Sore itu, ruang tamu mendadak dingin. Secangkir kopi hitam yang menyisakan asap tipis di atas meja menjadi saksi bisu ketegangan sepasang suami istri yang rambutnya mulai memutih itu.
Ilustrasi gambar (Mode Ai/ Cerana Kata)
"Kita harus berpisah, Kak," ulang Nengsih. Kali ini suaranya lebih lantang.
Samir tercenung, tubuhnya terkulai lesu di atas sofa tua. Dadanya sesak. "Apa tidak bisa lagi diperbaiki hubungan kita, Neng?" suara Samir tertahan.
Pikiran Samir melayang pada anak-anak yang sudah dewasa dan sekian orang cucunya. Rasa malu menyergapnya; mengapa di usia senja begini mereka harus meributkan perceraian?
"Tidak! Keputusanku sudah bulat," jawab Nengsih dingin. "Kalau Kakak keberatan, aku yang akan mengajukan gugat cerai ke pengadilan!"
Samir terdiam. Mulutnya terkunci. Jika Nengsih bersikeras, ia hanya bisa pasrah, meski di dalam hati ia membatu: Aku tidak akan pernah mengucapkan kata cerai dari mulutku sendiri. Janji suci masa muda untuk sehidup semati tertanam mati di jiwanya. Namun, ia tak bisa menampik perubahan drastis Nengsih yang memuncak sejak ia pensiun dan rumah mulai sepi.
Saat menatap wajah ketus Nengsih, memori Samir mendadak terlempar ke sebuah malam belasan tahun lalu, awal dari keretakan yang selama ini ia abaikan.
Malam itu, Nengsih pulang dengan mata berbinar membawa surat tawaran promosi untuk memimpin cabang yayasan sosial di kota sebelah. Sebuah impian aktualisasi diri setelah bertahun-tahun mengalah menjadi ibu rumah tangga.
Namun, Samir langsung melempar surat itu ke atas meja. "Tidak ada izin bekerja di luar kota, Neng. Tugasmu di rumah, mengurus aku dan anak-anak!" tegas Samir tanpa celah.
"Tapi anak-anak sudah remaja, Kak! Aku juga ingin punya ruang untuk tumbuh," rintih Nengsih dengan mata berkaca-kaca.
"Uangku masih cukup! Kamu mau pamer atau mau menentang suami?" bentak Samir sepihak.
Nengsih tidak menjawab lagi. Ia melangkah ke kamar mandi, menangis dalam diam di bawah gemercik air. Malam itu, ego kaku Samir membunuh sebagian dari jiwa Nengsih. Ia memilih mengalah, namun luka ditolak dan dikurung itu membusuk menjadi bom waktu.
Kembali ke masa kini, malam harinya suasana meja makan mencekam saat ketiga anak mereka berkumpul mendengar kabar tersebut. Kaca yang sudah retak kini benar-benar akan pecah.
Andi, si sulung, membuka suara dengan nada bergetar. "Ibu, tolong pikirkan lagi. Malu sama tetangga dan saudara kalau Ibu dan Ayah cerai di usia begini."
Nengsih menatap Andi dengan senyum getir. "Memalukan bagi kalian, atau memalukan bagi Ayahmu? Selama tiga puluh tahun, Ibu hidup mengikuti standar Ayah tanpa pernah didengar. Sekarang kalian sudah mandiri. Tugas Ibu sudah selesai."
"Tapi Ibu, apa tidak ada rasa sayang lagi untuk Ayah?" Rina, anak kedua, mulai terisak. "Ayah sudah tua, sudah pensiun. Ayah butuh Ibu."
"Lalu siapa yang memikirkan kebutuhan Ibu selama tiga puluh tahun ini, Rina?" suara Nengsih meninggi. "Ibu lelah menjadi pajangan yang patuh. Ibu ingin bernapas di sisa umur ini."
Samir hanya menunduk, meremas jemarinya di ujung meja. Ia terlambat memahami kekosongan di hati istrinya.
Andi memandang ayahnya yang rapuh, lalu kembali menatap ibunya. "Kami menghargai keputusan Ibu kalau itu satu-satunya cara Ibu untuk bahagia. Tapi... kami memilih untuk tetap tinggal di sini, menemani Ayah."
Rina dan si bungsu mengangguk setuju. Mereka tahu Samir tidak akan bisa bertahan hidup sendirian dengan kondisi fisiknya yang mulai sakit-sakitan. Nengsih tersenyum tipis, ada kegetiran sekaligus kelegaan di matanya. Ia telah melepaskan perannya.
Hanya dalam hitungan hari, segalanya berubah cepat. Sebuah koper besar berpindah ke bagasi mobil, dan Nengsih resmi pergi menuju kampung halamannya untuk hidup bersama sanak familinya. Dari ambang pintu, Samir menatap mobil yang menjauh hingga hilang di tikungan jalan.
Bulan-bulan pertama berlalu seperti angin ribut. Rumah tua itu dipaksa beradaptasi dengan ritme baru yang serba mandiri. Tanpa banyak drama, anak-anak langsung membagi tugas. Andi dan Rina bergantian menyiapkan sarapan sebelum berangkat kerja, sementara si bungsu menemani Samir di malam hari.
Samir sendiri dipaksa keadaan untuk berubah cepat. Ia yang dulu selalu dilayani, kini harus belajar menyeduh tehnya sendiri, melipat pakaian, dan merawat tanaman di teras untuk membunuh sepi. Kehadiran anak-anak menjadi penopang instan yang mencegahnya jatuh ke jurang depresi.
Kini, setahun telah berlalu. Rumah kembali riuh, terutama di akhir pekan saat cucu-cucu datang berkunjung dan memenuhi ruang tengah dengan tawa. Samir menghabiskan masa senjanya dikelilingi anak-cucu yang tulus merawatnya.
Namun, setiap kali malam melarut dan rumah kembali sunyi, Samir akan duduk di teras, menatap kursi kosong di hadapannya. Ia tidak pernah melanggar janji sucinya lewat kata cerai, tetapi ia sadar, takdir memiliki cara yang sunyi untuk menghukum egonya di masa lalu. *****
