Malam di pinggang aliran Sungai Batang Kapuah berganti rupa menjadi teror yang mencekam. Kabut tebal sisa hujan sore tadi merayap rendah, menyelimuti pucuk-pucuk pohon damar dan rimbunnya hutan rimba yang mengepung kampung. Di sebuah dusun Minangkabau yang baru saja terkoyak oleh sisa-sisa perang saudara PRRI, sunyi bukan lagi sebuah ketenangan. Sunyi adalah kecemasan yang berjaga.
Ilustrasi gambar (Mode Ai)
Sutan Mantiko duduk bersila di sudut beranda rumah panggungnya. Tangannya yang gemetar menggosokkan minyak kelapa yang telah dimantrai ke bilah keris pusaka warisan ninik mamaknya. Di sampingnya, sebuah kurambik, pisau melengkung pemedas darah, tergeletak dingin. Sudah dua tahun sejak genderang perang PRRI mereda, namun bumi Minang belum sepenuhnya pulih. Banyak lelaki yang tak kembali dari hutan, dan mereka yang pulang membawa trauma yang mendalam.
Namun, malam ini, bukan lagi bayang-bayang tentara pusat atau deru mortir yang mencengkeram dada warga dengan ketakutan yang hebat. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang bergerak di batas rimba.
"Tuan, masuklah. Angin malam ini membawa bau bangkai," suara lirih Nurma, istri Sutan Mantiko, memecah keheningan yang menyiksa dari balik pintu kayu yang mulai rapuh. Nurma sedang hamil tua, perutnya sudah membuncit delapan bulan, sasaran empuk bagi kegelapan yang mengintai.
Sutan menoleh, matanya menatap tajam ke dalam kegelapan rimba. "Sebentar lagi, Nur. Masuklah ke dalam kelambu, jangan putus membaca Ayat Kursi."
Sutan tahu betul, teror ini nyata. Dua hari lalu, kambing milik Pakiah Lelo ditemukan mati di tepi ladang dengan kondisi mengenaskan; badannya utuh, tetapi darahnya habis diisap dari luka kecil di leher. Dan yang paling mengerikan, desas-desus di surau menyebutkan bahwa seorang perempuan di ujung kampung baru saja keguguran secara misterius. Janinnya hilang dari kandungan tanpa ada tanda-tanda pendarahan hebat.
Palasik Rimbo!
Nama itu haram disebut saat matahari terbenam. Di tanah Minangkabau, mereka adalah penganut ilmu hitam kulit hituang yang melepaskan kepala dari badannya demi memperpanjang umur. Mereka bersembunyi di bekas kamp-kamp gerilya PRRI yang kini ditinggalkan dan kembali menjadi rimba belantara yang angker.
Tengah malam tiba. Suasana mendadak menjadi senyap yang mematikan. Angin berhenti berembus. Serangga malam yang biasanya bising tiba-tiba bungkam seolah ketakutan. Udara di dalam rumah panggung itu mendadak berubah menjadi sangat anyir. Bau besi berkarat bercampur busuk bangkai menyeruak hebat, menusuk hidung hingga membuat mual.
Sreeek... sreeek...
Suara seretan kasar terdengar tepat di atas atap rumbia rumah mereka. Jantung Sutan berdegup kencang bak ditabuh bertalu-talu. Ia bangkit tanpa suara, mencengkeram erat hulu keris pusakanya.
Tiba-tiba, dari arah luar jendela yang menghadap langsung ke arah rimba, terdengar suara tawa melengking yang sangat lirih, namun sanggup meremangkan bulu kuduk hingga ke tulang sumsum. Bukan tawa kuntilanak yang keras menggema, melainkan tawa kepuasan yang tertahan, mendesis di sela angin malam.
“Sutaaan... jagolah anakmu... minantu denai katuju darahnyo...”
Sutan membelalak. Sial mampus, itu suara Mak Liah! Perempuan tua sebatang kara yang suaminya tewas dalam pertempuran PRRI bertahun-tahun lalu, yang kini mengasingkan diri ke pondok dekat perbatasan rimba.
Sutan memberanikan diri mengintip dari celah dinding papan. Di luar, di bawah temaram cahaya bulan sepotong, sebuah pemandangan mahadahsyat yang mengerikan membuat darahnya membeku seketika.
Sebuah kepala manusia melayang-layang di udara. Rambutnya yang putih panjang terurai kusut, bergerak-gerak bagai tentakel kelaparan.
Di bawah leher kepala itu, jantung, paru-paru, dan usus menggantung bebas, berdenyut-denyut liar mengeluarkan cahaya merah darah yang menggidikkan. Organ-organ dalam itu bergesekan dengan dinding papan, meninggalkan jejak lendir hitam. Mata kepala itu merah menyala, menatap lurus ke arah kamar tidur Nurma dengan rasa lapar yang tak terbendung!
"Astaghfirullah! Sambia, minong, siriak! Enyah kau dari rumahku!" teriak Sutan, melafalkan mantra penolak bala yang diajarkan gurunya di surau.
Menyadari keberadaannya ketahuan, kepala melayang itu berputar cepat. Wajah Mak Liah yang keriput kini menyeringai lebar hingga sudut bibirnya robek, memperlihatkan taring-taring tajam yang meneteskan air liur berbau busuk. Dengan kecepatan luar biasa, kepala itu melesat membentur jendela papan rumah Sutan dengan kekuatan penuh!
Braaaak!
Papan jendela hancur berkeping-keping. Nurma menjerit histeris dari dalam kamar demi melihat usus yang menjulur masuk melalui celah papan yang patah, bergerak lincah seperti ular yang berusaha menggapai perut buncitnya.
Tanpa berpikir panjang, Sutan melompat. Dengan sisa keberanian yang membakar dada, ia mengayunkan keris pusakanya yang telah dimantrai, menebas tepat ke arah usus yang bergelantungan itu!
Craaassh!
Jeritan melengking yang menyakitkan telinga mengguncang malam, meruntuhkan keheningan dusun. Darah hitam kental menyembur, mengenai wajah Sutan dan menimbulkan rasa perih seperti terbakar. Kepala melayang itu terlempar ke belakang, ususnya yang terpotong bergetar hebat di lantai, mengeluarkan bau busuk yang menyengat. Dengan raungan penuh dendam, kepala itu melesat cepat masuk ke dalam kegelapan Rimbo Minangkabau, menghilang di balik kabut tebal yang pekat.
Pagi harinya, suasana dusun mencekam. Sutan bersama beberapa pemuda, tetua adat, dan Datuak setempat mendatangi pondok Mak Liah di pinggir rimba. Di sana, mereka menemukan pemandangan yang membuat bulu kuduk berdiri: tubuh Mak Liah tergeletak di atas ranjang bambu tanpa nyawa. Lehernya putus rapi seperti disayat, namun tidak ada kepala di sekitarnya. Yang tersisa hanyalah ceceran darah hitam yang telah mengering di lantai, membentuk jejak misterius yang mengarah masuk jauh ke dalam hutan lebat yang tak tersentuh.
Sejak hari itu, perang PRRI mungkin telah usai, namun bagi warga dusun, perang melawan sisa-sisa kegelapan di dalam rimba baru saja dimulai. Mereka tahu, di luar sana, di balik rimbunnya pohon-pohon tua yang berselimut kabut abadi, Palasik Rimbo masih berkeliaran, merayap di kegelapan malam dengan dendam yang membara untuk mencari kepala dan bagian tubuhnya yang hilang.
Sembilan bulan sepuluh hari
Waktu yang dinanti justru menjelma menjadi lonceng kematian yang berdentang kencang di kepala Sutan Mantiko. Malam itu, di atas rumah panggung yang terkepung kabut pekat Rimbo Minangkabau, petir menyambar-nyambar tanpa hujan. Angin kencang menghantam dinding-dinding papan, membuat seluruh bangunan berderit ngeri.
Di dalam kamar yang pengap, Nurma terbujur di atas kasur kapuk, bermandikan keringat dingin. Ia mengerang kesakitan, mencengkeram kain sarung erat-erat. Ketuban telah pecah, tanda jabang bayi mendesak ingin melihat dunia. Di dekat kakinya, seorang bidan kampung tua bernama Mak Tuo Milah berjaga dengan wajah tegang. Tangannya yang keriput sibuk menyiapkan air hangat, namun matanya terus melirik cemas ke arah jendela yang telah dipaku palang kayu berlapis keladi hitam dan daun sirih karang, jimat penolak bala.
"Sutan! Jaga keliling rumah! Darah persalinan ini baunya mengundang petaka!" teriak Mak Tuo Milah, suaranya parau beradu dengan erangan Nurma.
Sutan berdiri di ruang tengah, menggenggam keris pusaka yang kini telah diolesi minyak sambia hitam. Di pinggangnya terselip kurambik. Jantungnya berdegup begitu keras hingga dadanya terasa sesak. Bau anyir darah persalinan mulai menguar di udara rumah, dan Sutan tahu, bau ini adalah undangan terbaik bagi iblis yang lapar.
Benar saja. Tepat saat Nurma menjerit panjang karena kontraksi hebat, angin di luar mendadak mati total. Sunyi senyap yang mencekam langsung menyergap. Lalu, bau busuk bangkai bercampur besi berkarat merayap masuk melalui celah lantai bambu. Bau itu begitu menyengat, membuat mata Sutan perih berair.
Sreeek... sreeek... dug!
Sesuatu yang berat mendarat di atap rumbia. Bukan lagi sekadar seretan, kali ini terdengar suara benturan keras tepat di atas kamar bersalin.
"Dia datang, Sutan! Dia datang!" jerit Mak Tuo Milah panik. Perempuan tua itu langsung melafalkan mantra pambungkang dengan suara bergetar, sementara tangan kanannya menekan perut Nurma yang menegang.
“Hihihi... baranak kau tibo di siko... darahnnyo harum, Sutan... sserahkaannn...”
Suara parau dan melengking itu berbisik tepat di sela-sela atap. Itu suara Mak Liah, sang Palasik Rimbo yang kepalanya ditebas Sutan sebulan lalu. Suara itu kini terdengar berlipat ganda, penuh dendam yang membara.
Braaak!
Atap rumbia di sudut kamar jebol. Sebuah kepala manusia tanpa badan melesat turun dengan kecepatan mengerikan! Wajah Mak Liah tak lagi berbentuk manusia; kulitnya mengerut hitam seperti arang, matanya melotot merah menyala memancarkan kebencian murni, dan mulutnya menganga lebar memperlihatkan taring-taring panjang berlumur lendir kehijauan. Di bawah lehernya, organ dalam, jantung yang berdenyut liar dan usus yang terpotong separuh akibat tebasan Sutan tempo hari, menjulur-julur ke bawah bagai tentakel gurita yang kelaparan, langsung mengarah ke selangkangan Nurma yang sedang berjuang melahirkan!
"Enyah kau, keparat!"
Sutan melompat masuk ke kamar, menerjang maju. Dengan murka, ia mengayunkan keris pusakanya. Namun, kepala itu bergerak secepat kilat. Usus-usus gaibnya mencambuk pergelangan tangan Sutan hingga keris itu terlempar ke sudut ruangan. Kulit Sutan yang terkena cambukan langsung melepuh dan mengeluarkan asap berbau belerang.
Sutan meringis kesakitan, terhempas ke dinding. Palasik Rimbo itu menyeringai, melayang tepat di atas tubuh Nurma yang sudah lemas tak berdaya. Lidah panjang dari kepala itu menjulur, hendak menjilat darah yang mulai keluar.
"Oeeekk... oeeekk...!"
Suara tangis bayi pecah membelah malam. Anak Sutan telah lahir!
Mendengar tangisan itu, Palasik Rimbo itu menjerit kegirangan. Organnya menjulur kasar, siap merenggut paksa nyawa sang bayi. Di saat kritis itu, Mak Tuo Milah dengan berani melemparkan sebaskom air hangat yang telah dicampur dengan air perasan jeruk purut dan cabai rawit tumbuk, pantangan besar ilmu hitam Minang, tepat ke arah wajah makhluk itu.
Szzzzt!
"Aaaaaghhhkkk!"
Kepala Mak Liah menjerit histeris. Wajahnya melepuh parah, mengeluarkan nanah kuning berbau busuk. Makhluk itu berputar-putar di udara dalam kamar, buta sementara karena perih yang luar biasa.
Melihat kesempatan emas itu, Sutan mengabaikan rasa sakit di tangannya. Ia mencabut kurambik dari pinggangnya dengan tangan kiri. Dengan satu lompatan maut yang didorong oleh insting seorang ayah, Sutan menerjang jantungan Palasik yang berdenyut di udara.
Crash!
Sutan menancapkan kurambik sedalam-dalamnya ke jantung melayang itu, lalu menariknya ke bawah hingga membelah organ dalam tersebut menjadi dua.
Raungan yang begitu dahsyat, yang belum pernah terdengar di tanah Minang sebelumnya, mengguncang seluruh dusun. Darah hitam pekat menyembur hebat, mengguyur tubuh Sutan. Kepala Palasik Rimbo itu bergetar hebat di udara, matanya perlahan meredup, sebelum akhirnya seluruh organ dan kepalanya luruh menjadi abu hitam yang bertebaran di lantai kamar.
Napas Sutan memburu, tubuhnya ambruk di samping kasur istrinya, dipenuhi abu hitam dan darah. Suara tangis bayinya kembali terdengar, kali ini terdengar begitu indah di telinganya. Malam itu, di bawah bayang-bayang kelam pasca-perang PRRI, seisi rumah panggung itu menangis lega. Teror mengerikan dari Rimbo Minangkabau akhirnya telah musnah, menyisakan fajar yang perlahan menyingsing di ufuk timur.
Tujuh tahun kemudian
Tujuh tahun telah berlalu sejak malam jahanam ketika abu Palasik Rimbo mengotori lantai rumah panggung Sutan Mantiko. Dusun di pedalaman Minangkabau itu kini tampak lebih tenang, sisa-sisa trauma perang PRRI perlahan terkubur oleh waktu. Namun, di dalam rumah Sutan, sebuah kecemasan baru justru tumbuh dan membesar seiring tumbuhnya anak laki-laki mereka yang diberi nama Suryadi.
Surya tumbuh menjadi anak yang rupawan, namun ada sesuatu yang tidak biasa pada dirinya. Kulitnya pucat layaknya rembulan, dan sepasang matanya berwarna hitam legam tanpa batasan pupil yang jelas. Sejak bayi, Suryadi tak pernah menangis. Ia hanya menatap dunia dengan pandangan dingin yang terlalu dewasa untuk anak seusianya.
Sore itu, gema azan Magrib baru saja bersahut-sahutan dari surau-surau di ujung kampung. Udara meremang, membawa kabut tipis dari arah rimba tua. Nurma berdiri di pintu dapur, wajahnya mendadak pias saat melihat Suryadi duduk bersila di sudut halaman rumah yang mulai gelap.
Di depan anak itu, seekor ayam jantan besar milik tetangga tergeletak tak bergerak.
"Suryadi... apa yang kau perbuat, Nak?" bisik Nurma, suaranya bergetar menahan ketakutan yang teramat sangat.
Suryadi menoleh perlahan. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang terasa ganjil. Di sela-sela jarinya yang mungil, mengalir darah segar yang kental. Yang membuat jantung Nurma seolah berhenti berdetak adalah kondisi ayam tersebut: lehernya robek kecil, dan badannya tampak mengempis kering seolah seluruh darahnya telah tersedot habis.
Malamnya, Sutan duduk termenung di ruang tengah setelah memeriksa bangkai ayam tersebut. Keris pusaka dan kurambik yang dulu membantai Mak Liah kembali diletakkannya di atas meja. Rasa bersalah dan ngeri bercampur aduk di dadanya. Darah hitam Palasik yang dulu mengguyur tubuhnya dan Nurma saat persalinan tampaknya telah meninggalkan "tanda" yang tak kasat mata pada darah daging mereka sendiri.
"Sutan... aku takut," tangis Nurma pecah di sudut kamar. "Setiap tengah malam, aku sering mendapati Suryadi tidur dengan posisi leher yang meregang aneh. Kulit lehernya memerah dan bergaris melingkar, seolah-olah... seolah-olah kepalanya siap terlepas dari badannya."
Sutan memejamkan mata rapat-rapat. Bisikan dendam terakhir Mak Liah sebelum menjadi abu kembali terngiang di telinganya. Ilmu kulit hituang itu tidak musnah; ia mencari wadah baru, dan wadah terbaik adalah janin yang gagal ia isap malam itu.
Tepat pada pukul dua dini hari, saat dusun kembali disergap sunyi yang mematikan, Sutan terbangun karena merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Bau anyir besi berkarat, bau yang sangat ia kenali tujuh tahun lalu, kembali memenuhi rongga kamarnya.
Sutan segera bangkit, mencengkeram keris pusakanya, lalu melangkah cepat menuju kamar Suryadi di bagian belakang rumah.
Pintu kamar Suryadi terbuka sedikit. Sutan mengintip dengan dada yang bergemuruh hebat. Di dalam kamar yang temaram oleh sisa cahaya bulan, tubuh mungil Suryadi tampak terbujur kaku di atas ranjang bambu. Namun, kepala anak itu tidak berada di atas bantal.
Kepala Suryadi melayang sekitar satu jengkal di atas lehernya sendiri.
Garis merah di lehernya menganga, memperlihatkan urat-urat gaib yang berdenyut memancarkan cahaya merah redup. Kepala bocah tujuh tahun itu perlahan berputar menghadap ke arah pintu, menatap langsung ke mata ayahnya. Mata hitam legam itu kini menyala merah darah.
"Ayah..." suara Suryadi terdengar berlapis, perpaduan suara polos seorang anak dan bisikan parau Mak Nurima yang penuh dendam. "Suryadi haus... rimba memanggil Suryadi..."
Sutan jatuh terduduk di ambang pintu, air matanya menetes parah. Senjata di tangannya terasa amat berat. Tujuh tahun lalu, ia menghadapi monster demi menyelamatkan anaknya. Namun malam ini, ia sadar bahwa monster yang paling mengerikan kini hidup dan mengalir di dalam darah anak kandungnya sendiri. Perang sejati di dusun Minangkabau itu baru saja dimulai, bukan lagi melawan musuh dari luar, melainkan melawan kutukan yang bersemayam di dalam rumah mereka sendiri.
Keputusan Sutan sudah bulat. Sebelum fajar menyingsing, ia mengikat leher Suryadi dengan kain kafan putih yang telah diolesi minyak sambia penahan ruh agar kepala bocah itu tidak terlepas lagi. Sutan tahu, hanya ada satu orang yang bisa menyelamatkan anaknya: Datuak Sati, seorang dukun Panti sekaligus tetua adat luhak yang mengasingkan diri di pedalaman Rimbo Panti, kawasan Pasaman.
Perjalanan berhari-hari menembus hutan belantara Minangkabau yang angker itu terasa seperti berjalan menuju gerbang neraka. Selama perjalanan, Suryadi hanya diam, namun matanya yang hitam legam terus menatap tajam ke langit-langit hutan, sementara urat-urat di lehernya berdenyut kasar setiap kali malam tiba.
Ritual Pemutus Darah Hitam
Pada malam ketujuh, mereka tiba di sebuah gubuk panggung yang terbuat dari kayu hitam, tersembunyi di balik pohon-pohon beringin raksasa. Datuak Sati, seorang lelaki tua bermata buta namun memiliki penciuman batin yang tajam, sudah menunggu di beranda.
"Kau membawa wadah iblis yang terluka, Sutan," suara Datuak Sati berat, bergetar bak guntur di malam hari. "Darah Palasik Mak Nurima tidak mati. Ia bersemayam di jantung anakmu. Untuk memutuskan kutukan kulit hituang ini, nyawa harus dibayar nyawa, atau darah harus ditukar darah."
Ritual pembersihan dimulai tepat pada jam satu malam, di tengah kepungan kabut pekat yang berbau belerang. Suryadi dibaringkan di atas selembar tikar pandan kering. Di sekelilingnya, Datuak Sati menancapkan tujuh bilah keris bahari dan menaburkan bunga tujuh rupa yang dicampur darah ayam cemani.
“Hei jin si katuko bumi, singkirkan rupo nan bukan rupo, kembalikan darah nan punyo darah...!” mantra Datuak Sati menggema, memecah kesunyian hutan.
Begitu mantra terakhir diucapkan, tubuh Suryadi mendadak kejang hebat. Matanya melotot putih, dan dari mulut kecilnya keluar lengkingan suara parau Mak Nurima yang memekakkan telinga.
“Tidaaak! Anak ini milikku! Darah kami sudah menyatu!”
Kraaak!
Palang kain kafan di leher Suryadi robek. Garis merah di leher bocah itu menganga lebar, mengeluarkan cahaya merah darah yang menyilaukan. Kepala Suryadi perlahan terangkat tinggi, terlepas dari badannya! Bersamaan dengan itu, usus dan jantung gaib berwarna hitam pekat, wujud kutukan Palasik, menjulur keluar dari lehernya, berusaha mencengkeram dada Sutan yang berjaga di sudut ruangan.
"Sutan! Pegang tubuh anaknya! Jangan biarkan jantungnya berhenti berdetak!" teriak Datuak Sati sambil menghantamkan tongkat kayunya ke lantai.
Sutan melompat, memeluk erat tubuh tanpa kepala milik anaknya yang terus meronta liar. Rasa hangat dan anyir darah gaib membakar kulit lengan Sutan, namun ia tak peduli. Air matanya mengalir deras melihat kepala anaknya melayang-layang di langit-langit gubuk, menjerit kesakitan menahan gempuran mantra Datuak Sati.
Datuak Sati mencabut keris pusaka utamanya. Dengan gerakan cepat yang tak terduga dari seorang tua yang buta, ia menusuk tepat ke arah bayangan hitam di atas tikar, bayangan dari jantung gaik Palasik yang melayang.
Craaash!
Lampu minyak di gubuk langsung padam. Suara ledakan batin berdentum hebat, meruntuhkan sebagian dinding kayu. Bersamaan dengan itu, suara jeritan Mak Nurima melengking tinggi untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya lenyap ditelan angin malam.
Ketika Sutan berhasil menyalakan kembali korek apinya, suasana mendadak senyap. Tubuh Suryadi sudah tidak bergerak. Di atas tikar, kepala bocah itu telah kembali menyatu dengan lehernya. Garis merah yang mengerikan itu kini berubah menjadi bekas luka bakar tipis yang melingkar rapi.
Suryadi perlahan membuka matanya. Kali ini, matanya tidak lagi hitam legam. Pupil matanya telah kembali normal, memantulkan cahaya temaram korek api ayahnya.
"Ayah... Suryadi lapar," bisik bocah itu lirih, suaranya kini sepenuhnya suara seorang anak kecil yang polos.
Sutan menangis sejadi-jadinya, memeluk erat tubuh anaknya. Kutukan darah Palasik Rimbo itu tampaknya telah berhasil diputuskan. Namun, saat Sutan merapikan baju Suryadi, ia tidak menyadari satu hal: di telapak tangan kiri Suryadi, kini terdapat sebuah tanda lahir hitam berbentuk lingkaran kecil, persis seperti bekas luka isapan Palasik.
Iblis itu mungkin telah pergi dari lehernya, namun ia telah meninggalkan "kunci" yang suatu saat bisa terbuka kembali ketika Suryadi dewasa. ***
