dengan percaya diri, "Aduh Cit, Doni lagi pusing paling. Sini aku jelasin nomor lima. Rumus gaya itu kan F = m x a. F itu Force, m itu massa, kalau 'a' itu... Aku yang selalu ada untukmu."

Citra memutar bola matanya, "Itu Fisika, Ben, bukan gombalan kelas teri."
Meskipun gombalan Beni gagal, misi menjatuhkan Doni berhasil. Nilai ulangan Fisika Doni keluar hari itu juga: 35. Rekor nilai terendah dalam sejarah hidup Doni. Citra tampak geleng-geleng kepala melihat kertas ulangan Doni.

"Sukses besar, Ben!" bisik Aldo sambil tos di bawah meja. "Doni sudah turun takhta!"

Saat jam istirahat, Beni dan Aldo dengan seragam yang sengaja dirapikan berjalan tegap menghampiri Citra yang sedang membaca buku di taman sekolah. Doni tidak terlihat di mana pun, kemungkinan sedang menangis di ruang OSIS.

"Hai Citra," sapa Aldo sambil bersandar di pohon mangga, mencoba berpose keren walau punggungnya tertusuk rating. "Daripada baca buku terus, mending nanti sore kita jalan yuk? Aku yang traktir seblak."

"Enggak, mending sama aku aja Cit, kita nonton bioskop. Aku sudah beliin tiketnya nih," potong Beni sambil memamerkan dua lembar tiket dari sakunya.

Citra menghela napas panjang. Ia menutup bukunya dengan keras, membuat Beni dan Aldo tersentak. Citra berdiri, menatap kedua cowok itu bergantian dengan pandangan serius.

"Beni, Aldo. Kalian berdua itu sebenarnya kenapa sih?" tanya Citra.

"Kami cuma mau jadi cowok yang terbaik buat kamu, Cit," jawab Beni dengan nada puitis.

Citra menggelengkan kepala, lalu tersenyum tipis. "Kalian enggak perlu repot-repot bersaing kayak gini. Jujur, dari awal aku pindah ke sekolah ini, perhatian aku cuma tertuju sama satu orang."

Jantung Beni dan Aldo berdegup kencang. Mereka saling sikut. Siapa yang dimaksud Citra? Beni yang berotot? Atau Aldo yang humoris?

"Siapa, Cit? Sebut aja namanya, kami siap berlapang dada," kata Aldo percaya diri.

Citra menunjuk ke arah koridor kelas. Di sana, berjalan seorang pria paruh baya dengan kemeja batik yang dimasukkan rapi, membawa penggaris kayu satu meter, dan wangi minyak angin yang sangat khas.

Pak Bambang. Guru BK mereka.

Beni dan Aldo melongo. Rahang mereka nyaris jatuh ke tanah.

"Maksud kamu... Pak Bambang?!" pekik Beni dengan suara melengking.

"Bukan Pak Bambangnya, ih!" Citra menyilangkan tangannya kesal. "Itu, cowok yang jalan di sebelah Pak Bambang!"

Beni dan Aldo menyipitkan mata. Di sebelah Pak Bambang, berjalan seorang cowok jangkung, tampan, mengenakan jaket kulit hitam di atas seragamnya, dan gaya rambut yang sangat modis.

"Kenalin, itu Rian, pacar aku yang kuliah di Jakarta," kata Citra dengan mata berbinar-binar. "Dia sengaja datang ke sini mau jemput aku sekalian minta izin ke Pak Bambang, karena Pak Bambang itu... om kandung aku."

Rian melambaikan tangan ke arah Citra dari kejauhan, sementara Pak Bambang menatap tajam ke arah Beni dan Aldo sambil memegang penggaris kayunya seolah siap memukul bola kasti.

Beni perlahan menoleh ke arah Aldo. Wajah mereka berdua mendadak pucat, seputih kertas HVS baru.

"Ben," bisik Aldo, suaranya bergetar.

"Apa, Do?"

"Tiket bioskop lu ada dua kan?"

"Iya..."

"Ya udah, sore ini kita berdua aja yang nonton."
*****
Melihat ponakannya diganggu lagi, Pak Bambang berjalan mendekat dengan langkah tegap. Penggaris kayu satu meter di tangan kanannya diketuk-ketuk ke telapak tangan kiri, menghasilkan suara prak... prak... prak... yang membuat lutut Beni dan Aldo langsung lemas.

"Beni, Aldo. Bagus ya. Tugas lari tiga puluh putaran kemarin sepertinya belum membuat otot kalian lelah," suara Pak Bambang menggelegar di taman sekolah.

Rian, pacar Citra, hanya tersenyum canggung sambil mengangguk sopan pada kedua pemuda yang wajahnya sudah pucat pasi itu.

"Eh, Pak Bambang... Anu Pak, kami cuma mau... mau nawarin Citra seblak, Pak. Buat camilan di jalan," Aldo mencoba membela diri dengan alasan paling tidak masuk akal.

"Betul Pak! Sekalian promosi bioskop baru di dekat sini," timpal Beni, menyodorkan dua tiket bioskopnya dengan tangan gemetar, berharap Pak Bambang mendadak ingin nonton film romantis.

Pak Bambang tidak tersenyum. Beliau justru melirik ke arah kantin, lalu kembali menatap Beni dan Aldo.

"Citra, Rian, kalian silakan pulang duluan. Biar dua pahlawan ini Bapak beri tugas khusus agar energi mudanya tidak habis untuk mengganggu wanita," kata Pak Bambang tegas.

"Siap, Om. Eh, maksud saya, terima kasih, Pak. Kami duluan," pamit Rian sambil menggandeng tangan Citra. Citra melambaikan tangan dengan wajah menahan tawa, meninggalkan Beni dan Aldo yang menatap kepergiannya dengan hati yang hancur sekaligus ketakutan.

Setelah Citra dan Rian hilang di balik gerbang sekolah, Pak Bambang melipat kedua tangannya di dada.

"Hukuman kalian kali ini bukan lari," ujar Pak Bambang.

Beni dan Aldo sempat menghela napas lega. Namun, kalimat berikutnya dari Pak Bambang langsung menghancurkan sisa-sisa harapan mereka.

"Sebagai hukuman karena kalian mencurangi Doni sampai nilainya anjlok, ya, Doni sudah melapor ke Bapak tentang kacamata nenekmu, Beni, dan karena kalian berdua kurang kerjaan, mulai hari ini sampai satu minggu ke depan, kalian wajib menjadi Asisten Pribadi Doni."

"Hah?! Jadi asisten Doni, Pak?!" pekik Beni dan Aldo kompak.

"Betul. Kalian harus membawakan tas Doni setiap pagi, membelikan dia siomay setiap istirahat, dan mencatat ulang semua materi Fisika bab satu sampai bab lima ke buku catatan Doni sampai tangisannya di ruang OSIS reda. Kalau Doni komplain satu kali saja, Bapak pastikan kalian berdua ikut remedial massal semua mata pelajaran. Paham?!"

Beni dan Aldo hanya bisa tertunduk lesu. "Paham, Pak..."

Keesokan paginya di koridor sekolah, pemandangan luar biasa terjadi. Doni berjalan dengan dagu terangkat tinggi, tanpa kacamata minus tenatunya karena sudah kembali normal. Di belakangnya, Beni menggendong tas ransel Doni yang super berat penuh buku ensiklopedia, sementara Aldo berjalan di sampingnya sambil mengipasi Doni dengan buku tugas.

"Ben, haus nih. Tolong beliin susu kotak rasa stroberi di kantin ya. Jangan lama, lima menit harus sampai," perintah Doni dengan nada bosan yang dibuat-buat.

Beni menatap Aldo dengan mata berkaca-kaca, menyesali semua perbuatannya. "Do... mending kita pacaran berdua aja kemarin daripada nasibnya begini."

Aldo hanya menghela napas panjang sambil terus mengipasi Doni. "Sudahlah Ben, nikmati saja. Setidaknya, sekarang kita tahu rasa stroberi itu seperti apa."
*****
Kabar tentang runtuhnya harga diri Beni dan Aldo menyebar lebih cepat daripada gosip link ujian bocor. Puncaknya terjadi pada hari Rabu jam istirahat pertama, tepat di dalam kelas XI MIPA 3.

Suasana kelas yang tadinya bising mendadak senyap begitu pintu digeser. Doni melangkah masuk dengan gaya angkuh bak CEO muda, sementara di belakangnya, Beni dan Aldo berjalan menunduk seperti dua orang pengawal yang sedang magang.

"Beni, taruh tas saya di kursi. Hati-hati, ada laptop dan masa depan saya di dalam situ," perintah Doni sambil melambaikan tangan dengan elegan.

"Siap, Bos Doni," jawab Beni dengan suara lemas, menurunkan tas ransel seberat sepuluh kilogram itu dari pundaknya yang mulai encok.

"Aldo, siomay saya mana? Kok belum ada di meja?" Doni mengetuk-ngetuk jarinya.

Aldo langsung maju, menyodorkan sebungkus siomay plastik lengkap dengan garpu kecil. "Ini, Bos. Bumbunya dipisah, kolnya diganti tahu, sesuai aplikasi."

Melihat pemandangan itu, seisi kelas langsung pecah.

"Woi, Ben! Biasanya lu malakin anak-anak pakai muka sangar, sekarang kok jadi selembut sutra?" teriak Galang dari bangku belakang, disusul tawa menggelegar dari murid-murid cowok.

"Do! Itu kipasnya kurang kencang! Nanti Bos Doni kegerahan terus lapor Pak Bambang, bisa nangis darah lu berdua!" sahut Riko sambil melempar bungkus kuaci ke arah mereka.

Ika, sang ketua kelas yang biasanya paling takut dengan Beni, langsung mengeluarkan ponselnya. "Bentar, bentar. Jangan bergerak! Ini momen langka, harus difoto buat kenang-kenangan di buku album tahunan. Judulnya: Tobatnya Dua Preman Sekolah Demi Cinta Seblak."

Cekrek! Cekrek! Lampu kilat ponsel Ika membuat Beni refleks menutupi wajahnya dengan buku Fisika.

"Woi, hapus enggak! Jangan bikin reputasi gua hancur di depan adek kelas!" bisik Beni dengan muka merah padam, menahan malu yang amat sangat.

"Reputasi apa, Ben? Reputasi lu udah hanyut ke selokan sejak lu ngerayu Citra pakai rumus Fisika palsu!" ledek Galang lagi, membuat seisi kelas makin riuh bertepuk tangan.

Doni yang duduk di bangkunya hanya tersenyum puas, menikmati status barunya sebagai penguasa tertinggi di kelas. Ia membuka buku catatan Fisikanya yang kini sudah terisi rapi dari Bab 1 sampai Bab 5 berkat tulisan tangan Beni dan Aldo yang mirip cakar ayam.

"Beni, Aldo," panggil Doni, membuat kedua cowok itu menoleh pasrah. "Besok saya ada tugas merangkum Sejarah Indonesia 20 halaman. Tolong dibagi dua ya. Kerjakan malam ini."

Beni dan Aldo saling berpandangan. Di pojok kelas, mereka melihat Citra sedang berjalan melewati koridor, tertawa bahagia sambil membalas pesan singkat di ponselnya, mungkin dari Rian, pacarnya yang anak kuliahan itu.

Beni menghela napas berat, menatap Aldo yang matanya sudah berkaca-kaca akibat lelah mengipasi Doni selama dua jam pelajaran.

"Do," bisik Beni lirih.

"Apa lagi, Ben?"

"Gua kangen masa-masa kita dihukum lari keliling lapangan."

"Sama, Ben... Setidaknya kalau lari, yang capek cuma kaki. Kalau ini, yang capek jiwa dan raga." *** (Selesai)